RM.id Rakyat Merdeka - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) Antonio Guterres memperingati Hari Internasional untuk Memerangi Islamofobia dengan menyerukan upaya global untuk mempromosikan kesetaraan, hak asasi manusia, dan martabat.
Ini adalah ajakan kepada masyarakat dunia untuk bersatu melawan diskriminasi dan intoleransi terhadap umat Muslim, serta memastikan bahwa prinsip-prinsip dasar kemanusiaan dijunjung tinggi di semua lapisan masyarakat.
Dalam pernyataannya melalui video memperingati Hari Internasional untuk Memerangi Islamofobia yang diperingati setiap 15 Maret, Guterres menyampaikan, kelompok-kelompok Hak Asasi Manusia (HAM) serta PBB mencatat peningkatan kasus Islamofobia, anti Arab, dan anti Semitisme sejak dimulainya perang Israel di Gaza pada 7 Oktober 2023.
Baca juga : KPK Sita Empat Aset Tersangka
Lembaga HAM merilis data rekor jumlah insiden kebencian anti Muslim dan ujaran kebencian di negara-negara seperti Inggris, AS, dan India.
Laporan yang dirilis Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR) pada Selasa lalu mengungkap 8.658 pengaduan mengenai insiden anti Muslim dan anti Arab sepanjang 2024. Angka itu naik 7,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan jumlah tertinggi sejak kelompok tersebut mulai mengumpulkan data pada 1996.
"Meskipun umat Muslim di seluruh dunia bersatu untuk merayakan bulan suci Ramadan, banyak di antara mereka yang melakukannya dengan rasa takut. Rasa takut ini disebabkan oleh diskriminasi, pengucilan, bahkan kekerasan yang masih dialami sebagian komunitas Muslim," kata Guterres dalam video pernyataannya, dilansir Anadolu Ajensi (AA), menggarisbawahi pentingnya memerangi Islamofobia dan menciptakan dunia yang lebih inklusif dan adil.
Baca juga : Indeks Kegemaran Membaca Masyarakat Indonesia Meningkat
Ada peningkatan yang mengkhawatirkan dalam tindakan atau sikap yang menunjukkan kebencian terhadap umat Muslim. Hal ini mencakup berbagai bentuk diskriminasi, seperti profil rasial (menghakimi seseorang berdasarkan ras atau agama mereka), kebijakan yang melanggar hak asasi manusia dan martabat, hingga kekerasan fisik terhadap individu Muslim atau tempat ibadah mereka.
"Fenomena ini menunjukkan adanya ancaman serius terhadap toleransi dan hak asasi manusia," imbuhnya.
Dia menyerukan kepada pemerintah, tanpa menyebutkan negaranya, untuk meningkatkan upaya membangun kohesi sosial serta melindungi kebebasan beragama.
Baca juga : KPK Beberkan Peran Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto di Kasus Harun Masiku
“Platform daring harus melawan ujaran kebencian dan pelecehan. Kita semua harus menentang kefanatikan, xenofobia, dan diskriminasi,” tuturnya.
Selama bertahun-tahun, lanjut dia, para aktivis HAM menyuarakan keprihatinan tentang stigma yang dihadapi umat Muslim dan orang Arab karena mereka disamakan dengan kelompok bersenjata.
Saat ini, banyak aktivis pro-Palestina, termasuk negara-negara Barat seperti Amerika Serikat, mengeluhkan advokasi mereka untuk hak-hak Palestina dicap sebagai dukungan terhadap Hamas di Gaza.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.