BREAKING NEWS
 

Kiprah Guru Indonesia Mulai Menggeliat di Uzbekistan dan Kyrgyzstan

Writer : Bharata
Editor : UJANG SUNDA
Rabu, 26 November 2025 17:39 WIB
Diskusi daring antara KBRI Tashkent dengan guru-guru Indonesia di Uzbekistan dan Kyrgyzstan,14 Mei 2025 (Sumber: KBRI Tashkent)

“Kita sebenarnya mengirim orang bekerja ke luar negeri ini konteksnya bukan sekedar cari uang. Tapi kita mau design  bahwa ini bagian dari investasi sumber daya manusia Indonesia. Dua tahun mereka di sana, bisa lanjut naik kelas ke Eropa atau bisa balik menjadi orang-orang terampil,“ tutur Abdul Kadir Karding, saat menghadiri Diaspora Global Summit 2 di Jakarta, 12 Agustus 2025. Pada kesempatan tersebut, Karding juga menyatakan harapannya agar para pekerja migran Indonesia bisa membangun jaringan internasional saat bekerja di luar negeri.

Hal tersebut sejalan dengan hasil survei KBRI Tashkent pada pertengahan November 2025, dengan melibatkan 30 responden guru Indonesia di Uzbekistan dan Kyrgyzstan. Terdapat 21 orang atau 70 persen responden mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris. Penghasilan para guru Indonesia di Uzbekistan dan Kyrgyzstan relatif memadai, 22 responden (73 persen) mengaku mendapatkan gaji pada kisaran 500-1.500 dolar AS. Yang lebih mengejutkan, terdapat 5 responden dengan gaji di rentang 1.500-2.500 dolar AS. Tidak hanya itu, sekolah juga menyediakan berbagai fasilitas bagi para guru, mulai dari pengurusan visa dan izin tinggal, tiket pesawat dari dan ke Indonesia, akomodasi maupun makan/konsumsi.  

Selain penghasilan dan fasilitas tersebut, para guru berkesempatan memperbanyak pengalaman dan jejaring internasional yang sangat berharga, sebagaimana diharapkan oleh Karding.  “Saya dibantu saat relokasi, Dibantu pula untuk akses fasilitas kesehatan untuk diri sendiri dan keluarga. Sering kali diajak berlibur ke berbagai tempat tujuan wisata yang indah di Kyrgyzstan. Tak hanya itu, saya juga diberi kesempatan mengembangkan diri dengan mendapatkan diskon untuk Master Degree maupun Half funding untuk sertifikasi,” ungkap seorang guru Indonesia di Kyrgyzstan.

Baca juga : MedcoEnergi Memulai Perdagangan di OTCQX Best Market

Lingkungan kerja yang positif mencuat sebagai hal lain yang dialami para guru di dua negara yang di masa lalu kesohor sebagai bagian dari Jalur Sutera ini. “Saya merasa bahwa guru di sini sangat menerima para guru asing. Dan pendapat kami sangat didengar,” jelas seorang guru yang lain. 

Aga Tasrifan, salah satu guru Indonesia di Kyrgyzstan menduduki peringkat 2 dalam National Contest of English Language Teachers 2022 (Sumber Akun Facebook Hussain Karasaev High School)

Namun, bukan berarti para guru tersebut tidak mengalami kendala apa pun. Sebanyak 60 persen responden menghadapi kesulitan berkomunikasi dengan warga setempat, yang dalam kesehariannya masih banyak menggunakan bahasa Rusia maupun bahasa setempat (bahasa Uzbek atau Kyrgyz). Sementara, 43 persen responden menyoroti perilaku siswa setempat yang dinilai jauh berbeda dengan sikap siswa di Indonesia. Sistem kerja yang masih sangat konvensional seperti menyusun lesson plan maupun absensi secara manual, juga kerap ditemui oleh para guru.

Hasil survei KBRI Tashkent tersebut mengindikasikan pula bahwa jalur para guru mendapatkan pekerjaan di Uzbekistan maupun Kyrgyzstan lebih banyak didominasi oleh sistem getok tular atau informasi dari mulut ke mulut (57 persen) dan media sosial (40 persen). Hal ini menjadi indikator kuat pentingnya jejaring dan penguasaan media sosial yang mumpuni bagi seorang guru, untuk mendapatkan peluang pekerjaan di Uzbekistan maupun Kyrgyzstan. 

Baca juga : Perikanan Indonesia Bagikan 600 Paket Ikan di Hari Ikan Nasional 2025

“Berdasarkan data Portal Peduli WNI per 31 Oktober 2025, jumlah guru asal Indonesia yang menetap di Uzbekistan dan Kyrgyzstan mencapai 25 orang,” ungkap Bharata, Pelaksana Fungsi Protokol dan Konsuler KBRI Tashkent.

Di luar itu diperkirakan terdapat setidaknya 34 orang guru Indonesia yang belum melakukan lapor diri kedatangan. Dari sisi demografi, terdapat 35 guru perempuan dan 24 guru laki-laki. Kebanyakan guru asal Indonesia mengajar di sejumlah sekolah swasta yang menggunakan kurikulum internasional, seperti Cambridge dan International Baccalaureate (IB). 

 Interaksi Duta Besar Siti Ruhaini Dzuhayatin dengan siswa Sekolah 110 Tashkent saat kunjungan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, 5 November 2025 (Sumber KBRI Tashkent)

Keberadaan guru Indonesia sebagai alternatif pengajar Bahasa Inggris juga didukung oleh kebijakan pemerintah setempat. Dalam pidatonya saat joint session senat dan legislative chamber Oliy Majlis Uzbekistan 20 November 2024, Presiden Shavkat Mirziyoyev menyampaikan bahwa untuk periode 2025-2029 Pemerintah Uzbekistan menganggarkan 500 milyar Uzbekistan Soum (red-setara 41 juta dolar AS) untuk membiayai pendidikan bahasa asing bagi warganya. Salah satu bentuk konkret dari program tersebut adalah didatangkannya 3 guru Indonesia oleh Kementerian Pendidikan Uzbekistan pada pertengahan November 2025 untuk mengajar Bahasa Inggris di sejumlah sekolah menengah di kota Samarkand, Qarshi dan Yakkabog.

Baca juga : Indonesia Harus Menyikapi Perang Global Bahan Baku Tanah Jarang

Menyoroti fenomena tersebut, Duta Besar RI Tashkent Siti Ruhaini Dzuhayatin menyampaikan keberadaan para guru sangat mendukung misi diplomasi Indonesia di Uzbekistan dan Kyrgyzstan. “Menurut sejarawan AS Henry Brooks Adams - a teacher affects eternity, he can never tell where his influence stops. Bisa kita bayangkan betapa besarnya potensi diplomasi RI di Uzbekistan dan Kyrgyzstan melalui keberadaan para guru kita,” ujar Dubes Ruhaini. 

Dubes Ruhaini menjelaskan bahwa keberadaan guru Indonesia akan berpengaruh signifikan pada citra Indonesia di dunia internasional, khususnya di Asia Tengah. “Perlu kita cermati bahwa di masa mendatang siswa-siswa yang diajar oleh guru kita nantinya bisa saja menjadi orang berpengaruh di negaranya, entah sebagai pejabat, pengusaha ataupun akademisi. Besar harapan kita bahwa mereka akan mengingat Indonesia sebagai negara maupun bangsa yang berperan besar pada hidup mereka. Ini modal besar yang perlu kita optimalkan sebagai bagian dari upaya kita dalam memperkokoh peran Indonesia di kancah global, khususnya di Uzbekistan maupun Kyrgyzstan, melalui diplomasi di sektor pendidikan,” tegas Duta Besar Ruhaini. Selamat Hari Guru Nasional 2025, semoga guru Indonesia kian hebat di Uzbekistan dan Kyrgyzstan, citra Indonesia di Asia Tengah pun semakin kuat.

Powered by Froala Editor

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense