Dark/Light Mode

Kecacingan Masih Bersama Kita

Rabu, 20 Agustus 2025 10:14 WIB
Prof. Tjandra Yoga
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan

RM.id  Rakyat Merdeka - Dalam gempita peringatan HUT Kemerdekaan ke-80, maka kita disentak dengan berita viral tentang seorang anak yang tubuhnya diberitakan ditemukan banyak cacing, dan kemudian dilaporkan meninggal dunia.

Tentu kita amat berduka dengan berita ini, dan kita baca pula komentar dari Kang Dedi Mulyadi (KDM) Gubernur Jawa Barat di berbagai media. 

Untuk analisa bagaimana keadaan klinik sebenarnya serta apa penyebab kematian maka kita perlu menunggu penjelasan resmi dari pihak Rumah Sakit, berdasar analisa medik yang mereka lakukan. Setelah analisa mendalam, maka kita baru dapat menyimpulkan perjalanan penyakit yang sebenarnya.

Selain di rumah sakit, perlu ada tindak lanjut di sekitar pemukiman anak ini, untuk melihat kemungkinan cacing di lingkungan sekitarnya dan penanganan segera supaya tidak ada kasus yang menyedihkan lagi. 

Perlu kita ketahui bahwa menurut WHO maka penyakit akibat cacing, atau biasa kita sebut kecacingan yang dalam bahasa Inggrisnya disebut “Soil-transmitted helminth” adalah infeksi yang disebabkan oleh berbagai jenis parasit cacing.

Baca juga : Pelita Air Resmikan Penerbangan Internasional Perdana Ke Singapura

Setidaknya ada tiga spesies yang banyak menulari manusia di dunia, yaitu cacing gelang yang nama ilmiahnya “Ascaris lumbricoides”, cacing cambuk (“Trichuris trichiura”) dan cacing tambang yang dapat berupa “Necator americanus”  dan  “Ancylostoma duodenale”.  

Tiga kelompok spesies-spesies ini memang biasanya dikelompokkan karena memerlukan prosedur diagnostik yang serupa dan merespons obat yang sama.

Selain itu WHO juga menyebutkan spesies cacing lain, “Strongyloides stercoralis” yang adalah cacing usus dengan karakteristik khusus yang memerlukan metode diagnostik yang berbeda dibandingkan cacing yang ditularkan melalui tanah lainnya.

Secara umum penyakitnya ditularkan melalui telur cacing yang ada di tinja yang kemudian mengkontaminasi tanah, utamanya di daerah yang buruk sanitasinya.

Cacing dewasa hidup di usus dan menghasilkan ribuan telur setiap hari. Di daerah dengan sanitasi yang buruk, telur-telur ini mencemari tanah.

Baca juga : Empat Perwira Bintang Tiga Masuk Bursa Calon Kepala Staf AL

Hal ini dapat terjadi melalui setidaknya empat cara. Pertama, telur cacing tersebut tertelan oleh anak-anak yang bermain di tanah yang terkontaminasi, lalu memasukkan tangan mereka ke dalam mulut tanpa mencucinya.

Kedua, telur yang menempel pada sayuran tertelan ketika sayuran tidak dimasak, dicuci, atau dikupas dengan hati-hati. Ketiga, telur tertelan dari sumber air yang terkontaminasi dan keempat memalui telur cacing tambang yang menetas di dalam tanah, melepaskan larva yang kemudian berkembang menjadi bentuk yang dapat secara aktif menembus kulit.

Orang-orang terinfeksi cacing tambang terutama karena berjalan tanpa alas kaki di tanah yang terkontaminasi.

Anak yang terinfeksi biasanya mereka yang dengan gangguan fisik dan nutrisi, artinya gizinya tidak baik. Kalau saja yang tertukar adalah anak perempuan atau perempuan dalam usia reproduktif maka dapat saja mengakibatkan anemia kekurangan zat besi dan meningkatkan risiko kematian bayi dan ibu dan atau kelahiran bayi dengan berat badan lahir rendah.

Untuk penanganan kecacingan ini, maka WHO menyampaikan setidaknya ada empat pendekatan. Pertama adalah konsumsi obat cacing secara berkala, kedua penyuluhan kesehatan untuk mencegah infeksi dan infeksi ulangan, ketiga memperbaiki sanitasi untuk mengendalikan kontaminasi tanah oleh telur cacing, dan keempat -kalau sudah terjadi penyakit- maka sebenarnya sudah tersedia obat yang aman dan efektif untuk mengobatinya.

Baca juga : Influencer Diare, Penerbangan Pesawat Ditunda

Obat-obatan yang direkomendasikan WHO, albendazol (400 mg) dan mebendazol (500 mg) sudah terbukti efektif, murah, dan mudah diberikan. Selain itu juga ada obat Ivermectin untuk mengendalikan cacing lain lagi, yaitu Strongyloides stercoralis.

WHO sudah mencanangkan target global pengendalian kecacingan (“Soil-transmitted helminth”) untuk tahun 2030. Tentu akan bagus kalau kita di Indonesia juga menetapkan target yang jelas pula, apalagi kalau kita akan menyongsong Indonesia Emas 2045 yang tentu tidak elok kalau masih ada masalah kecacingan di masa itu nantinya. 

Dapat juga disampaikan di sini bahwa kecacingan adalah bagian dari penyakit tropik terabaikan (“neglected tropical diseases – NTD”), bersama dengan beberapa penyakit lain yang juga masih ada di negara kita, seperti demam keong (“Scistosomiasis”), kaki gajah  (filariasis) dan patek (frambusia).

Kejadian menyedihkan kecacingan pada anak di Jawa Barat ini kembali menunjukkan bahwa selain menangani penyakit-penyakit yang ranking kita masih tinggi di dunia (seperti tuberkulosis) maka berbagai penyakit tropik terabaikan harus mendapat perhatian penting pula.

Prof Tjandra Yoga Aditama
-Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University
-Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit serta Kepala Balitbangkes
-Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara
-Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.