RM.id Rakyat Merdeka - Direktur Dinas Rahasia AS Kim Cheatle mengundurkan diri setelah gagal menjamin keamanan dalam acara kampanye Donald Trump di Butler, Pennsylvania, yang berujung pada upaya pembunuhan terhadap Presiden ke-45 AS itu.
"Sebagai direktur yang membawahi Anda, saya bertanggung jawab penuh atas penyimpangan keamanan," kata Cheatle dalam surat pengunduran diri kepada staf Dinas Rahasia, seperti dilansir BBC.
Sebelumnya, dalam sidang kongres yang kontroversial tentang penembakan Trump pada Senin (22/7/2024), Cheatle menghadapi tekanan untuk mundur dari Partai Demokrat dan Republik.
Anggota parlemen terlihat frustrasi, ketika Cheatle menolak menjawab pertanyaan tentang penembakan Trump di Butler, Pennsylvania, awal bulan ini.
"Saya selalu mengutamakan kebutuhan lembaga. Keputusan ini saya ambil dengan berat hati," tulis Cheatle.
Baca juga : Ketum AMI: Pemerintahan Baru Harus Komit Terhadap Pelestarian Seni Budaya
Menurutnya, pengawasan dalam seminggu terakhir telah intens dan akan terus berlanjut seiring peningkatan tempo operasional Dinas Rahasia AS.
"Saya tidak ingin, desakan pengunduran diri saya menjadi pengalih perhatian dari pekerjaan besar yang Anda semua lakukan terhadap misi vital kami," tutur Cheatle.
Biden Terima Kasih
Dalam pernyataannya, Presiden Joe Biden mengucapkan terima kasih atas layanan publik yang telah diberikan Cheatle, selama beberapa dekade.
"Ulasan independen untuk sampai ke dasar penyelidikan dari apa yang terjadi pada 13 Juli berlanjut. Saya berharap, kita bisa menilai kesimpulannya. Kita semua tahu, apa yang terjadi hari itu tidak akan pernah terjadi lagi," ucapnya.
Biden menunjuk Cheatle untuk mengepalai Dinas Rahasia - yang bertugas mengawasi perlindungan presiden saat ini, mantan presiden dan pejabat lainnya - pada tahun 2022.
Baca juga : Insiden Penembakan Di Dekat Masjid Oman, 4 Orang Tewas
Cheatle sebelumnya telah menjalankan tugas di lembaga tersebut selama 27 tahun, dalam berbagai peran.
Cheatle pernah terlibat dalam mengevakuasi Wakil Presiden Dick Cheney dari Gedung Putih, saat terjadi serangan 11 September 2001.
Sebelum menjabat Asisten Direktur Operasi Pelindung, Cheatle bertugas menjaga keamanan Biden ketika dia menjabat wakil presiden era Barack Obama.
Kepemimpinan Cheatle dalam mengomandoi Dinas Rahasia AS dipertanyakan saat Trump terserempet peluru di tengah kampanye di Butler, Pennsylvania.
Insiden penembakan ini menelan dua korban jiwa - termasuk pelaku - dan dua lainnya terluka parah.
Baca juga : Siapa Pelaku Penembakan Donald Trump, Ini 4 Kemungkinan Menurut Pakar
Saksi mata mengaku melihat seorang pria bersenjata api dengan tingkah mencurigakan di atas atap, beberapa menit sebelum kejadian. Pria yang kemudian diidentifikasi sebagai Thomas Matthew Crooks itu, tewas tertembak oleh counter-sniper tak lama setelah itu.
Telat Mundur
Selama kesaksiannya, Cheatle tidak menyampaikan informasi baru kepada anggota parlemen, tentang bagaimana Crooks dapat mengakses atap tempat dia bertengger dan mengapa Trump diizinkan naik ke panggung.
Setelah sidang, Partai Republik dan Demokrat terkemuka dari komite - James Comer dan Jamie Raskin - mengirim surat kepada Cheatle. Keduanya mendesak Cheatle mundur.
Ketua DPR Republik Mike Johnson menyebut Cheatle terlambat mengundurkan diri.
"Kita harus membangun kembali kepercayaan dan kepercayaan rakyat Amerika pada Dinas Rahasia," katanya kepada wartawan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.