BREAKING NEWS
 

Apakah AI Bisa Menggantikan Profesi Dokter dan Guru?

Writer : Dr. Tantan Hermansah
Editor : MUHAMMAD RUSMADI
Rabu, 9 April 2025 05:05 WIB
Bill Gates

 

Sebuah prediksi mengejutkan dikemukakan oleh salah satu orang berpengaruh di dunia, Bill Gates. Gates antara lain mengatakan bahwa dalam 10 tahun ke depan ada banyak profesi yang sebelumnya dilakukan oleh manusia, maka bisa digantikan oleh AI atau kecerdasan artifisial. 

Tentu saja, Gates pasti tidak sedang bercanda ketika mengeluarkan prediksinya. Dia juga pasti sudah mengkalkulasi sejumlah fenomena dan data yang ada, dan melakukan beragam simulasi sebelum menghasilkan kesimpulan prediktif tersebut. 

Pada faktanya, ketika hari ini AI semakin canggih, kita telah menemukan beberapa profesi pekerjaan yang akhirnya gulung tikar benar-benar tidak lagi diperlukan. Contoh sederhana: penjual tiket pesawat yang dulu betul-betul menguasai dinamika perjalanan kita dengan moda tersebut. 

Saat ini mereka sudah nyaris tidak ada, dan digantikan oleh AI yang tersedia dalam fitur gawai kita. Ai ini menawarkan berbagai kenyamanan dalam memilih tiket pesawat mulai dari harga, waktu, tujuan, sampai ke menu makanan yang ada dalam pesawat tersebut.

Namun benarkah dua profesi yang disebutkan oleh Gates, yakni dokter dan guru bisa digantikan oleh artificial intelijen? Isu ini yang akan kita bahas.  

Baca juga : Dampak WFA, KAI Catat 758 Ribu Warga Tinggalkan Jakarta Usai Lebaran

Kita tahu bahwa kehadiran kecerdasan artifisial atau artificial intelijen saat ini begitu signifikan dalam kehidupan manusia. Ia telah mengubah perspekti dan bahkan mengatur hidup kita, dan akhirnya menghasilkan perilaku baru dalam berbagai, salah satunya adalah ketergantungan kepadanya.  

Manusia hari ini tampak jelas akan berhadapan dengan beragam masalah jika tidak didampingi AI. Contoh  ketika kita mencari sebuah titik destinasi atau tujuan. 

AI akan membantu kita mengarahkan jalanan, rute, memperkirakan waktu, bahkan memberikan informasi perjalanan kita ke depan. Sehingga dengan AI kita bisa pergi ke tempat-tempat tertentu tanpa perlu ragu karena AI bisa membantu kita menavigasi perjalanan. 

Begitupun banyak kegiatan lain. Hal-hal yang dulu hanya dilayani oleh Google, di mana Google menunjukkan kebutuhan kita akan suatu data, dan itu tergantung pada library Google sendiri, sekarang dengan AI bahkan bisa melayani kebutuhan manusia untuk menarasikan kembali beragam data tersebut secara sistematis. Bahkan lebih jauh, dari berbagai data tersebut, kita bisa lebih interaktif.

Maka apa yang diprediksikan oleh Bill Gates mengenai beberapa profesi yang tergantikan bisa jadi berkorelasi dengan fakta-fakta dan data yang kita dapatkan hari ini. Namun demikian kalau kita perdalam lebih jauh ada beberapa hal yang sulit dipenuhi untuk konteks profesi dokter dan guru dalam setidaknya dalam 5 sampai 10 tahun mendatang adalah: 

Pertama, AI tidak memiliki kemampuan memahami konteks emosional suatu budaya atau nilai etik yang biasanya melekat pada manusia. Kita tahu bahwa manusia tumbuh dalam sebuah ruang yang di dalamnya terdapat beragam tindakan yang menghasilkan berbagai nalar seperti kesadaran etis dengan variansi levelnya. Di dalam ruang tersebut, manusia sebagai subyek mengembangkan suatu kesadaran bahwa dia hidup di ranah yang kaya dengan tindakan negosiasi, kompromi, serta toleransi. 

Baca juga : Khofifah Ingatkan Pemudik Waspadai Cuaca Ekstrem di Jawa Timur

Maka dari itu, seorang guru atau mungkin juga seorang dokter akan mempertimbangkan perilaku budaya kesadaran etik tertentu dan konteks emosi ketika dia menjalankan profesinya itu. Tentu ini akan berbeda dan sangat tidak mungkin bisa diambil alih oleh teknologi walau pun sekelas AI. 

Kedua, AI  juga memiliki keterbatasan kompleksitas dan dinamika dari manusia. Seorang guru misalnya dia akan memunculkan atau menghadirkan beragam sikap dan ekspresi ketika dia berhadapan dengan peserta didiknya di kelas maupun di luar kelas. Seorang guru ketika di kelas akan melakukan tindakan-tindakan sesuai dengan profesinya. Begitu pulang ke rumah atau tempat tinggalnya, guru tadi akan  bertindak dan bersikap dengan kapasitas mungkin sebagai tetangga atau sebagai bagian dari anggota masyarakat yang jauh lebih luas. 

Keterbatasan lain dari AI adalah aspek profesionalitas guru dan dokter itu sendiri.  AI tidak bisa mengemban tanggung jawab yang sifatnya hukum. Jika misalnya ada seorang guru menyarankan satu tindakan dan ternyata kurang tepat atau malah salah, maka ia bisa digugat atau harus mempertanggung jawabkan keputusan tersebut secara hukum. Hal yang sama jika dilakukan kelompok profesional dokter. Namun jika ternyata AI yang salah maka ruang itu jelas menjadi kabur, karena AI bukan manusia yang memiliki pertanggungjawaban hukum. 

Ketiga, hal selanjutnya yang juga jadi problem dalam konteks keadilan ketika dia dikaitkan dengan kemunculan profesi sebagai guru dan dokter misalnya adalah terbatasnya infrastruktur di level global itu sendiri. Kita tahu bahwa “kehebatan” AI tidak berdiri sendiri. AI harus melekat pada suatu infrastruktur yang memadai. Di tingkat global saja, infrastruktur ini bisa dikatakan belum kuat; apalagi di tingkat regional. Apalagi jika dikerucutkan lagi ke level lokal di tingkat negara berkembang. 

Daya dukung infrastruktur ini sangat diperlukan untuk mengoptimalkan peran dan fungsi dan AI itu sendiri. Oleh karena itu, ragam keterbatasan ini akan sangat mengganggu kinerja prima dari AI tersebut. 

Pertanyaan lanjutannya: apakah dalam 5-10 mendatang, infrastruktur untuk mendukung kinerja AI bisa benar-benar tersedia secara ideal? 

Baca juga : Bank DKI Pastikan 750 ATM Beroperasi Selama Libur Lebaran

Dengan berbagai fakta di atas, di mana perkembangan infrastruktur dalam 5-10 tahun belum seideal yang diharapkan, serta beragam pertimbangan sosial-budaya yang mungkin menjadi hambatan dalam menjadikan AI sebagai “subyek”, maka di masa mendatang AI baru bisa memerankan diri sebagai asisten saja—namun lebih tinggi dari peran saat ini, khususnya pada aspek akurasi data dan perhitungan. 

Namun untuk pada level pengambil keputusan, peran AI masih bisa dikatakan masih jauh. Terlebih secara sosial, hari ini juga sudah mulai ada gerakan-gerakan yang untuk mengembalikan manusia kepada fitrah kedirian. Fitrah kedirian yang dimaksud dalam hal ini adalah mengembalikan posisi subjektivitas manusia sebagai basis dari gerakan beragam tindakan yang bisa diambil oleh seseorang dan dia bisa berkonsekuensi hukum atas keputusannya. 

Resistensi sosial ini, meskipun belum menggelembung menjadi gerakan massa yang besar dan masif, tetap saja bisa merupakan cerminan yang demikian jelas dan nyata. Meski demikian bukan berarti dalam 5-10 tahun mendatang, profesi guru dan dokter aman-aman saja. [*]

Powered by Froala Editor

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense