RM.id Rakyat Merdeka - Duta Besar (Dubes) Jerman untuk Indonesia Ralf Beste memimpin delegasi Uni Eropa (UE) melihat perkembangan proyek jalur kereta api di Surabaya, Jawa Timur (Jatim), Jumat (9/1/2026).
Dikutip dari keterangan tertulis perwakilan UE, Sabtu (10/1/2026), rombongan Dubes Beste juga bertemu Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa dan Wakil Gubernur Jatim Emil Dardak.
Proyek pembangunan jalur kereta api di wilayah Surabaya merupakan salah satu dari tiga proyek unggulan di bawah payung inisiatif UE, yaitu Global Gateway.
Baca juga : Proyek Kendalikan Banjir Dan Rob Lebih Terencana
Rombongan melihat langsung area pembangunan di Stasiun Pasar Turi, bagian dari pembangunan Jalur Kereta Api Regional Surabaya (SRRL) Fase 1 yang menjadi proyek Global Gateway.
“Investasi pada infrastruktur kereta api akan menentukan arah perkembangan sebuah kota dalam beberapa dekade mendatang," ujar Dubes Beste.
Karena alasan ini, menurutnya, kualitas sangat penting dan inilah yang dapat diberikan Jerman dan Eropa melalui Inisiatif Global Gateway. Kunjungan delegasi bertujuan untuk mempresentasikan ruang lingkup proyek SRRL Fase 1, perkembangan terkini dan langkah kerja selanjutnya.
Baca juga : Carlos Franca Siap Pimpin Persijap Taklukkan Persebaya di GBT
SRRL Fase 1 adalah salah satu dari tiga proyek unggulan Global Gateway di Indonesia.
"Kami juga membahas area investasi prioritas di Jawa Timur, serta potensi peluang bagi perusahaan Eropa untuk terlibat di dalamnya. Khususnya di bidang transportasi, mobilitas dan rantai nilai yang terkait," papar Dubes yang pernah bekerja sebagai jurnalis ini.
Pemerintah Indonesia bersama Pemerintah Jerman melalui Bank Pembangunan KfW, sedang mengembangkan SRRL Fase 1, sebuah proyek unggulan Global Gateway di Indonesia. Proyek ini akan mengubah mobilitas komuter antara Surabaya dan Sidoarjo, serta memperkuat pembangunan perkotaan berkelanjutan di wilayah metropolitan Surabaya Raya (Gerbangkertosusila).
Baca juga : 10 Gedung Terdeteksi Tak Penuhi Standar Keamanan
Fase 1 SRRL mencakup pembangunan sekitar 22 kilometer jalur ganda dan elektrifikasi, modernisasi lima stasiun, peningkatan sistem keselamatan di perlintasan, pembangunan Depo Sidotopo secara permanen dan peningkatan kualitas layanan signifi kan dengan interval keberangkatan antar-kereta hingga 15 menit.
Setelah beroperasi, jalur ini diharapkan dapat mengangkut lebih dari 200.000 penumpang per hari, memberikan manfaat bagi lebih dari 1,3 juta penduduk dalam dua tahun pertama, mengurangi kemacetan jalan dan biaya logistik.
Proyek ini didanai melalui paket biaya sebesar total 296,8 juta euro atau sekitar Rp 5,8 triliun. Dana ini terdiri dari pinjaman lunak sebesar 230 juta euro (Rp 4,5 triliun) dan hibah sebesar 6 juta euro (Rp 117,7 miliar). Sementara, Pemerintah Jerman melalui KfW, memberikan dana sebesar 60,8 juta euro (Rp 1,19 triliun) dari Kementerian Perhubungan Jerman.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.