RM.id Rakyat Merdeka - Kehangatan Natal terasa di berbagai penjuru dunia. Dari Bethlehem di Palestina, Suriah, Fiji, hingga Amerika Serikat (AS), umat Kristiani merayakan hari kelahiran Yesus Kristus dengan penuh khidmat dan harapan.
Gencatan senjata antara Hamas dan Israel yang tercapai pada Oktober lalu membawa secercah optimisme bagi komunitas Kristiani di Palestina. Setelah 2002, diliputi bayangba yang konflik, mereka kembali merayakan Natal. Bethlehem, kota kelahiran Yesus Kristus—kembali dipadati peziarah. Perayaan Malam Natal berlangsung meriah pada Rabu (24/12/2025).
Sebuah band tampil di bawah pohon Natal raksasa di Manger Square, mengiringi sukacita umat yang berkumpul. Gereja Kelahiran Yesus (Church of the Nativity) yang berdiri di atas gua tempat Maria dipercaya melahirkan Yesus, menjadi pusat perayaan umat Kristen dari berbagai penjuru dunia.
Prosesi Natal di gereja itu dipimpin Patriark Latin Yerusalem, Kardinal Pierbattista Pizzaballa. Dalam pesannya, Pizzaballa menyerukan Natal yang penuh cahaya dan harapan.
“Salam hangat dari saudara-saudara kita, komunitas Kristiani di Gaza. Semoga mereka selalu diberkati Tuhan,” katanya dikutip dari MSNBC, Kamis (25/12/2025).
Di kawasan Pasifik Selatan, Fiji merayakan Natal dengan semangat gotong royong. Sejumlah wilayah tampak menggelar kerja bakti membersihkan lingkungan pada Rabu (24/12/2025).
“Kami memang memiliki petugas kebersihan. Tetapi disiplin menjaga lingkungan harus datang dari diri sendiri, di mana pun kami berada,” ujar anggota Dewan Pariwisata Fiji Josaia Rayawa dikutip dari Fiji Village, Ka mis (25/12/2025).
Dari Vatikan, Paus Leo XIV me ngajak dunia untuk hidup dalam damai tanpa konflik. Paus juga menyoroti sistem perekonomian global yang dinilainya cacat karena memandang manusia semata sebagai komoditas.
Baca juga : Prabowo Ucapkan Selamat Natal Dan Tahun Baru, Ajak Perkuat Solidaritas
Sementara di Suriah, Natal dirayakan sebagai simbol kembalinya stabilitas setelah konflik berkepanjangan. Perayaan Malam Natal tahun ini bertepatan dengan pencabutan sanksi AS terhadap Suriah pada Rabu (24/12/2025).
Bagi warga Suriah, pencabutan sanksi ekonomi membawa harapan baru. Setelah satu dekade hidup dalam pengucilan internasional, peluang pemulihan ekonomi mulai terbuka. Bendera Suriah berkibar di antara hiasan Natal di rumah-rumah dan ruang publik.
“Kami ingin anak-anak bahagia dan melihat masih ada ha rapan. Ini penting untuk memu lihkan semangat setelah beban konflik,” kata Arkimandrit Gereja Katolik Timur Damaskus Michel Deirani.
Arkimandrit adalah gelar yang diberikan kepada seorang imam kepala atau kepala biara. Biasanya dipakai dalam gerejagereja Ortodoks Timur dan Katolik Timur.
Di Qinniyeh, Provinsi Idlib— wilayah yang berbatasan dengan Turki sebelumnya dikuasai kelompok Hayat Tahrir el-Sham— pohon Natal kembali dinyalakan untuk pertama kalinya dalam 14 tahun. Pasar Natal pun bermunculan, menjadi magnet wisata lokal sekaligus penggerak ekonomi.
Hayat Tahrir el-Sham mengendalikan wilayah tersebut sejak 2019 dan membentuk “Pemerintahan Penyelamatan Suriah” (Syrian Salvation Government/SSG) untuk mengelola kehidupan sehari-hari, serta memimpin serangan besar pada Desember 2024 yang mengakhiri kekuasaan rezim Bashar Al-Assad, menjadikannya kekuatan kunci di Suriah pasca-rezim.
Di Irlandia Utara, sebagian warga merayakan Natal dengan berenang di Teluk Helen. Mereka menantang dinginnya angin dan air laut dalam kegiatan tahunan sekaligus menggalang dana amal bagi komunitas demensia dan layanan ambulans.
Sementara di Nigeria, Natal menjadi momen penuh haru. Sejumlah keluarga kembali memeluk anak-anak mereka yang sebelumnya diculik. Di Negara Bagian Niger, komunitas Papiri menerima “hadiah Natal” berupa pembebasan 230 guru dan pelajar yang sempat disandera dari Sekolah Santa Maria.
Baca juga : Bamsoet Dorong Perayaan Natal Perkuat Toleransi dan Solidaritas Bangsa
Para ibu memeluk anak-anak mereka dengan mata berkaca-kaca. Anak-anak lain diangkat tinggi ke udara, disambut sorak penduduk desa yang memastikan mereka kembali dalam keadaan selamat.
“Saya bahagia, saya bahagia,” ujar Rita Marcus sambil memeluk putranya, air mata mengalir di wajahnya.
NORAD Santa Tracker
Perayaan Natal di berbagai belahan dunia juga diramaikan dengan permainan NORAD Santa Tracker. Layanan pelacakan perjalanan Santa Claus yang setiap tahun dinantikan jutaan orang, khususnya anak-anak.
Meski terdengar futuristik, NORAD Santa Tracker bukanlah pelacakan orang sungguhan. Melainkan tradisi tahunan yang dikemas secara imajinatif oleh North American Aerospace Defense Command (NORAD), komando pertahanan udara gabungan Amerika Serikat dan Kanada.
Tradisi ini bermula pada 1955, ketika sebuah iklan toko di AS keliru mencantumkan nomor telepon Santa Claus. Nomor tersebut justru tersambung ke pusat komando militer CONAD, pendahulu NORAD.
Kolonel Angkatan Udara AS Harry Shoup, perwira yang saat itu bertugas memimpin operasi, menerima panggilan telepon tersebut. Alih-alih menutup sambungan, dia justru melayani dan memberi tahu anak-anak bahwa Santa sedang dalam perjalanan dari Kutub Utara.
Sejak saat itu, setiap malam Natal, NORAD secara simbolis “melacak” perjalanan Santa menggunakan narasi teknologi pertahanan udara sungguhan. Mulai dari radar, satelit, hingga jet tempur yang disebut mengawal kereta Santa di langit.
Melalui situs dan aplikasi khusus, publik dapat melihat rute perjalanan Santa secara real time, lengkap dengan cerita tentang Rudolph, si rusa berhidung merah dan hadiah Natal yang dibagikan ke berbagai negara.
Baca juga : Stafsus Menag Resmikan Papan Nama Gereja Katolik di Parung
Program ini dimulai pada 1 Desember, tetapi pelacakan Santa Claus secara aktual dimulai pada tengah malam setiap tahun pada 24 Desember. Titik-titik di peta menunjukkan perjalanan Sinterklas dari Kutub Utara, melintasi Samudra Pasifik menuju negara-negara yang paling awal merayakan Natal. Selanjutnya, Sinterklas melan¬jut¬kan perjalanan ke Selandia Baru, Australia, Asia Tenggara, Asia Timur, Rusia, Asia Tengah, hingga Afrika.
Pihak NORAD menegaskan, pelacakan ini sepenuhnya bersifat fiktif dan edukatif, ditujukan untuk menghadirkan keceriaan Natal, serta memperlihatkan sisi humanis institusi militer kepada masyarakat.
Kini, lebih dari enam dekade berlalu, NORAD Santa Tracker telah menjadi tradisi global, bekerja sama dengan perusahaan teknologi seperti Google dan Microsoft, serta melibatkan relawan yang menjawab telepon dan pesan dari anak-anak di seluruh dunia.
Tradisi ini menjadi pengingat bahwa di balik teknologi canggih dan institusi pertahanan, semangat berbagi dan kegembiraan Natal tetap menjadi pesan utama.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.