BREAKING NEWS
 

Gen Z Dan Alpha Jadi Ujung Tombak Puisi Esai

Reporter & Editor :
ADITYA NUGROHO
Selasa, 17 Desember 2024 15:02 WIB
Diskusi Puisi Esai Goes to Gen Z. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Generasi Z dan Alpha kini menjadi ujung tombak dalam menjaga dan mengembangkan eksistensi sastra, khususnya puisi esai.

Hal ini disimpulkan dari diskusi panel bertajuk “Puisi Esai Goes to Gen Z”, yang merupakan bagian dari rangkaian Festival Puisi Esai Jakarta ke-2 di Taman Ismail Marzuki pada 13-14 Desember 2024.

Acara ini menghadirkan pembicara seperti Okky Madasari (OM Institute), Jonminofri Nazir (coach puisi esai untuk Gen Z), dan Gol A Gong (Duta Baca Indonesia). Diskusi tersebut menyoroti pentingnya merangkul Gen Z, generasi yang lahir antara 1997 hingga 2010, sebagai penerus tradisi sastra yang adaptif di tengah era digital.

Baca juga : Memperbincangkan Angkatan Puisi Esai

Menurut Okky Madasari, meskipun Gen Z hidup di era digital, mereka tetap membaca buku dan memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap hal baru. Hal ini diamini oleh Gol A Gong, yang menyebut generasi ini lebih terbuka terhadap isu-isu sosial dan kemanusiaan.

“Sejak dini, mereka bisa bersaksi melalui puisi esai tentang hal-hal yang menggelisahkan dan masalah kemanusiaan yang mereka lihat atau rasakan,” kata Denny JA, penggagas puisi esai, dalam diskusi tersebut.

Adsense

Kepekaan Gen Z terhadap ketidakadilan, diskriminasi, dan isu-isu kemanusiaan menjadikan mereka cocok untuk menyuarakan kegelisahan melalui puisi esai. Hal ini terbukti dari terbitnya 18 buku puisi esai yang ditulis oleh 362 penulis Gen Z dari Aceh hingga Papua tahun ini. Setiap buku berisi 20 puisi esai yang masing-masing hanya sepanjang 500 kata.

Baca juga : Kota Kinabalu Dinobatkan Sebagai Ibu Kota Puisi Esai

Denny JA menekankan, puisi esai terbuka untuk semua kalangan, termasuk mereka yang bukan penyair. “Yang bukan penyair boleh ambil bagian untuk menulis puisi esai,” ujarnya. 

Pendekatan ini telah menarik banyak Gen Z untuk terlibat, termasuk mereka yang sebelumnya mengikuti program Kakak Asuh dan terus menulis puisi esai secara mandiri.

Selain itu, program “Puisi Esai Goes to Gen Z” yang diluncurkan akhir tahun ini akan terus berlanjut di 2025. Komunitas Puisi Esai mengirimkan pelatih ke sekolah-sekolah dan komunitas untuk melatih generasi muda menulis puisi esai.

Baca juga : Datuk Jasni Matlani Sabet Puisi Esai Award Pertama

Mengusung tema “Kesaksian Generasi Baru”, Festival Puisi Esai Jakarta ke-2 menghadirkan berbagai kegiatan, seperti panel diskusi, pemutaran film puisi esai, pembacaan puisi mini, dan penyerahan Puisi Esai Award. Peserta festival berasal dari berbagai daerah, termasuk 11 Gen Z yang dinobatkan sebagai Duta Puisi Esai untuk wilayah masing-masing.

Festival ini menjadi momentum penting untuk menjembatani generasi muda dengan dunia sastra, sekaligus menjaga keberlanjutan puisi esai di tengah disrupsi digital. “Kami terus mencari jalan agar Generasi Z mencintai sastra. Sastra adalah pintu masuk yang memperkaya jiwa mereka,” tutup Denny JA.

Dengan langkah-langkah proaktif seperti ini, masa depan puisi esai tampaknya akan tetap hidup, relevan, dan menjadi medium yang kuat untuk menyuarakan kegelisahan dan kesaksian generasi muda.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense