Dark/Light Mode

Indeks Kegemaran Membaca Masyarakat Indonesia Meningkat

Kamis, 26 Desember 2024 12:19 WIB
Deputi Bidang Pengembang Sumber Daya Perpustakaan, Perpusnas, Adin Bondar. (Foto: Dok. Perpusnas)
Deputi Bidang Pengembang Sumber Daya Perpustakaan, Perpusnas, Adin Bondar. (Foto: Dok. Perpusnas)

RM.id  Rakyat Merdeka - Indeks kegemaran membaca masyarakat Indonesia meningkat. Hasil kajian yang dilakukan Perpustakaan Nasional (Perpusnas), pada tahun 2023, indeks kegemaran membaca masyarakat Indonesia ada di angka 66,70. Angka ini naik dari tahun 2022 yang sebesar 63,90. Sedangkan di 2021, masih di angka 59,52.

“Upaya mendorong budaya gemar membaca dan literasi dari tahun ke tahun mengalami satu peningkatan,” ujar Deputi Bidang Pengembang Sumber Daya Perpustakaan, Perpusnas, Adin Bondar.

Dia mengakui, angka 66,70 masih dalam kategori sedang. Namun, hal ini sudah menunjukkan adanya peningkatan kegemaran membaca, yang nantinya diharapkan menjadi kecakapan literasi.

Adin menjelaskan, peningkatan kecakapan literasi dimulai dari penumbuhan kegemaran membaca. Dari kegemaran membaca, seseorang menjadi mengetahui informasi sehingga menjadi pengetahuan, yang nantinya bisa meningkatkan kualitas hidupnya.

Baca juga : Masyarakat Sukai Riasan Multifungsi

Untuk meningkatkan kegemaran membaca, Perpusnas sudah melakukan banyak program. Di antaranya adalah penyaluran bantuan 10 juta buku bacaan berkualitas untuk 10.000 perpustakaan desa/kelurahan dan Taman Baca Masyarakat (TBM). Setiap perpustakaan mendapatkan bantuan 1.000 eksemplar buku.

Tahun ini, Perpusnas berhasil menyalurkan bantuan 10.328.600 eksemplar buku. Tahun 2025, program ini akan dilanjutkan dengan jumlah buku yang dibagikan sama banyak.

“Tahun 2025 juga 10.000 perpustakaan desa/kelurahan, TBM, plus kami tambahkan dengan rumah ibadah. Karena kita melihat, rumah-rumah ibadah itu adalah satu ruang ruang bertemunya anak-anak, maka di situ kita sediakan buku-buku bacaan,” terang Adin.

Untuk 2024, Adin menerangkan, program bantuan ini berjalan sangat baik. Respons dari masyarakat juga sangat baik. Perpusnas menerima banyak testimoni masyarakat yang menyatakan sangat senang dan terbantu dengan adanya bantuan buku-buku bacaan tersebut.

Baca juga : Musim Liburan Telah Tiba, Belanja Di Indonesia Saja

“Banyak testimoni dari masyarakat, mereka bahagia sekali punya ruang-ruang baca dan buku bacaan,” terangnya.

Idealnya, kata Adin, taman baca ada di setiap RT di seluruh Indonesia, seperti yang ada di Jakarta. Namun, saat ini ada keterbatasan fiskal negara untuk melakukannya.

Program lain yang dijalankan Perpusnas adalah menjalin kerja sama dan kolaborasi dengan kementerian/lembaga dan pihak-pihak lain. Pada 17 Mei 2024, Perpusnas menjalin kerja sama dengan Kementerian Desa. Dari kerja sama itu, kemudian dikeluarkan Surat Edaran Bersama bahwa Dana Desa bisa digunakan untuk meningkatkan literasi masyarakat. “Termasuk pembangunan perpustakaan sebagai ruang baca masyarakat,” tutur Adin.

Dengan Surat Edaran Bersama tadi, aparatur desa menjadi punya pegangan kuat dalam penggunaan anggarannya untuk program literasi. Kini mereka tidak ragu-ragu lagi. Program yang mereka kerjakan pun tidak melulu pembangunan infrastruktur, tapi juga sumber daya manusia melalui penguatan literasi.

Baca juga : Imbauan Prabowo, Stasiun TV Siarkan Lagu Indonesia Raya Serentak

Program Perpusnas selanjutnya adalah menyediakan 20 unit mobil perpustakaan keliling, 84 unit motor perpustakaan, 87 titik Tugu Baca, 25 lokus Pojok Baca Digital, dan bantuan 77 paket untuk perpustakaan komunitas. Kemudian, ada Pelatihan Membaca Nyaring, Bunda Literasi, Safari Duta Baca Indonesia, dan Sepekan 1 Buku.

Untuk meningkatkan kegemaran membaca ini, Perpusnas tidak bisa bekerjaan sendirian. Makanya, kata Adin, pihaknya terus mendorong berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, untuk sama-sama meningkatkan budaya membaca masyarakat.

Untuk pemerintah daerah, dalam Undang-Undang (UU) Nomor 23 Tahun 2014, meningkatkan literasi dan kegemaran membaca merupakan salah satu urusan wajib yang harus mereka lakukan. Sayangnya, masih banyak daerah yang kurang sadar mengenai hal ini. Bahkan, ada 21 kabupaten/kota yang belum punya struktur Dinas Perpustakaan. “Gedung perpustakaannya juga tidak ada,” beber Adin.

Perpusnas lalu memanggil 21 kabupaten/kota tersebut, untuk memfasilitasi pembentukan organisasi perangkat daerah terkait perpustakaan. “Rupanya, kebanyakan dari mereka tidak memahami pentingnya peranan perpustakaan dan literasi dalam pembangunan. Mereka justru menganggap, kalau membentuk dinas perpustakaan akan menambah beban anggaran,” tutur Adin.

Kegiatan Bantuan Perpusnas 2024

  • 10.328.600 eksemplar buku bacaan berkualitas
  • 20 unit mobil perpustakaan keliling
  • 84 unit motor perpustakaan
  • 87 titik Tugu Baca
  • 25 Pojok Baca Digital
  • 77 paket untuk perpustakaan komunitas

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.