BREAKING NEWS
 

Denny JA Soroti Lahirnya Kelas Baru Pekerja Digital Rentan Di Era Algoritma

Reporter & Editor :
ADITYA NUGROHO
Minggu, 14 Juni 2026 14:43 WIB
Denny JA. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pendiri LSI Denny JA menilai Indonesia tengah menyaksikan kemunculan cikal bakal kelas sosial baru yang lahir dari revolusi digital, yakni Digitally Vulnerable Class (DVC) atau pekerja digital yang rentan.

Pandangan tersebut disampaikan Denny dalam esainya berjudul Datangnya Kapitalisme Algoritma dan Cikal Bakal Lahirnya Kelas Baru: Pekerja Digital yang Rentan (DVC) yang dipublikasikan melalui akun Facebook Denny JA’s World.

Menurut Denny, dunia saat ini memasuki fase baru perkembangan kapitalisme yang berbeda dari kapitalisme industri pada abad ke-19 maupun kapitalisme finansial pada abad ke-20.

“Jika kapitalisme industri bertumpu pada mesin dan kapitalisme finansial bertumpu pada modal, maka kapitalisme algoritma bertumpu pada data dan algoritma,” kata Denny dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Minggu (14/6/2026).

Ia menjelaskan, dalam sistem kapitalisme algoritma, algoritma tidak lagi sekadar membantu proses produksi, tetapi turut menentukan akses seseorang terhadap pekerjaan, penghasilan, reputasi, hingga peluang ekonomi.

Baca juga : Dony Oskaria Jelaskan Strategi Percepatan Belanja Pemerintah

Denny mencontohkan jutaan pengemudi transportasi daring, kurir digital, pekerja lepas, kreator konten, hingga pelaku usaha daring yang bekerja melalui platform digital dengan aturan yang dapat berubah sewaktu-waktu melalui pembaruan sistem.

Berdasarkan berbagai estimasi, jumlah pekerja platform digital di Indonesia telah mencapai sekitar 4 juta orang, sementara pekerja dalam ekosistem ekonomi digital secara lebih luas telah berkembang menjadi puluhan juta orang.

Menurut dia, perkembangan tersebut melahirkan bentuk kerentanan baru yang belum dikenal pada era sebelumnya. “Seorang pengemudi ojek online kehilangan penghasilannya hanya karena satu notifikasi aplikasi. Ia tidak dipecat manusia. Ia dihentikan oleh algoritma,” ujarnya.

Adsense

Denny menilai, DVC memiliki karakteristik berbeda dibandingkan konsep proletariat yang diperkenalkan Karl Marx maupun precariat yang diperkenalkan Guy Standing. Jika proletariat bergantung pada pemilik pabrik dan precariat bergantung pada pasar kerja yang tidak stabil, maka DVC bergantung pada algoritma dan platform digital.

“Jika pasar menentukan nasib precariat, maka algoritma menentukan nasib DVC,” katanya.

Baca juga : Allano Lima Pamit dari Persija, Akui Berat Tinggalkan Jakmania

Ia mengidentifikasi tiga ciri utama DVC. Pertama, kerentanan algoritmik, yakni kondisi ketika pendapatan, visibilitas, reputasi, hingga keberlangsungan pekerjaan dapat berubah akibat keputusan sistem digital yang tidak transparan.

Kedua, identitas kolektif digital. Meski bekerja di lokasi berbeda dan tidak saling bertemu, para pekerja digital terhubung melalui aplikasi, media sosial, dan komunitas daring yang membentuk solidaritas baru.

Ketiga, kerawanan harapan. Menurut Denny, banyak pekerja digital menggantungkan harapan pada kemungkinan satu unggahan menjadi viral, peningkatan peringkat, atau perubahan algoritma yang dapat memperbaiki kondisi ekonomi mereka.

Denny menilai, DVC belum dapat dikategorikan sebagai kelas sosial baru yang mapan. Namun, berbagai perkembangan yang terjadi menunjukkan kelompok tersebut berpotensi menjadi kelas sosial baru paling menonjol di era digital.

“Abad ke-19 melahirkan proletariat. Abad ke-20 melahirkan precariat. Abad ke-21 mungkin akan dikenang sebagai abad yang melahirkan manusia yang hidup di bawah bayang-bayang algoritma,” ujarnya.

Baca juga : Denny JA: Macron Dan Prabowo, Dua Pemain Geopolitik Yang Hebat

Ia juga mendorong negara dan perusahaan platform digital untuk mengakui keberadaan kelompok tersebut serta menyusun perlindungan sosial yang sesuai dengan risiko yang dihadapi pekerja digital.

Sebagai perbandingan, Denny menyebut Uni Eropa telah menetapkan regulasi Platform Work Directive guna menjamin hak-hak pekerja digital. Ia menilai Indonesia perlu mempertimbangkan regulasi serupa agar fleksibilitas ekonomi platform tetap sejalan dengan perlindungan kesejahteraan pekerja.

Dalam esainya, Denny menutup dengan peringatan bahwa tantangan besar abad ke-21 tidak lagi semata-mata terkait relasi antara buruh dan pemilik modal, melainkan hubungan antara manusia dan sistem teknologi yang diciptakannya sendiri.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense