BREAKING NEWS
 

Mengikuti Southeast Asia Maritime Media Visits Project (4)

Bijak Pakai AI, Bangun Kepercayaan Publik

Reporter : FIRSTY HESTYARINI
Editor : KARTIKA SARI
Sabtu, 8 November 2025 07:30 WIB
Jurnalis Rakyat Merdeka Firsty Hestyarini, berfoto dengan jurnalis investigatif asal Australia, Nick McKenzie. (Foto: Dok. Pribadi)

RM.id  Rakyat Merdeka - Jurnalis Rakyat Merdeka/RM.id, Firsty Hestyarini membagikan cerita kunjungannya ke Canberra, Australia, dalam Southeast Asia Maritime Media Visits Project (SEA MMVP) yang diselenggarakan Departemen Luar Negeri & Perdagangan Australia (DFAT) dan La Trobe University. Program yang digelar pada 26-31 Oktober 2025 ini, semakin membuka mata para peserta bahwa laut yang komposisinya mencakup 70 persen dari luasan bumi, tak hanya menjadi pusaran geopolitik. Tetapi juga tempat manusia menggantungkan kehidupannya. Berikut laporannya.

Misinformasi dan disinformasi adalah tantangan nyata yang dihadapi jurnalis di era disrupsi digital. Begitu juga kemunculan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan, yang bagai pisau bermata dua. Di satu sisi, AI dapat mendukung kerja jurnalis. Tapi di sisi lain, bisa menjadi ancaman. 

Fakta ini dibenarkan jurnalis investigatif asal Australia, Nick McKenzie, yang telah memborong banyak penghargaan bergengsi. Seperti Graham Perkin, Gold Walkley Awards, dan Kennedy Awards. “Saya sangat setuju. AI tak hanya teman baik kita, tetapi juga musuh terbesar kita. 

Saya bisa Googling informasi sampai 50 kali sehari. Tapi sekarang, saya bisa mendapatkan ringkasan AI. Namun, satu dari dua informasi AI yang saya dapatkan itu ternyata ada saja salahnya. Cara kita mengumpulkan informasi dari internet, bisa saja salah dan menyesatkan. Jadi, kita harus waspada,” warning McKenzie dalam sharing session dengan peserta Program Southeast Asia Maritime Media Visits Project di University of New South Wales (UNSW) Canberra, pekan lalu. 

Sharing season itu, dipandu oleh Prof. Andrea Carson dari La Trobe University, yang juga mantan jurnalis Australian Broadcasting Corporation (ABC) dan The Age. Lebih lanjut, McKenzie menceritakan pengalamannya saat menganalisis ribuan dokumen sendirian. Dia mengaku butuh waktu lama. Tapi AI, bisa merevolusi cara tersebut menjadi lebih mudah dan cepat. 

“Itu adalah sesuatu yang ingin saya pelajari lebih lanjut tentang cara menggunakan AI, karena bisa menelusuri kumpulan data menjadi lebih cepat dan efektif,” ujar peraih gelar Magister Politik Internasional dari University of Melbourne itu. 

Baca juga : Soeharto Layak Jadi Pahlawan Nasional Tokoh Bangsa Kompak Beri Dukungan

Masalahnya, lanjut McKenzie, AI juga menjadi lahan propaganda berbagai pihak. Ini menjadi sebuah tantangan tersendiri, karena orang-orang terjebak dalam gema di ruang media sosial mereka. Karena itu, penting bagi jurnalis untuk membangun kepercayaan publik. 

“Kami terus memastikan untuk membangun merek terpercaya. Merek jurnalisme yang diakui publik Australia, sehingga ketika mendapatkan berita dari saya, mereka tahu itu tak dipengaruhi AI,” papar McKenzie. 

“Surat kabar saya (The Age dan The Sydney Morning Herald-red) telah berdiri selama 190 tahun. Kami berjuang untuk melindungi merek, prinsip, dan kepercayaan publik terhadap produk jurnalistik kami,’’ imbuhnya. 

Menurut dia, perjuangan itu tidak hanya dilakukan melalui penguatan jurnalisme dan strategi pemasaran. Tetapi juga dengan melobi pemerintah federal untuk membatasi ruang gerak perusahaan media sosial, yang dinilainya menggerus pendapatan media mainstream, mencuri konten, dan menjauhkan masyarakat dari kebenaran. 

Adsense

“Kami melobi para politisi agar mengubah sistem, supaya raksasa media sosial tidak mudah mengambil alih ruang yang selama ini kami isi,” ujar McKenzie. 

Mantan Presiden Melbourne Press Club ini mengingatkan setiap wartawan, untuk selalu meningkatkan kemampuan jurnalistiknya. Mengingat kerja-kerja jurnalistik seperti melakukan wawancara, serta pengumpulan dan verifikasi data, tidak bisa digantikan oleh mesin. Apalagi, memastikan produk jurnalistik berada dalam koridor etika dan profesionalisme. 

Baca juga : Willy Aditya: Keputusan Progresif Ini Harus Segera Diterapkan

“Apa yang saya lakukan, tidak bisa ditiru AI. AI tidak bisa bicara dengan pejabat Departemen Pertahanan dan meminta mereka membocorkan rahasia. Sedangkan saya, pergi naik pesawat (dari Melbourne-red) ke Canberra, untuk bertemu langsung dengan seseorang. Bahkan mungkin minum bir dengannya untuk mendapatkan informasi. Kami menonjolkan perbedaan itu, dengan apa yang bisa ditemukan orang dengan mudah di internet,” beber McKenzie. 

Dia bersyukur, tingkat literasi masyarakat Australia terhitung tinggi. Sehingga, masyarakat Negeri Kanguru memiliki kesadaran yang cukup baik terhadap peran media. “Jadi, masih ada basis besar untuk jurnalisme yang berkualitas. Kami berusaha mempertahankan, merawat, dan menumbuhkannya. Inilah tantangan eksistensial bagi kami,” tutur McKenzie. 

Lebih Suka Koran 

McKenzie yang mengawali karier jurnalistiknya sebagai jurnalis kadet ABC, saat ini bekerja untuk koran The Age dan The Sydney Morning Herald, milik jaringan perusahaan media Nine Entertainment Corporation. Wartawan berdarah Polandia ini, juga pernah berkontribusi untuk Program TV New Corners (ABC) dan 60 Minutes (Nine). Sepanjang perjalanan kariernya sebagai jurnalis, dia mengaku lebih senang bekerja untuk koran. 

“Saya jauh lebih menyukai media cetak. Saya bisa melihat kekuatan menulis artikel koran, yang mendukung liputan besar di TV,” ungkapnya. 

Namun, McKenzie memastikan, tak masalah bekerja di mana pun, sepanjang produk jurnalistik yang dihasilkan mampu menjangkau khalayak dan berdampak. 

McKenzie yang pernah mengungkap kejahatan perang di Afghanistan, juga menyoroti fenomena seorang jurnalis saat ini yang harus bekerja multi platform: print, online, TV, dan media sosial. 

Baca juga : Titi Anggraini: Ini Akan Berdampak Pada Kebijakan Inklusif

“Saat ini, saya berusia 44 tahun. Masih di tengah-tengah karier jurnalistik. Saya lihat, banyak jurnalis yang lebih tua dari saya sama sekali tidak paham TikTok atau Instagram. Mereka payah dalam hal itu. Sementara para jurnalis muda berusia 20-an, yang memang menggunakan platform tersebut, kurang didukung oleh perusahaannya untuk membuat konten media sosial yang berkualitas. Akibatnya, banyak konten tidak bermutu dan diunggah seadanya,” papar McKenzie.

McKenzie mengaku rutin berolahraga renang dan lari, untuk menjaga kesehatan fisik, mental, dan emosionalnya. Dia bilang, olahraga membuat pikiran kreatifnya lebih mudah mengalir. “Ketika saya sedang stres, saya pergi ke psikolog,” lanjutnya. 

Tak kalah penting, McKenzie mengingatkan para jurnalis agar memiliki tujuan dalam bekerja. Tak cuma soal uang atau hal lain. “Memiliki tujuan hidup akan membawa Anda pada kebahagiaan dan kedamaian. Pastikan tujuan Anda dan setialah padanya. Dengan cara itu, Anda akan merasakan kebahagiaan dan kedamaian,” pungkas wartawan berdarah Polandia itu. (Selesai)

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense