BREAKING NEWS
 

Jika Bukber bersama Bourdieu

Writer : Dr. Tantan Hermansah
Editor : MUHAMMAD RUSMADI
Selasa, 3 Maret 2026 09:09 WIB
Ilustrasi: pngtree.com

Peristiwa tahunan yang kerap ditunggu sebagian kita, selain THR (Tunjangan Hari Raya) antara lain adalah Buka Bersama, atau “bukber”. Di momen ini, kadang beredar undangan di grup WhatsApp dengan nada yang beragam, misalnya: “Jangan lupa bukber ya.” 

Di Indonesia bukber telah menjelma menjadi ritus sosial yang hampir tak terelakkan. Seperti minggu pertama Ramadan tahun ini, setidaknya sudah berpuasa beberapa hari, saya pun bukber. 

Ternyata bukber bukan lagi sekadar momen membatalkan puasa. Ia adalah panggung sosial. Namun apa yang sesungguhnya sedang dipentaskan?

Di titik ini, kita bisa meminjam kacamata Pierre Bourdieu (1930-2002). Sosiolog Prancis ini mengajarkan kepada kita bahwa praktik sosial—sekecil apa pun—tidak pernah netral. Ia selalu terikat pada habitus, modal, dan arena (field). Bukber, dalam perspektif ini, bukan hanya agenda makan bersama. Ia adalah proses reproduksi kultural yang halus, repetitif, dan nyaris tak disadari.

Habitus Bukber

Bourdieu menyebut habitus sebagai struktur mental yang terbentuk dari sejarah sosial, lalu mengendap menjadi kecenderungan bertindak. Bukber adalah habitus Ramadan orang Indonesia.

Sebagai manusia, kita tumbuh dengan ingatan kolektif: suara azan magrib, kurma pertama, teh hangat, dan kalimat, “Ayo, kita mulai.” Ingatan itu diwariskan lintas generasi. Ia bukan sekadar tradisi, melainkan memori sosial yang membentuk cara kita memahami kebersamaan.

Baca juga : Diplomasi Budaya Pererat Pakistan dan Hungaria

Di sini, bukber menjadi refleksi kesadaran historis. Ia mengikat pengalaman masa lalu—masa kecil, keluarga, pesantren, kampung halaman—dengan realitas kekinian: restoran modern, hotel berbintang, atau aula kantor. Ada irisan emosional dan primordial yang menyatu. Orang datang bukan hanya untuk makan, tetapi untuk “kembali”—kembali pada rasa memiliki.

Arena-Modal Bukber

Di sisi lain masyarakat adalah arena pertarungan berbagai bentuk modal: ekonomi, sosial, kultural, dan simbolik. Bukber pun kemudian menjadi salah satu arena itu. Ia menjadi modal ekonomi dengan fakta bahwa restoran penuh, hotel menawarkan paket Ramadan, UMKM kebanjiran pesanan. Data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif beberapa tahun terakhir menunjukkan lonjakan konsumsi kuliner selama Ramadan secara signifikan, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Bukber menjadi mesin ekonomi musiman.

Akan tetapi di balik itu, ada pesan tak terucap: siapa mengundang siapa, di mana lokasi dipilih, menu apa disajikan—semuanya adalah tanda kelas.

Pertama, Modal Sosial. Bukber memperluas jaringan. Ia mempertemukan alumni, kolega, komunitas, bahkan aktor-aktor lintas agama. Di sinilah bukber bekerja sebagai akumulasi social capital. Orang yang jarang bertemu menjadi kembali dekat. Kepercayaan dibangun di antara sendok dan piring.

Kedua, Modal Kultural. Seseorang ketika akan mengikuti bukber begitu memperhatikan cara berpakaian, cara berbicara, bahkan cara memulai doa sebelum berbuka adalah ekspresi selera (taste). Dalam hal ini, Bourdieu pernah menulis dalam Distinction bahwa selera bukan sekadar preferensi pribadi, melainkan hasil konstruksi sosial. Bukber dengan tegas memperlihatkan itu: dari bukber sederhana di musala kampung hingga jamuan eksklusif di ballroom hotel, semuanya menampilkan gaya hidup.

Ketiga, Modal Simbolik. Inilah realitas yang paling subtil. Bukber memberi legitimasi moral. Ia menghadirkan citra kebaikan, religiositas, dan kebersamaan. Seorang pejabat yang menggelar bukber dengan anak yatim, misalnya, bukan hanya berbagi makanan. Ia memproduksi makna—dan sering kali, legitimasi.

Baca juga : MODENA Kenalkan Dua Oven untuk Momen Kebersamaan di Rumah

Maka benar, setiap kutub simbolik dalam bukber adalah wacana yang dikontestasikan. Ia menghasilkan makna baru yang terus diperbarui setiap tahun.

Bukber dan Inklusi Sosial

Menariknya, bukber hari ini tidak lagi eksklusif bagi mereka yang berpuasa. Kawan-kawan non-Muslim pun tidak segan untuk berpartisipasi, duduk bersama, ikut merasakan atmosfer menunggu azan. Ini bukan sekadar toleransi formal. Ini adalah pergeseran simbolik.

Dalam bahasa Bourdieu, arena bukber sedang mengalami transformasi struktur. Ia tidak lagi murni religius, tetapi menjadi ruang sosial yang inklusif. Keragaman agama tidak diposisikan sebagai batas, melainkan sebagai latar belakang.

Di kota-kota seperti Jakarta,Bandung dan Yogyakarta, fenomena bukber lintas iman semakin lazim. Ia memperlihatkan bahwa praktik kultural bisa menjadi jembatan dialog multikultural. Kebersamaan lebih utama daripada perbedaan.

Bukber, dalam konteks ini, adalah ritus integratif. Ia memperkuat harmoni sosial dengan cara yang sederhana: duduk, menunggu, berbagi.

Buber sebagai Reproduksi Kultural 

Baca juga : Layvin Kurzawa Tak Sabar Debut Bersama Persib

Sebagai proses reproduksi kultural, bukber mengulang pola yang sama setiap tahun. Tetapi dalam pengulangan itu, ia tidak identik. Selalu ada negosiasi makna.

Hari ini, bukber menjadi ruang di mana identitas keagamaan bertemu dengan identitas kebangsaan. Ia memosisikan keberagaman bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai kenyataan yang harus dirawat.

Jika konflik dan perdebatan kerap memenuhi ruang publik, maka bukber menghadirkan alternatif: harmoni yang dibangun dari meja makan. Mungkin terdengar sederhana. Namun justru di kesederhanaan itu makna sosial bekerja.

Bourdieu mengingatkan kita bahwa praktik sehari-hari adalah fondasi struktur sosial. Maka bukber bukan hanya kegiatan teknis. Ia adalah tindakan simbolik yang mereproduksi nilai: solidaritas, kedamaian, dan kepercayaan.

Di masa depan, jika dikelola dengan kesadaran reflektif, bukber bisa menjadi infrastruktur kultural dialog antarumat. Ia mengajarkan bahwa kebersamaan lebih penting daripada sekat identitas.

Dan mungkin, di antara tegukan air pertama setelah azan, manusia Indonesia sedang belajar satu hal yang paling mendasar: bahwa damai itu dibangun dari perjumpaan, bukan dari perdebatan. [*]

Powered by Froala Editor

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense