RM.id Rakyat Merdeka - Alunan merdu alat musik khas Timur menggema di Puncak Waringin, Labuan Bajo, Kabupaten Waringin Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Inilah hari ketika para pengunjung menikmati kolaborasi apik musisi Tanah Air dan musisi negara Pasifik di daerah yang dijuluki surganya penikmat senja.
Puncak Waringin berada pada ketinggian 45-54 meter di atas permukaan laut. Tak heran, kita dapat memandang sebagian besar wilayah Labuan Bajo. Bahkan sebelum ditata pun, tempat ini sudah lama menjadi tempat favorit wisatawan dan penduduk setempat menikmati indahnya senja.
Rabu (11/9/2024), merupakan hari pertama para musisi melaksanakan residensi, yang memungkinkan mereka membangun jaringan yang kuat.
Baca juga : Duh Serem, Penularan TBC Di DKI Masih Masif
Ada tujuh musisi asing berasal dari negara-negara yang dihuni etnis Melanesia di Kawasan Pasifik. Seperti Fiji, Kaledonia Baru, Vanuatu dan Nauru. Sedang musisi Indonesia berasal dari Labuan Bajo, Maumere, Ambon, dan Jayapura.
Direktur Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Ani Nigeriawati menjelaskan, rangkaian kegiatan di Labuan Bajo merupakan bentuk diplomasi kebudayaan, saling mengenal kebudayaan satu dengan yang lain.
“Diplomasi kebudayaan sebagai alat untuk membangun hubungan baik dan mempromosikan pemahaman antarbangsa,” terang Ani.
Baca juga : Manchester City Vs Brantford, Waspada, Amukan Haaland Kambuh
Dalam program ini, Kemlu berkolaborasi dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek). Acaranya dikenal dengan Harmony for the Pacific: Connecting Indonesia and the Pacific through Culture and Shared Heritage.
Harmony for the Pacific (HfP) bertujuan meningkatkan people to people contact antara Indonesia dengan negara-negara Pasifik lainnya. Ini adalah program pertama.
“Membangun diplomasi budaya dengan negara Pasifik dengan fokus seni budaya,” ujar Ani.
Baca juga : Badminton Hong Kong Open 2024, Duo Ganda ‘Perang Saudara’
Khusus untuk residensi tari dilakukan di Maumere, Kabupaten Sikka, NTT. Acara itu melibatkan 25 peserta. Namun, pada kegiatan di Labuan Bajo melibatkan 15 seniman musik dari Indonesia dan negara-negara di Pasifik.
Para musisi yang tergabung dalam program HfP menguasai bermacam-macam alat musik, khususnya alat musik dari Timur. Beberapa menguasai gitar, ada pula yang menguasai alat musik pukul dari Papua alias tifa, biola gaba-gaba dari Ambon, gitar Papua atau yang dikenal dengan aiker, ukulele, gong waning Sikka, hingga suling bambu khas Papua.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.