BREAKING NEWS
 

Perusahaan Keamanan Siber Rusia: Institusi Pemerintah Asia Sexy Di Mata Hacker

Reporter & Editor :
FIRSTY HESTYARINI
Selasa, 17 September 2024 21:20 WIB
Ilustrasi keruwetan menghadapi ransomware. (Foto: Net)

RM.id  Rakyat Merdeka - Positive Technologies, perusahaan keamanan siber Rusia, menganalisis ancaman siber yang relevan dengan sektor publik sejak tahun 2022 hingga paruh pertama 2024.

Studi ini menyoroti wilayah dengan tingkat aktivitas serangan yang tinggi seperti Rusia dan negara-negara Asia (33 persen), Afrika (12 persen), dan Amerika Utara (12 persen). Wilayah tersebut paling diminati oleh penjahat dunia maya.

Institusi pemerintah di Asia disebut sexy bagi para hacker karena sejumlah alasan. Salah satu alasannya, negara-negara Asia telah menjadi pemimpin dalam inovasi teknologi dalam beberapa tahun terakhir. Sektor publiknya, mengalami transformasi digital. Namun, keamanan sibernya masih belum pada tingkat yang memadai.

“Selain itu, persaingan ekonomi dan perang dagang yang berlanjut di dunia maya, juga mengambil bentuk serangan yang direncanakan dengan hati-hati dan menargetkan lembaga pemerintah,” jelas Positive Technologies dalam keterangannya, Selasa (17/9/2024).

Baca juga : Bahlil: Pemerintah Siapin Sweetener Buat Investor

Hampir separuh serangan dunia maya yang berhasil (48 persen), adalah serangan ditargetkan. Mayoritas adalah kasus pelanggaran data (62 persen).

Serangan itu dilakukan oleh hacktivist dan kelompok APT yang sangat terampil. Informasi yang paling sering dicuri adalah data pribadi (33 persen) dan kekayaan intelektual (30 persen).

Sementara ransomware tetap menjadi jenis malware yang paling umum digunakan dalam serangan. Namun pada saat yang sama, para ahli mencatat penurunan popularitas ransomware di sektor publik. Dalam enam bulan pertama tahun 2024, persentase insiden ransomware dilaporkan turun 4 persen dibanding tahun 2023 dan 14 persen dibanding tahun 2022.

Lembaga pemerintah, yang biasanya menolak membayar tebusan untuk data yang dicuri, dilaporkan tetap berada di bawah ancaman.

Baca juga : Kurangi Pengangguran, DKI Bisa Tiru Karawang

Hacker menargetkan lembaga pemerintah bukan untuk keuntungan finansial. Mereka ingin mengganggu sistem pemerintah, dengan mencuri atau menghancurkan data rahasia,” jelas Positive Technologies.

Para ahli juga mengaitkan pilihan target ini, dengan sejumlah besar karyawan yang secara aktif menggunakan email dan alat komunikasi lainnya di tempat kerja. Hal itu disebut menciptakan banyak titik masuk ke infrastruktur lembaga pemerintah.

Serangan yang berhasil antara lain ditandai oleh gangguan operasi inti (48 persen insiden) dan kebocoran informasi rahasia (41 persen).

Para analis mengamati adanya peningkatan berkelanjutan dalam pelanggaran data, yang menyumbang 37 persen kasus pada tahun 2022, 41 persen pada tahun 2023, dan 48 persen pada paruh pertama tahun 2024.

Baca juga : Gelar Workshop Penanganan Kebakaran & Ledakan, Stakeholders Apresiasi PetroChina Konsisten Jaga Keselamatan

Positive Technologies membeberkan, target utama yang digunakan untuk menyusup ke jaringan pemerintah adalah komputer, server, dan peralatan jaringan. Sebanyak 80 persen serangan yang berhasil, menyasar piranti tersebut.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense