RM.id Rakyat Merdeka - Ribuan umat Islam menghadiri Haul ke-68 ulama kharismatik pendiri Nahdlatul Ulama (NU), Kiai Haji Raden (KHR) Asnawi, di Kompleks Makam Sunan Kudus, Jawa Tengah, Selasa (16/12/2025). Hadir dalam kesempatan tersebut Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Miftachul Akhyar.
Dalam mauidhah hasanah (pengajaran yang baik), KH Miftachul Akhyar menegaskan bahwa peringatan haul ulama, termasuk KHR Asnawi, merupakan momentum penting untuk meneladani perilaku, perjuangan, dan dakwah para pendahulu.
“KHR Asnawi adalah tokoh panutan yang harus menjadi inspirasi bagi anak cucu serta para santri saat ini dalam berdakwah dan menyebarkan Islam,” ujarnya.
Ia berharap, dari peringatan haul ini akan lahir generasi muda yang mampu meneruskan model dakwah dan keislaman KHR Asnawi.
Baca juga : Komisi Aplikasi Maksimal 15 Persen, Maxim Komit Tingkatkan Pendapatan Mitra
“Selain berharap keberkahan dari shahibul haul, kita juga harus menggali apa yang membuat beliau mencapai derajat kealiman dan ketokohan. Dari situlah akan lahir KHR Asnawi-KHR Asnawi baru yang melanjutkan perjuangan beliau,” ungkapnya.
KHR Asnawi merupakan keturunan Sunan Kudus yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri untuk melayani umat. Ulama yang dikenal sebagai pendidik dan aktivis ini telah mengajar santri sejak berada di Makkah pada 1916. Sepulang ke Tanah Air, Kiai Asnawi mendirikan Madrasah Qudsiyyah di kawasan Menara Kudus.
Bersama Kiai Haji Hasyim Asy’ari, Kiai Haji Wahab Chasbullah, Kiai Haji Bisri Syansuri, dan sejumlah ulama lainnya, Kiai Asnawi turut menjadi pendiri Nahdlatul Ulama.
Dalam mauidhah lanjutan, KH Miftachul Akhyar mengingatkan umat akan tantangan zaman yang disebutnya sebagai zaman harj, yakni masa yang serba tidak menentu dan penuh disrupsi. Menurutnya, kemajuan teknologi dan perubahan sosial yang cepat dapat mengguncang segala hal, termasuk keimanan.
Baca juga : Darurat Pendidikan, Utamakan Keselamatan Guru-Anak Didik
“Usaha yang sudah besar dan mapan bisa tiba-tiba runtuh karena tergerus zaman. Situasi semacam ini juga harus kita waspadai bisa menimpa keimanan dan keyakinan kita,” tuturnya.
Untuk mencegah terjadinya disrupsi keimanan dan keislaman, ia menekankan pentingnya mencintai Nabi Muhammad SAW, para wali, dan alim ulama.
“Tokoh besar seperti KHR Asnawi sebagai pendiri Nahdlatul Ulama harus kita teladani dan praktikkan ajarannya di zaman sekarang,” tegasnya.
Acara Tahlil Umum dihadiri ribuan santri serta masyarakat Kudus dan sekitarnya. Para tokoh dan ulama Kudus tampak hadir lengkap dalam tahlil yang rutin digelar setiap sore tanggal 25 Jumadil Akhir, bertepatan dengan wafatnya KHR Asnawi pada 25 Jumadil Akhir 1378 Hijriah atau 26 Desember 1959.
Baca juga : Indonesia Diundang Hadiri Peringatan 100 Tahun Kapal Layar Tertua Di Dunia
Selain Tahlil Umum, rangkaian Haul ke-68 KHR Asnawi bertema “Suluh Peradaban; Mulat Ngelmu lan Laku” telah berlangsung sejak Kamis (11/12/2025). Kegiatan meliputi Halaqah Turats KHR Asnawi, Bahtsul Masail, ziarah, napak tilas laku KHR Asnawi dari Pondok Bendan ke Sunan Muria, Khatmil Al-Qur’an, dan akan ditutup dengan pengajian umum oleh Dr. KH Faiz Syukron Makmun dari Jakarta serta KH Habib Umar al-Muthohar dari Semarang.
Usai menyampaikan mauidhah hasanah, KH Miftachul Akhyar juga meresmikan secara simbolis Kantor Turats Ulama Kudus di Jalan Sunan Kudus Nomor 188. Peresmian ini diharapkan menjadi motivasi sekaligus penggerak bagi tim Turats Ulama Kudus untuk menelusuri, melestarikan, dan mengembangkan karya serta peninggalan para ulama Kudus.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.