RM.id Rakyat Merdeka - Pemerintah Amerika Serikat (AS) kembali memberikan Hibah Compact kedua melalui Millennium Challenge Corporation (MCC) kepada Indonesia senilai 649 juta dolar AS atau sekitar Rp 9,9 triliun. Pemberian hibah ini diberikan selama periode 2024-2029.
Duta Besar AS untuk Indonesia Kamala Lakhdhir mengatakan, hibah ini ditujukan untuk mendukung kemitraan strategis antara AS dan Indonesia, sekaligus meningkatkan ekonomi Indonesia.
“Di perayaan 75 tahun hubungan Amerika Serikat dengan Indonesia, hibah ini menjadi bukti nyata komitmen kami meningkatkan kesejahteraan di semua kalangan,” ujar Dubes Lakhdhir saat peluncuran Program Compact di Energy Building, Jakarta, Rabu (4/9/2024).
Dalam perjanjian Compact, MCC memberikan kewenangan penuh kepada Indonesia untuk melaksanakan Program Compact sesuai dengan prioritas pembangunan nasional.
Baca juga : Dubes Jepang Untuk RI Masaki Yasushi Serahkan Penghargaan Untuk OISCA Indonesia
Pada model hibah MCC, negara mitra bertanggung jawab membentuk entitas pengelola sendiri yang disebut MCA. Terdiri dari unsur Pemerintah, swasta, akademisi dan organisasi masyarakat sipil.
Untuk Indonesia, pihak tersebut dikenal sebagai MCA-Indonesia II, yang dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden No. 80/2011 tentang Dana Perwalian.
Sebagai informasi, program compact pertama berlangsung dari 2013 hingga 2018. Tujuan utama dari MCA-Indonesia II, yakni mengurangi kemiskinan melalui peningkatan kapasitas perencanaan, penyiapan proyek, dan pembiayaan inovatif untuk infrastruktur. Termasuk meningkatkan akses pembiayaan bagi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).
Pengembangan UMKM dan infrastruktur dengan dana hibah MCC dilakukan di lima provinsi, yaitu Sumatera Selatan, Riau, Kepulauan Riau, Sulawesi Utara dan Bali.
Baca juga : PGN Bukukan Laba Bersih Rp 2,8 Triliun Pada Semester I-2024
Dalam keterangan tertulis MCC, ada sejumlah komponen utama program hibah ini. Pertama, Advancing Transport and Logistics Accessibility Services (ATLAS) Project yang bertujuan meningkatkan perencanaan dan pengembangan infrastruktur transportasi di Sumatera Selatan, Riau, Kepulauan Riau, Sulawesi Utara dan Bali.
Proyek ini diharapkan mengurangi kemacetan, emisi dan meningkatkan aksesibilitas. Terutama bagi perempuan dan penyandang disabilitas, mendukung pertumbuhan ekonomi lebih merata.
Kedua, Financial Markets Development Project (FMDP), bertujuan memperkuat pasar keuangan Indonesia dengan mengembangkan instrumen keuangan inovatif seperti obligasi hijau dan pembiayaan campuran.
Proyek ini diharapkan meningkatkan akses pembiayaan infrastruktur, memperkuat kapasitas kelembagaan dan mendorong partisipasi sektor swasta dalam proyek infrastruktur strategis, serta pembangunan nasional yang berkelanjutan.
Baca juga : Dirut Pertamina: Support Bupati Indramayu Luar Biasa untuk Keselamatan Warga
Ketiga, Access to Finance for Women-owned/Micro, Small and Medium Enterprises (MSME Finance) Project dengan tujuan meningkatkan akses pembiayaan bagi UMKM, terutama yang dimiliki perempuan.
Beberapa tantangan yang hendak diatasi, antara lain kendala kurangnya jaminan, literasi keuangan dan bias gender.
Proyek ini menyediakan fasilitas pembiayaan inklusif, pelatihan literasi digital dan keuangan, serta peningkatan kapasitas UMKM untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.