Idul Adha atau dikenal juga dengan hari raya kurban dan dirayakan oleh umat Islam di seluruh dunia. Hari Raya Idul Adha ini jatuh pada 10 Zulhijah setiap tahunnya. Hari Idul Adha ini ditandai dengan pelaksanaan Salat Idul Adha dua rakaat berjamaah pada pagi hari di tanggal 10 Zulhijah. Selesai melaksanakan Salat Idul Adha, umat Islam melakukan pemotongan hewan kurban.
Hewan kurban dapat berupa kambing, domba, atau sapi. Sepertiga bagian dari dagingnya diberikan pada orang yang berkurban, sepertiga untuk kerabat dan tetangga sebagai tanda kasih dan persaudaraan, dan sepertiganya lagi dapat dibagikan untuk orang yang kurang mampu atau fakir miskin sebagai bentuk kepedulian sosial. Dasar hukum pembagian hewan kurban ini tertuang dalam Al-Qur’an, Surah Al-Hajj, ayat 36.
Bagi orang yang mampu secara ekonomi, memakan daging sapi dan kambing sudah menjadi kebiasaan. Namun, bagi orang yang kurang mampu secara ekonomi, mengkonsumsi daging sapi dan kambing sangat jarang mereka lakukan. Salah satu alasannya karena daging sapi dan kambing di pasar mahal dan mereka kurang sanggup untuk membelinya.
Jika mereka memaksakan diri untuk membeli daging sapi untuk dikonsumsi, mungkin ada kebutuhan sehari-hari yang lain yang harus dikurangi jatahnya. Dengan adanya hari raya kurban, banyak orang yang mampu secara ekonomi menyalurkan hewan kurbannya untuk disembelih dan dagingnya dibagikan kepada orang-orang yang kurang mampu.
Bagi orang-orang yang berkurban baik berupa sapi ataupun kambing, mereka berharap mendapatkan pahala dari Allah SWT dan menjadi saksi amal kebaikan di akhirat. Dalam satu hadis Nabi Muhammad SAW yang artinya: “Aisyah menuturkan dari Rasulullah SAW bahwa beliau bersabda, ‘tidak ada satu amalan yang dikerjakan anak Adam (manusia) pada Hari Raya Idul Adha yang lebih dicintai oleh Allah dari menyembelih hewan. Karena hewan itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya, dan kuku-kuku kakinya. Darah hewan itu akan sampai di sisi Allah sebelum menetes ke tanah. Karenanya, lapangkanlah jiwamu untuk melakukannya” (Hadis Hasan, Riwayat al-Tirmidzi: 1413 dan Ibn Majah: 3117).
Baca juga : Idul Adha, Menteri Ara Kurban Sapi Jenis Grandong Untuk Pegawai & Penghuni Rusun
Ada dua amalan yang dilakukan umat Islam pada saat Hari Raya Idul Adha, yaitu Salat Idul Adha dua rakaat berjamaah di masjid atau di lapangan dan selesai melaksanakan salat umat Islam melakukan pemotongan kurban. Mengacu pada hadis Nabi Muhammad SAW di atas, maka menyembelih kurban baik berupa kambing, domba, atau sapi, adalah amalan yang sangat disukai oleh Allah.
Menyembelih kurban pada saat Hari Raya Idul Adha setiap tahunnya dan daging-dagingnya dibagikan pada orang-orang sangat membutuhkan adalah tradisi Nabi Ibrahim. Tradisi Nabi Ibrahim ini telah mengajarkan kepada semua orang Muslim agar membiasakan diri untuk berbagi kepada orang-orang yang kurang mampu secara ekonomi yang berada di sekitar mereka.
Jika semua orang mempunyai kebiasaan untuk berbagi, tidaklah sebatas daging sapi atau daging kambing saja, tentu saja akan mengurangi kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin. Salah satu yang sering memicu terjadinya konflik suku bangsa, agama dan sosial di berbagai daerah di Indonesia, karena besarnya jurang pemisah antara kelompok masyarakat yang mampu dengan masyarakat yang kurang mampu secara ekonomi. Salah satu cara menyelesaikan persoalan kesenjangan ini adalah dengan membiasakan hidup berbagi.
Hari Raya Idul Adha telah mengingatkan umat Islam tentang kisah perjuangan Nabi Ibrahim dan anaknya Nabi Ismail yang diuji kualitas imannya oleh Tuhan. Bukti keimanan itu telah ditunjukkan pada saat Ibrahim diuji oleh Tuhan untuk menyembelih anak kesayangannya Ismail dan Ismail pun menuruti perintah orang tuanya. Tuhan ingin menguji sejauh mana kepatuhan Ibrahim. Tuhan telah membuktikan keimanan Ibrahim bukanlah keimanan seperti orang biasa.
Keimanan Ibrahim dan anaknya Ismail adalah keimanan kelas tinggi yang tidak mudah goyah walaupun ujian yang diberikan padanya sangat berat. Jika ujian yang sangat berat ini diberikan Allah kepada orang-orang biasa, mungkin dia tolak secara mentah-mentah, karena tidak masuk dalam cara berpikir orang awam. Tapi Ibrahim adalah manusia pilihan, seberat apapun ujian yang diberikan Allah padanya pasti dia terima dengan senang hati.
Baca juga : Khutbah Idul Adha, Tamsil Linrung Serukan Solidaritas Untuk Palestina
Pelajaran yang dapat diambil dari ujian Allah pada Nabi Ibrahim, adalah agar manusia generasi setelah Ibrahim dan Ismail benar-benar dapat menjalankan perintah Tuhan di dunia, tidak cepat menyerah pada tantangan hidup yang semakin hari semakin berat, dan keikhlasan untuk berkurban demi membantu meringankan beban orang lain. Jika ketiga hal ini dapat dijalankan dengan baik, maka makna kurban pada saat hari raya idul adha, bukan saja menyangkut hubungan manusia dengan Tuhannya, tapi yang lebih penting adalah makna sosial yang dapat dirasakan oleh orang banyak.
Hari Raya Idul Adha ini memiliki akar yang kuat terhadap kisah Nabi Ibrahim AS, yang merupakan tokoh penting dalam sejarah Islam, Kristen dan Yahudi. Nabi Ibrahim lahir di Babilonia yang sekarang ini dikenal dengan Irak. Kisah Nabi Ibrahim telah menunjukkan perjalanan kenabiannya yang begitu panjang dan penuh dengan ujian yang diberikan oleh Allah kepadanya. Babilonia sebagai tempat kelahiran Ibrahim adalah sebuah kerajaan kuno yang terletak di Mesopotamia (sekarang dikenal dengan Irak). Babilonia dikenal sebagai pusat peradaban kuno yang sangat penting dan memiliki pengaruh besar pada peradaban dunia.
Kisah-kisah Nabi Ibrahim tidak hanya tertulis dalam kitab Suci Al-Qur’an tapi juga tertulis dalam Al-Kitab. Cuma saja penyebutan Ibrahim dalam Al-Kitab berbeda dengan penyebutan Ibrahim dalam Al-Qur’an. Dalam Al-Qur’an, manusia yang diuji oleh Allah keimanannya itu disebut Ibrahim dan dalam Al-Kitab disebut Abraham. Kedua nama ini dimiliki orang yang sama dan cuma saja penyebutannya berbeda.
Dalam Al-Kitab, kisah-kisah Nabi Ibrahim terdapat dalam Kitab Kejadian 22: 1-14. Dalam Kitab Kejadian ini dikisahkan bahwa Abraham diperintahkan Tuhan untuk membawa anak kesayangannya yang bernama Ishak ke tanah Moria, untuk mempersembahkan Ishak sebagai kurban bakaran. Ibrahim sebagai orang yang patuh terhadap perintah Allah tidak kuasa untuk menolak perintah Allah tersebut. Ibrahim menyetujui perintah Allah untuk mengorbankan anaknya. Setelah mengetahui keimanan Ibrahim yang begitu kuat, Allah pun melarang Ibrahim mengorbankan anaknya dan menggantikannya dengan mengurbankan seekor domba.
Dalam Al-Qur’an, kisah Nabi Ibrahim terdapat dalam Surat Al-An'am ayat 74-79, Surat Al-Baqarah ayat 258, dan Surat Ibrahim ayat 35-41. Di dalam surat-surat ini dikisahkan perjalanan panjang Nabi Ibrahim untuk mencari Tuhan, berdialog dengan Raja Namrud, perintah untuk menyembelih anak kesayangannya yang bernama Ismail, dan mendoakan anak keturunannya agar menjadi orang-orang yang selalu mematuhi perintah Tuhan.
Baca juga : Gelar Salat Idul Adha, Jajaran Polri Tingkatkan Kepedulian Demi Persatuan
Perintah Allah untuk menyembelih Ismail tidak pernah ditolak oleh Ibrahim. Dengan demikian, Tuhan telah mengetahui ketaatan Ibrahim pada-Nya sudah tidak dapat diragukan lagi. Sebagai balasannya, Tuhan mengganti Ismail dengan seekor domba.
Tradisi menyembelih domba pada saat Hari Raya Idul Adha ini terus dilestarikan. Karena tidak hanya sekedar mendapatkan pahala bagi orang-orang yang secara ikhlas menyisihkan sebagian rejekinya untuk berkurban, tapi dapat memberikan dampak sosial yang lebih besar dalam membantu masyarakat muslim yang kurang mampu secara ekonomi dan juga dapat peningkatan ekonomi umat.
Powered by Froala Editor
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.