Sebelumnya
Ketegangan kedua negara bertetangga pemilik nuklir itu dipicu serangan teroris di wilayah Pahalgam, Kashmir (di bagian yang dikuasai India) yang menewaskan 26 orang. Serangan diduga dilakukan kelompok bersenjata yang menyebut diri mereka sebagai The Resistant Front (TRF), yang merupakan bagian dari Lashkar-e-Taiba yang berbasis di Pakistan.
Sahib menyayangkan India yang dengan mudahnya melabeli Islamabad sebagai negara teroris tanpa bukti substantif, tanpa bukti kuat, menyusul serangan di Pahalgham.
Pakistan, lanjutnya, telah menawarkan penyelidikan independen kepada Pemerintah India agar pelaku penyerangan yang menewaskan 26 wisatawan India itu bisa diselesaikan.
Baca juga : Prabowo Ajak Negara Islam Ciptakan Perdamaian Dunia
Meski diserbu pesawat jet dan drone India, Sahib mengatakan, Pakistan berupaya menahan diri agar tidak menjadikan gesekan ini menjadi perang besar.
“Meski sempat terjadi kontak senjata, itu hanya langkah kami melindungi rakyat dan kedaulatan kami,” tegasnya.
Salah satu hal yang menjadi perhatian Sahib adalah pernyataan Presiden Bank Dunia Ajay Banga yang merupakan warga India. Banga mengatakan, sebuah perjanjian yang menjadi sumber pertikaian, yang sebenarnya menjadi sandaran hidup 240 juta warga Pakistan, sungai Indus, dan semua anak sungai lainnya.
Baca juga : Indonesia Tegaskan Dukungan Tak Terbatas bagi Palestina dalam Konferensi PUIC
“Perjanjian tersebut telah difasilitasi Bank Dunia pada tahun 1960-an. Sekarang, jalan hukum yang tersedia berdasarkan perjanjian itu sendiri, jelas. Namun, India telah memilih untuk menundanya atau menangguhkannya secara sepihak,” ujar Sahib.
Banga mengatakan, hal itu tidak dapat ditangguhkan, karena tidak ada ketentuan penangguhan dalam perjanjian itu. Istilah hukum yang digunakan India adalah menundanya.
Tetapi apa pun alasannya, hal ini tidak mungkin dilakukan berdasarkan mekanisme internasional, atau hukum internasional, atau tatanan berbasis aturan internasional, atau norma-norma.
Baca juga : Pertamina Kembangkan Energi Transisi Untuk Sejahterakan Petani Desa Uma Palak
Sahib pun menegaskan sekali lagi, pihaknya memilih diplomasi daripada hal lain saat ini. Pakistan bahkan telah menyatakan, penyelidikan internasional, penyelidikan yang tidak memihak, serta penyelidikan independen, akan dilakukan.
“Kami ingin India bersikap terbuka, sehingga masyarakat internasional juga dapat melihat siapa yang bertanggung jawab atas peristiwa ini,” tandas Sahib.
Dia menambahkan, Pakistan benar-benar telah menghadapi terorisme secara menyeluruh. “Kemudian dituduh telah merencanakan kegiatan teroris, ini sangat membingungkan,” pungkas Sahib.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.