BREAKING NEWS
 

Didik Rachbini Kenang Abdullah Syarwani, Pelopor Santri Modern

Reporter & Editor :
ADITYA NUGROHO
Selasa, 3 November 2026 10:24 WIB
Abdullah Syarwani bersama Gus Dur di Pondok Pabelan, Magelang 1978. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Rektor Universitas Paramadina Didik J Rachbini mengenang, Abdullah Syarwani, mantan anggota DPR dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sekaligus mantan Duta Besar RI untuk Lebanon, yang meninggal dunia pada Senin (2/11/2026), tepat pada hari ulang tahunnya yang ke-83.

Didik menilai, perjalanan hidup Abdullah Syarwani merupakan gambaran penting transformasi kaum santri Indonesia. Almarhum menjadi representasi generasi santri yang berhasil menapaki pendidikan tinggi modern, terlibat dalam gerakan intelektual dan masyarakat sipil, hingga memasuki dunia politik dan diplomasi.

“Abdullah Syarwani tidak terlalu dikenal seperti Muhaimin atau Hamzah Haz, tetapi perjalanannya dari dunia pesantren Tebuireng yang tradisional masuk ke pendidikan tinggi modern Universitas Gadjah Mada, kemudian terjun ke lingkungan dan gerakan intelektual LP3ES adalah perjalanan yang sangat menarik sebagai refleksi gerak vertikal kaum santri,” kata Didik dalam tulisan mengenang almarhum, Selasa (3/11/2026).

Menurut Didik, perjalanan Syarwani tergolong istimewa karena mampu menjembatani lingkungan pesantren tradisional dengan pendidikan modern. Pada akhir 1960-an, Syarwani termasuk generasi awal santri yang menempuh pendidikan tinggi di bidang ilmu sekuler hingga meraih gelar sarjana hukum dari Universitas Gadjah Mada (UGM).

Baca juga : Prof Didik Kenang Peran Widodo AS dalam Reformasi TNI

Mengutip pandangan sahabat Syarwani di LP3ES, Fachry Ali, Didik menyebut perjalanan akademik tersebut sebagai sesuatu yang spesifik, bahkan eksotik. Pencapaian Syarwani menjadi salah satu penanda awal keterlibatan kaum santri dalam pendidikan tinggi modern, jauh sebelum generasi santri berikutnya memasuki perguruan tinggi dan ruang publik.

Setelah menyelesaikan pendidikan di UGM, Syarwani bergabung dengan Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), sebuah lembaga yang menjadi bagian dari gerakan intelektual masyarakat sipil. Di lembaga tersebut, ia dipercaya menjadi Kepala Program Pengembangan Pesantren.

Adsense

Didik menjelaskan, keterlibatan Syarwani di LP3ES turut mempertemukan kalangan santri dengan kelompok intelektual berlatar belakang sekuler. Keberagaman tersebut menjadikan LP3ES sebagai ruang pertemuan berbagai latar belakang pemikiran dalam mendorong modernisasi masyarakat, termasuk lingkungan pesantren.

Setelah menyelesaikan kiprahnya di LP3ES, Syarwani melanjutkan pengabdian dalam gerakan masyarakat sipil melalui Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI). Aktivitas tersebut memperlihatkan keterlibatannya dalam gerakan sosial yang menjadi mitra pemerintah.

Baca juga : Kadin Dorong Industri Jadi Lokomotif Ekonomi

“LP3ES sendiri mengarahkan programnya ke pesantren untuk menjadikan modernisasi bagi kalangan santri. Akhirnya pesantren sendiri menjadi lembaga yang aktif sebagai bagian paling aktif dari gerakan civil society,” ujar Didik.

Dalam perjalanan berikutnya, Syarwani memasuki dunia politik dengan bergabung bersama PPP dan menjadi anggota DPR. Ia kemudian melanjutkan pengabdiannya di bidang diplomasi sebagai Duta Besar RI untuk Lebanon.

Didik menilai, perjalanan Syarwani tidak hanya menggambarkan biografi seorang tokoh, tetapi juga mencerminkan perubahan sosial yang lebih luas dalam sejarah Indonesia. Mobilitas kaum santri menuju pendidikan tinggi, dunia sosial, politik, dan pemerintahan menjadi bagian dari transformasi tersebut.

“Perjalanan hidup dan pergerakannya tidak menggelegar seperti tokoh-tokoh santri pada saat ini. Tetapi perjalanan hidupnya tidak hanya merupakan biografi pribadi, melainkan juga menjadi cermin perubahan besar dalam sejarah masyarakat Indonesia,” kata Didik.

Baca juga : IHSG Anjlok, Prof Didik Singgung Soal Trust

Ia menambahkan, perjalanan Syarwani mempertemukan dua dunia yang kerap dianggap terpisah, yakni tradisi keagamaan dan pendidikan modern, pesantren dan universitas, serta nilai-nilai keislaman dan gagasan pembangunan modern.

Menurut Didik, warisan perjalanan hidup Syarwani terletak pada kontribusinya membuka jalan bagi mobilitas vertikal kaum santri. Generasi santri berikutnya semakin banyak memasuki berbagai bidang, mulai dari pendidikan, politik, hingga kehidupan sosial dan kemasyarakatan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense