Dark/Light Mode

Prabowo Bisa Jadi Penengah Perang Tarif antara AS, Kanada, Meksiko, dan China

Kamis, 6 Februari 2025 09:04 WIB
Diplomat senior dan pemerhati politik internasional Prof. Imron Cotan
Diplomat senior dan pemerhati politik internasional Prof. Imron Cotan

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Prabowo Subianto dapat memainkan peran sebagai mediator dalam konflik perang tarif yang tengah berlangsung antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan Kanada, Meksiko, dan China.

Hal ini disampaikan Diplomat senior dan pemerhati politik internasional Prof. Imron Cotan, dalam diskusi Gelora Talks bertajuk Perang Tarif Amerika Vs Kanada, Ada Apa?, Rabu (5/2/2025).

"Indonesia sebagai negara middle power bisa menjadi penengah, agar negara-negara besar ini tidak terus bertarung dalam perang tarif," ujar Imron Cotan.

Menurutnya, jika perang tarif ini terus berlanjut, dampaknya akan dirasakan secara global, termasuk Indonesia.

Baca juga : Kanada Dan Meksiko Siap Balas Dendam, China Mau Lapor WTO

Salah satu indikasi nyata adalah melemahnya nilai tukar rupiah yang kini sudah mencapai Rp 16.400 per dolar AS.

"Saya melihat dari perang tarif ini, yang menderita kita juga. Jika dibiarkan terus, rupiah bisa semakin terpuruk," tambahnya.

Namun, Imron Cotan optimistis bahwa Prabowo yang memiliki visi global dan hubungan baik dengan para pemimpin dunia, termasuk Presiden Trump, dapat menjadi faktor penengah dalam konflik ini.

"Beliau bisa dengan mudah berkomunikasi dengan Presiden Trump. Mudah-mudahan, Presiden kita bisa memberikan mitigating factors agar perang tarif ini tidak berlanjut," katanya.

Baca juga : Rapim TNI-Polri, Prabowo Warning Upaya Licik Pelemahan Tentara, Polisi Dan Intel

Mantan Duta Besar Indonesia untuk Australia (2003-2005) dan China (2010-2013) ini juga menyoroti dampak perang tarif terhadap jalur logistik dan stabilitas di kawasan Asia-Pasifik, terutama di Laut China Selatan.

Ia menilai perang tarif, tidak hanya menimbulkan kerusakan ekonomi negara yang bertikai, tapi juga kehancuran ekonomi secara global, terutama ekonomi negara-negara kecil.

"Saya pernah menjadi perunding perjanjian strategis RI-AS yang pertama, selain perancang perjanjian strategis dan komprehensif RI-China," tuturnya.

Ketua Koordinator Bidang Ekonomi DPP Partai Gelora Indonesia Dr. Bramastyo B. Prastowo menilai perang tarif AS dengan Kanada, Meksiko, dan China tidak berdampak langsung pada Indonesia.

Baca juga : Di India, Prabowo Borong Buku di Pedagang Kali Lima Langganan

"Ekonomi kita tidak langsung berhubungan dengan AS dalam skala besar. Data ekspor-impor Indonesia ke AS hanya sekitar 0,8-0,9 persen," jelas Bramastyo.

Sebaliknya, ia melihat situasi ini sebagai peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan perdagangan dengan Kanada, Meksiko, dan China.

"Jika perdagangan dengan AS terganggu, Indonesia bisa memperkuat ekspor ke negara-negara tersebut. Ini saatnya kita meningkatkan ekspor-impor dengan mereka," tegasnya.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.