RM.id Rakyat Merdeka - Presiden China Xi Jinping akan mengunjungi Vietnam, Malaysia, dan Kamboja pada 14-18 April 2025, tak lama setelah Presiden AS Donald Trump membidik negara-negara Asia Tenggara dengan tarif "resiprokal" atau "timbal balik" terberatnya. Demikian info Kementerian Luar Negeri China, seperti dikutip CNN International, Jumat (11/4/2025).
Sekadar latar, 2 April 2025, Trump mengumumkan tarif "timbal balik" sebesar 46 persen untuk Vietnam, 49 persen untuk Kamboja, dan 24 persen Malaysia. Namun, pada 9 April 2025, Trump mengumumkan penangguhan tarif “timbal balik” tersebut selama 90 hari.
Baca juga : Tak Ciut Hadapi Ancaman Tarif Tambahan AS, China Pastikan Berjuang Sampai Akhir
Dalam metodologi kasar yang digunakan untuk menghitung tarif "timbal balik", Vietnam dan Kamboja terdampak tarif jumbo karena mereka memiliki surplus perdagangan yang besar dengan AS.
Para ahli menilai, tarif tinggi tersebut dapat memberikan pukulan besar bagi Vietnam dan Kamboja, yang telah cukup lama menjadi produsen pakaian dan alas kaki bagi konsumen AS.
Baca juga : BPJS Ketenagakerjaan Kelapa Gading Berikan Perlindungan Bagi Anggota Ormas
Dalam beberapa tahun terakhir, setelah Trump menetapkan tarif untuk China di masa jabatan pertamanya sebagai Presiden AS, merek-merek internasional ramai memindahkan kegiatan produksinya ke negara-negara terdekat seperti Vietnam. Mereka memanfaatkan biaya tenaga kerja yang lebih rendah, dan menghindari meningkatnya ketegangan geopolitik China-AS.
Sejauh ini, China menjangkau mitra dagangnya secara proaktif dan menggembar-gemborkan penerimaannya terhadap perdagangan bebas, karena pemerintahan Trump mengancam beberapa sekutu terdekatnya dengan tarif tinggi.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.