BREAKING NEWS
 

Amerika Usut Kemungkinan Kaitan Kasus New Orleans Dan Ledakan Tesla Cybertruck

Reporter & Editor :
FIRSTY HESTYARINI
Kamis, 2 Januari 2025 16:57 WIB
Presiden AS Joe Biden (Foto: Instagram)

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden memastikan, aparat hukum terus memburu siapa saja yang terlibat dalam serangan di New Orleans, yang menewaskan sedikitnya 15 orang.

Biden menyatakan, indikasi awal – termasuk video media sosial yang diunggah tersangka beberapa jam sebelum serangan – menunjukkan bahwa pelaku dipengaruhi oleh kelompok militan ISIS.

Presiden ke-46 AS ini meminta warganya untuk tidak mengambil kesimpulan sendiri, sebelum tuntas penyelidikan.

Baca juga : Korban Tabrakan Maut Di New Orleans Jadi 15, Biden: Pelaku Terinspirasi ISIS

Dia juga memastikan, aparat juga terus melakukan pengusutan untuk menggali kemungkinan, apakah kejadian di New Orleans memiliki kaitan dengan ledakan Tesla Cybertruck di luar hotel milik Presiden Terpilih Donald Trump di Las Vegas.

"FBI memimpin penyelidikan untuk menentukan apa yang terjadi dan apa penyebabnya. Serta memastikan ada tidaknya ancaman berkelanjutan terhadap keselamatan publik," kata Biden dari Camp David pada malam 1 Januari, seperti dilansir Bloomberg. Dia menyebut kekerasan di New Orleans sebagai bentuk serangan tercela.

Adsense

Penegak hukum dan komunitas intelijen akan terus mencari kaitan, asosiasi, atau bentuk-bentuk konspirasi atas serangan tersebut.

Baca juga : Peningkatan Kasus Infeksi Pernapasan Di China, Pelajaran Bagi Indonesia

Itu sebabnya, Biden meminta tak seorang pun boleh mengambil kesimpulan terburu-buru. Tersangka tewas yang kemudian diidentifikasi sebagai Shamsud-din Jabbar oleh Biro Investigasi Federal (FBI) adalah warga negara Amerika yang lahir di Texas, dan pernah bertugas di Angkatan Darat AS.

Jabbar diketahui telah mengunggah video di media sosial, yang menunjukkan keinginannya untuk membunuh.

Sebelum Trump Dilantik

Insiden di New Orleans dan Las Vegas telah mencuatkan pertanyaan tentang keamanan nasional dan terorisme. Pasalnya, dua peristiwa itu terjadi, dalam waktu beberapa minggu sebelum Trump dilantik untuk masa jabatan keduanya.

Baca juga : Kapolri Tinjau Solo Safari, Pastikan Keamanan Dan Kesiapan Jelang Libur Nataru

Lewat platform Truth Social miliknya, pada 1 Januari 2024, Trump berjanji mendukung New Orleans di tengah peristiwa keji tersebut.

Namun, Trump juga menggunakan insiden tersebut untuk menyerang keamanan perbatasan dan kejahatan. Trump tampaknya mengisyaratkan – sebelum tersangka diidentifikasi – bahwa pelaku adalah seorang imigran.

"Ketika saya mengatakan bahwa para penjahat yang datang jauh lebih buruk daripada penjahat yang ada di negara kita, pernyataan itu terus-menerus dibantah oleh Demokrat dan media berita abal-abal. Tingkat kejahatan di negara kita berada pada tingkat yang belum pernah dilihat oleh siapa pun sebelumnya," beber Trump.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense