RM.id Rakyat Merdeka - Menko Perekonomian Airlangga menegaskan, kekuatan kelompok ekonomi BRICS saat ini sudah lebih tinggi dibanding kelompok G7. Terutama, setelah Indonesia bergabung dengan blok ekonomi yang dimotori Brazil, Rusia, India, China, dan Korea Selatan (Korsel).
BRICS saat ini beranggotakan sebelas negara, yakni Brazil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, Mesir, Uni Emirat Arab (UEA), Arab Saudi, Ethiopia, Indonesia, dan Iran. Dengan negara mitra Belarus, Bolivia, Kazakhstan, Kuba, Nigeria, Malaysia, Thailand, Vietnam, Uganda, dan Uzbekistan.
Sementara G7 adalah kelompok negara maju yang terdiri dari Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat (AS).
Dalam keterangan pers yang disampaikan dari Rio de Janeiro Brazil pada Senin (7/7/2025), Menko Airlangga menjelaskan,
sebelum Indonesia masuk BRICS, GDP (produk domestik bruto/PDB) blok ekonomi tersebut tercatat dengan angka Rp 28 triliun atau mencakup 34 persen dari global GDP.
Baca juga : Indonesia Tampil Perdana Di BRICS, Prabowo Disambut Hangat Presiden Brazil
“Dengan masuknya Indonesia dan negara-negara lain, sudah merepresentasikan 40 persen GDP dan 56 persen penduduk dunia. Jadi, ini ekonominya terus bertambah,” kata Menko Airlangga.
“Berdasarkan purchasing power parity, BRICS juga sudah lebih tinggi dibanding G7,” imbuhnya.
Purchasing power parity atau paritas daya beli merupakan sebuah konsep ekonomi makro yang seringkali digunakan untuk membandingkan produktivitas serta standar hidup antar negara.
Konsep ini berhubungan erat dengan keseimbangan mata uang dan harga suatu barang yang identik dari dua negara berbeda.
Baca juga : Prabowo Sebut Indonesia Selalu Memilih Perdamaian Di Atas Permusuhan
Keunggulan tersebut diharapkan mampu menguatkan BRICS sebagai motor yang dapat memberikan akses lebih luas kepada negara-negara global south untuk sektor perdagangan. Sekaligus mengintegrasikan perekonomiannya untuk menjadi bagian dari supply chain.
Penguatan Multilateralisme
Menko Airlangga juga memaparkan, dalam sesi multilateral, ekonomi, finansial, dan artificial intelligence (AI), Presiden Prabowo Subianto mendorong penguatan multilateralisme dalam situasi global yang multipolar.
Dalam konteks ini, kemitraan ekonomi negara berkembang dipandang sebagai hal yang sangat penting.
"Diharapkan, pemanfaatan New Development Bank bisa dikuatkan. Tadi dilaporkan, dalam New Development Bank, ada beberapa proyek yang sedang ditangani. Antara lain clean energy project, infrastruktur, serta beberapa proyek yang terkait sustainability dan green energy. Sekarang ini, ada 120 proyek dengan nilai 39 miliar dolar AS," beber Menko Airlangga.
Baca juga : Selama Palestina Belum Merdeka, Israel Jangan Dikasih Angin
"Indonesia sudah menyatakan masuk ke dalam NDB, dan tentu sedang berproses," tandasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.