BREAKING NEWS
 

Jelajahi Negeri Sakura (1)

Jajal Toilet Pintar Hingga Nikmati Halal Food Di Tokyo

Reporter : LARASATI DYAH UTAMI
Editor : MELLANI EKA MAHAYANA
Senin, 14 Juli 2025 08:00 WIB
Jurnalis Rakyat Merdeka, Larasati Dyah Utami, berfoto di depan Patung Hachiko, monumen anjing setia, di depan Stasiun Shibuya, Tokyo, Minggu (23/6/2025). (Foto: Larasati Dyah Utami/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Jurnalis Rakyat Merdeka, Larasati Dyah Utami, bersama jurnalis dari Malaysia, Vietnam, Laos, Kamboja, Filipina, dan Thailand, mengikuti Program Kunjungan Jurnalistik yang diselenggarakan oleh Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Jepang selama 9 hari. Perjalanan dimulai pada 23 Juni 2025 hingga 1 Juli 2025, dengan agenda mengunjungi Tokyo, Osaka, dan Hiroshima. Berikut laporannya.

Perjalanan ke Jepang merupakan pengalaman pertama saya, dan yang paling saya nantikan. Saya berangkat dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta hari Sabtu (22/6/2025) pukul 21.15 WIB menggunakan All Nippon Airways (ANA), salah satu maskapai kebanggaan Jepang.

Tiba di Bandara International Haneda, Tokyo, Minggu (23/6/2025) pukul 07.00 pagi waktu setempat, saya langsung merasa takjub. Bandara besar ini disebut-sebut sebagai salah satu yang tersibuk di dunia, melayani puluhan juta penumpang setiap tahunnya.

Ketika melipir ke toilet bandara, saya kembali dibuat kagum oleh kecanggihan teknologi Jepang. Toilet di Bandara Haneda dilengkapi berbagai fitur canggih, termasuk suara musik berbunyi aliran air seperti sungai yang bertujuan menjaga privasi pengguna.

Baca juga : Ahmad Irawan: Tidak Perlu Ada Penambahan Anggota

Kami kemudian diantar ke Hotel Hanzomon Monterey di pusat kota Tokyo. Di sana, saya bergabung dengan jurnalis lain dari negara-negara ASEAN dan bertemu dua pemandu perjalanan kami, Saki-san dan Hiroko-san.

Setelah istirahat, kami makan siang di salah satu restoran burger halal di Asakusa, Tokyo, bernama Luxe Burgers & Sunny’s Table. Restoran ini telah bersertifikat halal dari Japan Halal Foundation dan menyajikan burger berbahan dasar daging sapi dan domba dengan gaya Prancis.

Adsense

Saya dan rekan dari Malaysia sama-sama beragama Islam. Kami merasa sangat bersyukur karena selama perjalanan, para guide selalu memastikan restoran yang dikunjungi menyajikan makanan halal atau vegan, sehingga kami bisa makan dengan tenang tanpa rasa khawatir.

Setelah perut kenyang, kami melanjutkan perjalanan ke Tokyo Tower yang berlokasi di Shiba Park, Minato-ku. Belum sah rasanya ke Jepang tanpa mengunjungi ikon setinggi 333 meter ini. Dari atas, kami dapat menikmati pemandangan 360 derajat kota Tokyo. Di dalam menara juga terdapat museum yang menyimpan sejarah berdirinya Tokyo Tower sejak 23 Desember 1958, sebagai simbol kebangkitan Jepang pasca Perang Dunia.

Baca juga : I Dewa Kade Wiarsa Raka Sandi: Penting Agar Aduan Ditangani Lebih Cepat

Usai menjelajahi Tokyo Tower, kami menuju Shibuya Crossing, penyebrangan tersibuk dan paling ikonik di Tokyo. Disebut “scramble crossing,” karena saat lampu merah menyala, pejalan kaki bisa melintas dari segala arah, bahkan secara diagonal. Banyak turis yang mengabadikan momen ini, termasuk saya sendiri.

Tak jauh dari sana, terdapat patung anjing yang terkenal dengan kisahnya yang menyentuh hati bernama Hachiko. Seekor anjing jenis Akita yang diadopsi oleh Profesor Hidesaburō Ueno dari Universitas Tokyo pada tahun 1924. Setiap hari, Hachiko menjemput tuannya di stasiun meski sang profesor wafat mendadak pada Mei 1925. Hachiko tetap setia menunggu selama hampir 10 tahun, hingga akhirnya Pemerintah Jepang mendirikan patung untuk mengenangnya. Turis pun rela antre hanya untuk berfoto dengan hewan simbol kesetiaan ini.

Perjalanan berlanjut ke kuil Shinto Meiji-jingu yang berlokasi di Harajuku, hanya sekitar satu menit berjalan kaki dari Stasiun Harajuku. Berbeda dengan hiruk pikuk kota Tokyo, kawasan kuil ini menawarkan ketenangan dan nuansa alam yang menyegarkan.

Kami berjalan pelan melewati hutan hijau menuju Gerbang Torii, gerbang kayu hinoki raksasa setinggi 12 meter dan lebar 17 meter yang telah berusia ribuan tahun. Di area kuil, beberapa jurnalis ikut melakukan ritual khas Jepang seperti mencuci tangan di temizuya, melempar koin sambil berdoa (seizen), menuliskan harapan di papan kayu ema, dan mengambil ramalan keberuntungan (omikuji).

Baca juga : Koperasi Desa Merah Putih Gerakkan Ekonomi Rakyat

Setelah dari kuil, kami mampir ke Takeshita Street yang berada tepat di depan Stasiun Harajuku. Kawasan ini sangat populer di kalangan turis mancanegara, terutama anak muda Jepang. Di sepanjang jalan terdapat beragam toko fesyen Harajuku, kafe unik, serta jajanan lucu yang menggoda selera.

Kunjungan hari pertama ditutup di Takeshita Street. Kami kembali ke hotel untuk beristirahat dan bersiap mengikuti agenda padat berikutnya di Osaka dan Hiroshima. (Bersambung)

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense