RM.id Rakyat Merdeka - Kecerdasan buatan (AI) yang berkembang saat ini dinilai memiliki kecenderungan merekomendasikan tafsir agama yang pro-hak asasi manusia (HAM).
Hal ini karena sistem AI dikembangkan dengan menyaring nilai-nilai etika universal serta menghindari ujaran kebencian, kekerasan, dan diskriminasi, sehingga menciptakan preferensi terhadap tafsir yang moderat, inklusif, dan adil.
Pernyataan ini disampaikan oleh pelopor gerakan spiritual lintas iman sekaligus penggagas Forum Esoterika, Denny JA, dalam hari kedua workshop Esoterika Fellowship Masuk Kampus yang digelar di Jakarta pada 21–23 April 2025. Menurutnya, referensi AI yang sangat beragam dari spektrum konservatif hingga progresif, dari teks klasik hingga refleksi kontemporer menjadikan rekomendasi AI cenderung mencari jalan tengah yang rasional dan selaras dengan prinsip keadilan.
Baca juga : Ketua DPR RI Dorong Dunia Tekan Israel Stop Agresi Ke Palestina
Workshop yang berlangsung selama tiga hari ini mempertemukan 25 dosen dari sembilan perguruan tinggi di Indonesia, termasuk UIN Bandung, Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR), Universitas Kristen Indonesia (UKI), IPMI International Business School, Universitas Hindu Negeri (UHN), IAIN Cirebon, STABN Sriwijaya, President University, serta perwakilan dari Ambon. Para peserta mencakup 17 doktor, 6 master, dan 2 profesor dari beragam latar belakang agama dan disiplin ilmu.
Diskusi pada hari kedua dibuka dengan sesi tentang kekayaan kultural agama, yang diisi oleh Dr. Halim Wiryadinata (UKI) dan Sidrotun Naim, Ph.D (IPMI). Mereka menekankan pentingnya menggali kembali nilai-nilai toleransi dari dokumen keagamaan klasik dalam konteks modern.
Sesi selanjutnya membahas soal perebutan tafsir agama, yang disampaikan oleh Dr. Neng Hannah, M.Ag (UIN Bandung) dan tim IAIN Ambon. Mereka menekankan bahwa tidak ada satu tafsir tunggal dalam agama, dan pentingnya keberanian dalam menafsirkan kitab suci secara kontekstual dan relevan.
Baca juga : Gubernur Pramono Anung Dorong Transformasi Bank DKI
Topik tentang agama di era digital dibahas dalam sesi berikutnya oleh Drs. I Ketut Donder, M.Ag., Ph.D (UHN) dan pengajar STABN Sriwijaya. Mereka memaparkan data mengenai lebih dari 4.300 agama dan kepercayaan yang ada di dunia, serta tren moralitas publik berdasarkan pencarian di Google.
Sesi tentang spiritualitas di era AI menjadi sorotan penting dalam diskusi. Abdullah Sumrahadi (President University), Dr. Mohamad Shofan (UIN Cirebon), dan Monica JR (Esoterika) membahas hubungan antara spiritualitas, filsafat, dan kecerdasan buatan, termasuk pendekatan neuroscience serta pentingnya prinsip universal tentang satu bumi, satu umat manusia, dan satu spiritualitas.
Refleksi tentang makna hidup dan algoritma menjadi penutup hari kedua, dengan kontribusi dari tim UNPAR dan Elza Peldi Taher dari Esoterika. Mereka membahas lima hukum hidup bermakna yang terinspirasi dari pemikiran para sufi, serta pengalaman personal dalam menjelajahi spiritualitas kontemporer.
Baca juga : Adecco Dorong Tenaga Kerja Terampil Dan Berdaya Saing
Selain sesi diskusi, workshop ini juga menghadirkan kegiatan lain seperti meditasi, musik akustik, ice breaking, dan dialog informal yang hangat.
Esoterika Fellowship Masuk Kampus merupakan program dari Forum Esoterika, sebuah gerakan yang dipimpin oleh Ahmad Gaus AF dan Dr. Budhy Munawar Rachman. Program ini bertujuan membawa agama kembali ke jantung kesadaran manusia, melampaui sekadar doktrin, menuju pemaknaan yang lebih dalam dan transformatif.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.