RM.id Rakyat Merdeka - Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian integral yang esensial dari kesehatan tubuh secara umum. Pada banyak kasus, keadaan rongga mulut mencerminkan keadaan tubuh secara keseluruhan dan merupakan refleksi dari kondisi kesehatan dan kesejahteraan seorang individu termasuk anak-anak.
Rongga mulut seringkali menjadi indikator awal adanya kelainan sistemik dalam tubuh seseorang. Seorang dokter gigi dapat menjadi orang pertama yang mendeteksi adanya penyakit atau kelainan sistemik dalam tubuh pasiennya.
Penyakit gigi dan mulut dengan prevalensi paling tinggi pada anak
Karies atau gigi berlubang diikuti oleh penyakit periodontal atau penyakit jaringan penyangga gigi, merupakan penyakit gigi dan mulut yang paling banyak dijumpai di masyarakat, termasuk pada anak-anak. Karies gigi adalah penyakit infeksius yang telah menjadi masalah kesehatan yang bersifat global, dan banyak dijumpai di negara-negara maju maupun berkembang termasuk Indonesia.
Terdapat 4 masalah utama pada anak di masa tumbuh kembangnya yaitu obesitas, malnutrisi, alergi dan karies. Penyakit ini mempunya prevalenai 5 kali lebih tinggi dari asma dan 7 kali lebih tinggi dari rhinitis alergika. Prevalensi karies anak Indonesia usia 5 tahun adalah sebesar 90 persen dengan indeks dmft sebesar 7.5.
Sedangkan Oral health country profile yang dikeluarkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa Indonesia merupakan negara peringkat ke dua di Asia Tenggara, yang memiliki total pengeluaran untuk perawatan kesehatan gigi terbesar, setelah Singapura.
Karies gigi pada anak yang tidak dirawat akan menimbulkan dampak yang tidak menguntungkan, antara lain; timbulnya rasa sakit, kemungkinan terjadinya infeksi, gangguan aktivitas sehari-hari, masalah psikomotor, gangguan tumbuh kembang dan penurunan kualitas hidup
Baca juga : BPJS Kesehatan Bahas Penguatan Sistem Anti Kecurangan Melalui Pemanfaatan Teknologi
Implikasi
1. Ibu sebagai role model dalam keluarga
Sebagaimana kita ketahui, anak merupakan individu yang belum mandiri, sehingga masih tergantung dengan sosok dan peran orang tua, terutama ibu dalam melaksanakan aktivitasnya sehari-hari. Ibu merupakan figur penting, role model atau panutan dalam keluarga, khususnya dalam pembentukan karakter dan perilaku putra-putrinya, termasuk perilaku tentang kesehatan gigi dan mulut.
Banyak literatur mengatakan bahwa ibu dengan pengetahuan, sikap dan perilaku tentang kesehatan gigi dan mulut yang baik, akan memberikan dampak positif bagi kesehatan gigi dan mulut putra-putrinya. Sebaliknya, ibu dengan pengetahuan, sikap dan perilaku yang kurang akan berdampak tidak baik pada kesehatan gigi dan mulut putra-putrinya.
Beberapa studi bahkan menggambarkan bahwa kesehatan gigi dan mulut ibu dan anak, merupakan suatu kesatuan yang berada di bawah satu payung. Status oral hygiene ibu, biasanya tidak akan jauh berbeda atau mencerminkan kondisi oral hygiene anaknya. Sebagai contoh misalnya seorang ibu dengan indeks karies atau gigi berlubang yang tinggi, maka biasanya pada anaknya juga akan terdapat banyak gigi yang mengalami karies.
2. Transmisi bakteri penyebab gigi berlubang
Gigi berlubang atau karies merupakan penyakit infeksius yang disebabkan oleh bakteri. Banyak literatur mengatakan bahwa ibu merupakan sumber utama primer dari transmisi atau perpindahan bakteri penyebab gigi berlubang. Bakteri tersebut terutama tinggal di daerah kavitas atau lubang gigi dan pada plak gigi. Transmisi bakteri dapat terjadi melalui 2 jalur, yaitu :
Baca juga : Kunjungan Paus Fransiskus, Bukti Toleransi Dan Kerukunan Antarumat Beragama
Secara vertikal
Terjadi dari ibu ke anak atau pengasuh ke anak. misalnya melalui penggunaan alat makan bersama atau sikat gigi bergantian. Bakteri akan ikut berpindah ke rongga mulut anak. Transmisi bakteri terjadi bila level bakteri dalam rongga mulut ibu berada pada kadar tertentu. Maka dari itu, seorang ibu harus menjaga kebersihan dan kesehatan rongga mulutnya, untuk menghindarkan terjadinya transmisi tersebut.
Secara horisontal
Jalur ini terjadi dari teman-teman anak, yaitu dengan penggunaan alat makan bersama atau sikat gigi bergantian.
3. Manajemen karies berbasis kedekatan hubungan ibu dan anak
Peningkatan pengetahuan, pembentukan sikap dan perilaku yang positif tentang kesehatan gigi dan mulut ibu, merupakan upaya penting menurunkan angka penyakit gigi dan mulut pada anak. Selain itu memelihara kesehatan gigi dan mulut ibu juga merupakan prioritas selain kesehatan gigi dan mulut putra-putrinya. Perawatan kesehatan gigi dan mulut anak, tanpa diikuti perlakuan yang sama pada ibunya, tidak akan memberikan dampak positif yang signifikan.
Dengan kata lain, ibu dan anak harus dijaga kesehatan gigi dan mulutnya dan berada dalam satu paket, khususnya anak usia Balita, pra sekolah atau tahap awal Sekolah Dasar.
Baca juga : Ahmad Ali Bikin Pemeriksaan Kesehatan Gratis Bagi Korban Banjir Di Sulteng
Selain itu, perlu dipertimbangkan pula untuk dilakukan penelitian dengan cara mengukur pengetahuan dan memeriksa kesehatan gigi dan mulut ibu, dan hasilnya dapat digunakan sebagai pedoman promosi dan pencegahan penyakit gigi dan mulut anak di suatu daerah tertentu.
Perlu kerja sama dan peran aktif masyarakat khususnya ibu dan anak untuk menunjang tercapainya program Kementerian Kesehatan RI pada tahun 2015, yaitu anak Indonesia usia 12 tahun bebas karies pada tahun 2030.
Oleh: Dr. drg. Sri Ratna Laksmiastuti Octavian, Sp.KGA
Penulis adalah dokter gigi spesialis kedokteran gigi anak, Staf Pengajar FKG Universitas Trisakti
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.