Kabar berpulangnya M. Ali Surakhman (52), pegiat budaya di Jambi, saya terima dari pesan singkat Deki Syaputra ZE, dosen Universitas Batanghari Jambi, dan Jauhar Mubarok, Pamong Budaya Balai Pelestarian Kebudayaan Kepri, Sabtu (17/10/2026) siang. Keduanya sahabat dekat almarhum. Deki kawan sekampung, sedangkan Jauhar teman seperjuangan saat menjadi penyuluh budaya non-PNS Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sekitar 2012.
Kabar duka itu menyesakkan dada. Sejak Bang Ali sakit beberapa tahun silam, komunikasi kami praktis terhenti. Tiba-tiba berita menyedihkan ini datang. Apalagi, sejak 2020 saya tidak pernah lagi menginjakkan kaki di Jambi. Saya terkenang perjumpaan pertama dengan almarhum di rumahnya, di kawasan Perumnas Kota Baru, Jambi, sekitar 2015. Jauhar Mubarok yang mengenalkan saya dengan sahabatnya itu.
Dunia ternyata sempit. Ali Surakhman masih memiliki hubungan saudara dengan Erin Arwika, kawan satu angkatan saya di Jurusan Ilmu Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Andalas, tahun 1998. Erin sudah lama menghilang dari media sosial, dan Bang Ali yang mempertemukan kami kembali. Ia pula yang mengantar saya ke rumah Erin di Thehok, Jambi. Sejumlah rekan almarhum juga sudah lama saya kenal sejak kuliah di Padang. Salah satunya Nukman, senior kami dari Sastra Indonesia Unand yang kini menjabat Kepala Balai Bahasa Maluku Utara.
Selama bekerja di Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Kepri pada 2014-2021, hampir setiap tahun saya pergi ke Jambi, kadang sampai dua kali. Kegiatannya beragam: kajian atau penelitian, pendataan warisan budaya takbenda (WBTB), pembuatan film dokumenter, hingga lawatan sejarah daerah. Wilayah kerja BPNB Kepri mencakup empat provinsi, yakni Kepri, Riau, Jambi, dan Bangka Belitung. Sejak awal bekerja di BPNB Kepri, saya tertarik meneliti Jambi. Dibandingkan Kepri dan Riau, saya merasa Jambi masih menyimpan banyak ruang kajian yang menarik. Karakter masyarakatnya yang multietnik juga membuat saya tertarik.
Baca juga : Festival Pustakarsa 2026 Hadirkan Kekayaan Sejarah dan Budaya Jakarta
Setiap datang ke Jambi, saya biasanya menghubungi Bang Ali dan berkunjung ke rumahnya. Saya juga mengenal istrinya, yang sehari-hari bekerja di Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi, kini Balai Pelestarian Kebudayaan Jambi. Pekerjaannya sebagai pamong budaya membuat waktunya cukup fleksibel. Ia selalu siap mengantar saya ke berbagai tempat. Kami biasa berkunjung ke kampus Universitas Jambi, Taman Budaya Jambi, atau kantor BPCB Jambi, lalu melanjutkan perjalanan hingga ke Candi Muaro Jambi.
Sebagai “Petunjuk Jalan”
Dalam penelitian dan pendataan budaya di Jambi, Ali Surakhman menjadi kawan diskusi yang menyenangkan. Ia memberi referensi narasumber dan informasi tentang orang-orang yang bisa dihubungi. Sejumlah artikel saya tentang Jambi tidak lepas dari bantuannya, antara lain “Perdagangan Lada di Jambi Abad XVI-XVIII” di Jurnal Handep (2018), “Eksploitasi Minyak di Jambi Tahun 1922-1948” di Jurnal Pangadereng (2020), serta “Harmonisasi Antar Etnik di Kabupaten Batanghari, Jambi Abad IX-XX” di Jurnal Renjis (2019). Bang Ali, alumni Universitas Bung Hatta, Padang, ikut membuka jalan bagi penelitian-penelitian itu.
Saat menulis sejarah eksploitasi minyak di Jambi, misalnya, Bang Ali menyampaikan informasi menarik. Istrinya berasal dari Matur, Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Sejarah orang Matur yang datang ke Jambi berkaitan dengan kegiatan penambangan minyak di daerah itu. Di Matur pernah ada Sekolah Ukur Matur (SUMA), dan lulusannya dibutuhkan dalam kegiatan eksploitasi minyak di Jambi. Banyak orang Matur kemudian merantau ke Jambi.
Baca juga : Menteri PU Instruksikan Penanganan Banjir Padang & 14 Titik Longsor Tapan-Jambi
Saat ada pendataan WBTB di Kerinci dan Sungai Penuh, Bang Ali dengan bersemangat menghubungi pegiat budaya dan pejabat pemerintahan setempat. Sambil bercanda, ia mengatakan bahwa cukup menyebut nama Ali Surakhman atau Nukman, insyaallah orang-orang di sana akan memberi informasi. Ketika turun ke lapangan, saya merasakan sendiri bagaimana jaringan pertemanan Bang Ali membantu kelancaran kegiatan.
Melalui Bang Ali pula, saya mendapat banyak teman dari kalangan pegiat budaya Jambi. Ada Wenri Wanhar, Jumardi Putra, Azhar MJ, Herri Novealdi alias Herri Posmo, Irma Sagala, Irma Tambunan, Sean Popo Hardi, Taufik Hidayat Rusti, dan kawan-kawan lainnya. Setiap turun ke Jambi, selalu ada hal menarik. Kawan-kawan pegiat budaya di sana gemar berdiskusi. Topik penelitian yang sedang saya kerjakan sering menjadi bahan diskusi, baik di kampus maupun di kedai kopi.
Bang Ali dikenal gigih menggeluti kebudayaan, terutama budaya Kerinci, kampung halamannya. Ayahnya, Alimin, adalah seorang depati dan tokoh adat yang dikenal di Kerinci. Ali tekun mempelajari kebudayaan alam Kerinci dan kerap diundang dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan daerah itu. Melalui lembaga swadaya masyarakat For The Kerinci of Culture, ia juga menulis tentang perlindungan karya budaya Kerinci, seperti Ritus Asyeik dan tari Iyo-iyo.
Banyak kenangan saya bersama Bang Ali. Ia perokok berat dan kuat begadang sampai tengah malam. Saat batu akik sedang jaya, ia ikut mengasah batu di rumahnya. Tangannya lihai mengolah batu-batu berkualitas. Kami juga sering berburu makanan enak di Kota Jambi, bukan hanya mencari kedai kopi yang cocok. Ia hafal makanan kesukaan saya: masakan Minang seperti kikil, tunjang, cincang, atau gajeboh.
Baca juga : Menteri PU Percepat Penanganan 8 Titik Longsor Di Ruas Tapan-Jambi
Kini, Bang Ali sudah tiada. Jambi terasa kian jauh. Sejak pindah ke Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada awal 2022, saya tidak pernah lagi melakukan penelitian ke Jambi. Bang Ali, selamat jalan.**
Powered by Froala Editor
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.