Sebelumnya
Insiden lain terjadi di Scarborough Shoal. Tepatnya di wilayah barat laut Pulau Luzon, Filipina. China melakukan konfrontasi udara dan laut lainnya di wilayah itu.
Helikopter China terbang di jarak 3 meter dari sebuah pesawat patroli Filipina di dekat Scarborough Shoal. Padahal, konfrontasi terjadi saat latihan militer Balikatan yang dilakukan antara AS dan Filipina masih berlangsung.
Baca juga : Soal Pengamanan TNI, Kejagung Pastikan Tak Ada Intervensi
Chubb menilai, dua kejadian tersebut menunjukkan lemahnya operasi kebebasan navigasi (Freedom of Navigation Operations/FONOP) oleh AS sejak Desember 2024.
Konfrontasi yang dilakukan itu, seolah-olah memberi kesan bahwa China ingin unjuk kekuatan. Sedangkan AS tidak bisa diandalkan.
Baca juga : Peringati Hari Kartini, Ibas: Perempuan Bawa Kekuatan Gagasan, Suara Dan Aksi
Saat era Presiden Rodrigo Duterte, Filipina memang lebih pro-China. Namun, di bawah Presiden Ferdinand Marcos Junior, Chubb merasa Filipina lebih berani menghadapi China.
Manila bersikap lebih tegas menentang aktivitas China dan mempublikasikan insiden yang terjadi. Namun, Filipina masih kalah kekuatan dibandingkan penjaga pantai China, yang merupakan pasukan angkatan laut terbesar di dunia.
Baca juga : Paus Fransiskus Wafat, Menag: Jasa Dan Persahabatan Beliau Tak Bisa Kita Lupakan
Untuk berjaga-jaga, AS telah menempatkan rudal anti-kapal di Filipina. Namun, menurut Chubb, Filipina membutuhkan dukungan tambahan dari negara lain seperti Jepang, Korea Selatan dan Australia.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.