RM.id Rakyat Merdeka - Tradisi halal bihalal sebagai tradisi keagamaan Muslim Indonesia setelah Idul Fitri biasanya diselenggarakan dengan berkumpul dalam lingkungan keluarga, komunitas, organisasi, dan instansi. Tradisi keagamaan ini semakin semarak, tak hanya dilakukan dengan berkumpul, tapi juga melalui ucapan di berbagai platform.
Tradisi ini ternyata sudah lama. Trandisi ini sudah ada 1924. Hal itu ditandai dengan adanya ucapan halal bihalal di Suara Muhammadiyah. Saat itu, istilahnya alal bihalal, tanpa huruf "h" di depannya.
Baca juga : Bantah Kebut Perkara Hasto, Ketua KPK: Tahapannya Sudah Sesuai
Sebagaimana dikutip muhammadiyah.or.id, Anggota Majelis Pustaka Informasi (MPI) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Ghifari Yuristiadhi menjelaskan, pesan ucapan alal bahalal ditemukan dalam Soeara Moehammadijah Nomor 5 tahun 1924. Kata dia, hal ini menunjukkan Muhammadiyah menjadi pelopor modernisasi ucapan untuk perayaan halal bihalal bagi Muslim Indonesia.
Kata dia, tahun 1924 menjadi tonggak sejarah yang perlu diingat, sebab muncul cara baru seorang Muslim dalam menyampaikan salam, permohonan maaf, dan menjalin silaturahmi melalui platform media massa modern, yang saat itu Majalah Suara Muhammadiyah. Dalam konteks awal abad 20, majalah merupakan media massa yang sangat modern di tengah kolonialisme.
Baca juga : Kabar Baik, Dado Sudah Mulai Membaik
“Kontribusi besar Muhammadiyah pada tradisi alal bihalal disajikan dalam platform majalah, yang di situ menunjukkan modernitas dan kemajuan Muhammadiyah. Bahwa warga Muhammadiyah itu adalah kelompok yang terpelajar–intelektual, karena dekat dengan literasi dengan buku dan ilmu pengetahuan,” kata Ghifari.
Ketika melakukan pencarian literasi, Ghifari menyebut, tradisi halal bihalal merupakan genuin dari Nusantara, khususnya dari Jawa. Sebab, sejauh ini dia belum menemukan literatur yang menunjukkan tradisi ini di luar Jawa.
Baca juga : Harga Beras, Telur, Cabe Dan Daging Sudah Naik
Namun, saat ini tradisi halal bihalal telah diserap dan dilakukan tidak hanya di Jawa, tapi hampir di seluruh Indonesia. Menurut Ghifari, tidak hanya di Suara Muhammadiyah pada 1924, modernisasi tradisi halal bihalal juga ditunjukkan dengan adanya Brosur Lebaran dari Muhammadiyah Kotagede. Hadirnya brosur itu, menurut Ghifari, juga mewadahi model silaturahmi secara berkemajuan. Selain itu, hadirnya Brosur Lebaran juga menunjukkan tingginya literasi warga Muhammadiyah.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.