RM.id Rakyat Merdeka - Pilpres Amerika Serikat (AS) diwarnai insiden berdarah. Capres AS dari Partai Republik, Donald Trump ditembak saat kampanye di Butler, Pennsylvania, Sabtu (13/7/2024). Trump selamat, hanya luka di kupingnya. Banyak yang menganalisis insiden tersebut. Salah satunya, terkait kemungkinan Trump mendapatkan simpati pemilih dan memenangkan Pilpres. Bahkan, ada yang berani memprediksi, 99 persen Trump akan mampu menumbakan lawannya, Joe Biden.
Awalnya, kampanye Trump di Pennsylvania berjalan lancar. Trump, yang mengenakan kemeja putih dibalut jas biru dongker dipadukan topi merah berslogan ‘Make America Great Again’, semangat berorasi di atas panggung. Namun, tiba-tiba terdengar suara desingan tembakan beruntun. Trump terlihat langsung memegangi telinga kanannya sambil membungkuk di balik mimbar.
Para pendukung Trump yang berada di belakang panggung, panik dan berteriak histeris. Secret Service dan polisi lokal langsung mengerumuni Trump dan berjaga di sekitar panggung untuk mengamankan lokasi. Dari balik mimbar terlihat darah segar sudah mengalir dari telinga kanan Trump dan membasahi pipinya.
Usai situasi dipastikan aman, Trump langsung berdiri. Dengan topi terlepas dan rambut berantakan, ia tidak menunjukkan rasa takut di wajahnya. Trump justru memperlihatkan kemarahannya kepada pelaku serangan. Sambil mengepalkan tinjunya, dia teriak "fight" saat petugas keamanan membawanya turun dari panggung.
Beberapa jam setelah peristiwa tersebut, Trump menyampaikan kondisinya lewat unggahan di media sosial miliknya, Truth Social. Dia mengaku tertembak peluru yang menembus bagian atas telinga kanan. Ia bersyukur karena selamat dari peristiwa ini.
“Banyak pendarahan, jadi saya menyadari apa yang terjadi. Tuhan memberkati Amerika!” ucap Trump.
Baca juga : Bukan untuk Jatuhkan Menag, Pansus Haji Didukung Partai Pemerintah
Dalam peristiwa itu, ada seorang pendukung Trump di antara kerumunan yang tewas akibat luka tembak. Ditambah dua orang lainnya mengalami luka kritis.
Secret Service bergerak cepat melumpuhkan pelaku. Paspampres AS itu menembak mati terduga pelaku penyerangan. Berdasarkan hasil identifikasi FBI, tersangka penembakan adalah Thomas Matthew Crooks yang berusia 20 tahun. Pria ini diketahui berasal dari Bethel Park di Pennsylvania, sekitar 70 kilometer dari tempat kejadian perkara. Dia ditembak mati agen Secret Service setelah ketahuan menembak dari atas atap gedung menggunakan senjata laras panjang.
Joe Biden bereaksi cepat dengan mengecam upaya pembunuhan terhadap rivalnya itu. Presiden incumbent AS ini juga mengaku bersyukur karena Trump berhasil selamat.
“Tidak ada tempat untuk kekerasan seperti ini di Amerika. Kita harus bersatu sebagai satu bangsa untuk mengutuknya,” ujar Capres dari Partai Demokrat ini.
Sejumlah pemimpin dunia ikut mengecam aksi penembakan di kampanye umum Trump. Termasuk Presiden Jokowi. Jokowi menyampaikan doa bagi kesembuhan Trump dan semua orang yang menjadi korban pada insiden itu.
"Segala bentuk kekerasan tidak dapat dibenarkan di dalam kehidupan berdemokrasi di seluruh dunia," kecam Jokowi, lewat keterangan tertulis yang dibagikan di akun media sosial X @jokowi, pada Minggu (14/7/2024).
Baca juga : Sikap Prabowo Sama Dengan Jokowi, Keamanan Penting untuk Jaga Pembangunan
Akibat peristiwa ini juga memunculkan berbagai spekulasi terkait pemenang Pilpres Amerika Serikat. Founder & Chairman Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal meyakini, Trump 99 persen mampu keluar sebagai Presiden terpilih pada November mendatang.
“Dalam beberapa minggu ke depan, seluruh perhatian publik akan beralih ke Trump. Simpati terhadap Trump naik signifikan. Isu-isu penting akan terbengkalai sementara, nasionalisme AS akan melonjak ke arah Trump,” kata Dino, melalui platform X, Minggu (14/7/2024).
Mantan Wakil Menteri Luar Negeri ini menilai, citra Trump sebagai korban selamat percobaan pembunuhan dengan muka yang penuh darah, namun terus mengepalkan tinju, akan dikontraskan dengan citra Biden yang secara mental dan fisik nampak lemah dan uzur.
“Profil penembak--apakah itu afiliasi politik, status sosial ekonomi, bahkan ras dan agama--jika terungkap, juga dapat berpengaruh terhadap respons publik dan politik terhadap aksi penembakan ini,” tutur Dino.
Sementara, Rektor Universitas Achmad Yani sekaligus Guru Besar Hukum Internasional di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI) Prof Hikmahanto Juwana menyampaikan, banyak spekulasi yang muncul terkait motif di balik serangan terhadap Trump.
Kata dia, setidaknya ada tiga narasi yang berkembang. Pertama, tindakan tersebut dilakukan kubu Partai Demokrat yang mengusung Biden dan menjadi lawan Trump di Partai Republik. Kedua, narasi lone wolf, atau pelaku yang tidak ada kaitan sama sekali dengan partai namun merasa khawatir jika Trump terpilih menjadi Presiden Amerika.
Baca juga : Zul Bilang, Emil Fokus Di Jabar
“Terakhir, spekulasi bahwa ini semua inisiatifnya justru dari kubu Trump. Karena dalam situasi seperti ini, tentu bisa mem-boost atau mendorong banyaknya suara untuk Trump,” ucapnya, Minggu (14/7/2024).
Prof Hikmahanto melanjutkan, sampai saat ini belum bisa ditarik kesimpulan apa motif pelaku. Harus menunggu hasil investigasi lebih lanjut. Belum bisa dipastikan apa memang ada teori konspirasi atau mungkin ada intervensi pihak dunia ketiga.
“Yang jelas, kejadian seperti ini patut disayangkan. Demokrasi seharusnya dilakukan tanpa adanya kekerasan,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.