BREAKING NEWS
 

Mengembalikan Kemuliaan Nuzulul Qur'an dengan Kesalehan Ritual dan Sosial

Reporter & Editor :
UJANG SUNDA
Rabu, 19 Maret 2025 23:39 WIB
Guru Besar UIN Alauddin Makassar, Prof Muammar Bakry (Foto: Dok. BNPT)

RM.id  Rakyat Merdeka - Bagi umat Islam, Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai waktu untuk melakukan ibadah puasa, namun juga diperingati sebagai bulan turunnya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW, yaitu Nuzulul Quran. Turunnya wahyu ilahi bagi Bani Adam ini ditujukan untuk memperbaiki akhlak manusia, khususnya bagi kaum Muslim. Makanya, terasa ironis ketika di Ramadan ini masih terdengar pihak-pihak tertentu melakukan kekerasan.

Guru Besar UIN Alauddin Makassar, Prof Muammar Bakry, menekankan pentingnya menghayati peristiwa Nuzulul Qur'an agar tidak hanya menjadi rutinitas tahunan semata. Seharusnya, hikmah Nuzulul Qur'an bisa selalu ada pada diri seorang Muslim dengan mengamalkan akhlakul karimah, terlepas di mana dan kapan dirinya berada.

“Jika peringatan Nuzulul Qur'an hanya sekadar rutinitas formal tanpa memberi efek dalam kehidupan, tentu itu tidak sesuai dengan harapan dan pesan dari hikmah Nuzulul Quran itu sendiri. Seharusnya, hikmah Nuzulul Quran itu tidak lagi melihat sekat waktu dan tempat, namun ditunjukkan dengan esensinya yang segera kita amalkan dengan sebaik-baiknya,” terang Prof Muammar Bakry, Rabu (19/3/2025).

Dalam konteks Indonesia, ujar Prof Muammar, menjadi pertanyaan besar: Apakah Al-Qur’an sudah diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari?

Baca juga : Oreo Donasikan 2,5 Persen Keuntungan Penjualan untuk Pendidikan Anak Indonesia

Prof Muammar Bakry berpendapat, kepandaian atau kepiawaian secara ritual dalam beragama akan pula meningkatkan kesalehan seorang individu dalam perilaku sosialnya. Sayangnya, masih banyak orang atau kelompok yang mengaku paling beragama, justru sering membuat kegaduhan di masyarakat dengan memaksakan versi kebenarannya terhadap orang atau kelompok lainnya.

“Seharusnya ritual ibadah yang dilakukan dengan baik dan memahami hakikat dari ibadah tersebut pasti akan berdampak secara sosial. Jadi, tidak ada orang yang ibadahnya bagus tetapi kemudian menampilkan sikap egois,” tambahnya. 

Adsense

Ia menguraikan, Nabi Muhammad SAW pernah mengatakan bahwa setiap ibadah, apakah itu haji, salat, zakat, dan lain-lain, harus dilihat dari efek sosial yang bisa dihasilkan. “Artinya, puasa atau salat tarawih misalnya, kita lihat dampak positifnya setelah Ramadan: apakah perilaku sosialnya semakin baik atau justru semakin mengganggu orang lain,” jelas Prof Muammar Bakry.

Sebagai seorang akademisi dan juga ulama yang sering menyoroti isu toleransi dan kerukunan antargolongan, Prof Muammar berharap, agar Ramadan yang juga bertepatan dengan perayaan Nyepi ini bisa memberi hikmah bagi semua umat beragama. Menurutnya, berdekatannya Idul Fitri dengan Nyepi seharusnya membuat umat Islam dan Hindu bisa saling menghargai dalam merayakannya.

Baca juga : Sekjen Kemendagri: Nuzulul Quran Momentum Tingkatkan Iman & Etos Kerja

“Umat Islam akan lebih nampak syiarnya dengan banyak kegiatan, terutama menjelang Lebaran. Di sisi lain, Hari Raya Nyepi diharapkan bisa menyampaikan pesan untuk membendung diri dari kegiatan-kegiatan yang melibatkan keramaian. Namun, intinya baik Hari Raya Idul Fitri maupun Hari Raya Nyepi diharapkan dapat menggugah jiwa spiritual umat beriman untuk berimplikasi positif pada kepedulian sosial mereka,” papar Prof Muammar Bakry.

Lebih lanjut, ia kembali menegaskan pentingnya menjaga kemuliaan Ramadan. Menurutnya, umat Islam secara keseluruhan perlu lebih mawas diri, karena sebenarnya banyak tindakan yang merusak makna Ramadan justru datang dari orang Islam sendiri. 

“Perlu menjadi perhatian bagi kita mengenai kondisi yang ada di Indonesia. Misalnya, dalam Ramadan, lebih banyak sebenarnya orang Islam sendiri yang melakukan tindakan yang merusak kemuliaan Ramadan. Hampir semua pelaku sabung ayam dan minuman keras itu justru orang Muslim,” ujar Prof Muammar.

Di sisi lain, lanjutnya, seringkali non-Muslim justru sangat menghargai orang-orang Muslim yang berpuasa. Bahkan jarang terdengar tindakan-tindakan yang meresahkan masyarakat dilakukan oleh non-Muslim saat Ramadan. 

Baca juga : Muliakan Nuzulul Quran, DPP PBB Santuni 270 Anak Yatim

“Jangan sampai umat Islam sendiri yang merusak kemuliaan bulan suci Ramadan.” tandasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense