BREAKING NEWS
 

Sejarawan: Perpusnas Miliki Koleksi Publikasi untuk Membuat Kronologis Sejarah

Reporter & Editor :
UJANG SUNDA
Senin, 22 September 2025 19:02 WIB
Diskusi Publik 200 Tahun Perang Jawa ‘Pejuang, Pengasingan, dan Pembentukan Memori’, di Jakarta, Senin (22/9/2025). (Foto: Dok. Perpusnas)

RM.id  Rakyat Merdeka - Penulis dan Peneliti Sejarah, Mustaqim Asteja, mengatakan bahwa sejarah pasti selalu berkaitan dengan tokoh, peristiwa, tempat, dan waktu. Untuk membuat kronologis sejarah yang tepat, Perpustakaan Nasional (Perpusnas) memiliki koleksi publikasi yang lengkap.

Dia menyatakan, dalam hal sejarah, masyarakat harus arif untuk mampu memilah dari berbagai sumber. Belanda, dalam sejarah, punya tujuan untuk merendahkan para pejuang. Sebagai contoh, publikasi mengenai Pangeran Diponegoro di tahun 1842.

”Pangeran Diponegoro disebut Belanda sebagai pengkhianat negara dan pembuat onar,” ujarnya, dalam Diskusi Publik 200 Tahun Perang Jawa ‘Pejuang, Pengasingan, dan Pembentukan Memori’, di Jakarta, Senin (22/9/2025).

Mustaqim menegaskan, memori-memori yang dibuat Belanda tidak bisa secara serta merta dipercaya. Perlu ada publikasi pendukung lain sebagai bahan pembanding.

Dia menerangkan, Perpusnas memiliki koleksi yang lengkap untuk digunakan dalam membuat sejarah secara kronologis. “Bahan publikasi seperti ini terbit dari 1814 sampai 1942,“ ulasnya. 

Baca juga : 70 Persen Milenial Pilih Layanan Rumah Tangga untuk Hemat Waktu

“Koleksinya di Perpusnas, dan bisa diteliti untuk membuat sejarah secara kronologis, baik sejarah daerah atau sebagai jalan masuk menyusuri arsip yang lebih dalam, melalui penelusuran digital,” sambungnya.

Sekretaris Utama Perpusnas, Joko Santoso, membenarkan bahwa koleksi yang digunakan dalam kegiatan ini merupakan koleksi dengan konten sejarah yang ada di Pusat Jasa Informasi Perpustakaan dan Pengelolaan Naskah Nusantara.

“Koleksi-koleksi tersebut meliputi koleksi majalah langka, surat kabar langka, buku langka, naskah kuno, audio visual dan mikrofis/mikrofilm, foto, peta, serta lukisan yang telah didigitalkan yang terdapat dalam platform koleksi langka digital Khastara,” paparnya.

Adsense

Melalui platform tersebut, publik dapat mengakses berbagai sumber primer yang memberikan perspektif mendalam mengenai konflik besar tersebut, mulai dari latar belakang, jalannya pertempuran, hingga dampaknya terhadap tatanan masyarakat pasca-perang.

“Pemanfaatan teknologi digital ini tidak hanya memastikan kelestarian materi langka tersebut dari kerusakan fisik, tetapi juga memperluas jangkauan akses bagi peneliti, akademisi, dan masyarakat umum yang tertarik untuk menggali sejarah nasional secara lebih mendalam dan kritis,” tambahnya.

Baca juga : Penguatan Peran Satgas BLBI Diyakini Mampu Genjot Pengembalian Kerugian Negara

Dalam kesempatan yang sama, Sejarawan dan Peneliti Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erwiza Erman, mengatakan bahwa afterlife events dari perang di Nusantara memiliki dampak yang jauh lebih dahsyat dari tragedi perang itu sendiri.

Kisah perang yang terjadi di Nusantara sebagian besar tentang perampasan dan penguasaan sumber daya. Kekalahan yang terjadi dalam peperangan disebabkan oleh blokade rantai pasok yang dilakukan Belanda terhadap pasukan-pasukan pemberontak.

“Makna heroik, keteguhan moral, jiwa nasionalisme, kepemimpinan inklusif, etika, dan pluralisme tetap ‘hidup’ melalui ritual, simbol, dan interpretasi kontemporer setiap generasi,” ucap Erwiza.

“Peperangan yang teruszmenerus di berbagai tempat, di Nusantara, telah menelan korban nyawa, harta, dan berakhir dengan ‘pindahnya’ pemimpin peran ke ‘dunia pengasingan’. Bagi pemerintah kolonial, dunia pengasingan yang jauh dari daerah asal, dimaksudkan memutus rantai pengaruh dan mematikan ide perlawanan terhadap penjajah,” jelasnya.

Melengkapi materi narasumber, Pustakawan Ahli Madya Perpusnas, Atikah, meyakinkan bahwa Perpusnas memiliki keragaman koleksi yang dapat diakses baik dengan cara datang langsung maupun secara digital.

Baca juga : 5 Perlengkapan Kamar Mandi untuk Kenyamanan Sehari-hari

Koleksi buku langka dapat ditemukan di lantai 14 Gedung Fasilitas Layanan Perpusnas. Foto, peta, dan lukisan di lantai 16. Koleksi audio visual di lantai 8. Majalah terjilid di lantai 23.

"Sedangkan koleksi surat kabar langka dari lantai 7c sampai 9 dan koleksi kliping CSIS di lantai 7b Perpusnas Salemba,” jabarnya.

Selain Khastara, Atikah menerangkan, pemustaka juga dapat mengakses koleksi melalui Opac Perpusnas dan e-Resources. Ada pula Whatsapp dan email setiap Kelompok Layanan yang ada di setiap substansi koleksi klasika.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense