RM.id Rakyat Merdeka - Kebijakan tarif impor yang diberlakukan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dinilai sebagai sebuah gol bunuh diri. Karena alih-alih menekan negara asing, kebijakan itu justru membebani rakyat Amerika sendiri.
Sebuah lembaga riset ekonomi asal Jerman mengungkapkan, sebanyak 96 persen beban tarif dipikul importir dan konsumen di AS, bukan oleh eksportir asing seperti yang selama ini digembar-gemborkan Gedung Putih.
Demikian temuan penelitian Kiel Institute for the World Economy yang dirilis Senin (19/1/2026). Lembaga riset independen itu menegaskan bahwa narasi pemerintah AS terkait tarif tidak sejalan dengan fakta di lapangan.
“Bertentangan dengan retorika pemerintah AS, biaya tarif impor tidak ditanggung oleh eksportir asing,” tulis Institut Kiel dalam laporannya.
Baca juga : Danantara dan PTPP Bangun Hunian Sementara bagi Korban Banjir di Aceh
Menurut laporan tersebut, pendapatan AS dari kebijakan tarif diperkirakan meningkat sekitar 200 miliar dolar AS hingga 2025. Namun, dari total beban tarif itu, eksportir asing hanya menanggung sekitar empat persen, sementara sisanya dialihkan kepada pelaku usaha dan konsumen di dalam negeri AS.
Sebelumnya, Trump mengklaim kebijakan tarif telah memberikan keuntungan besar bagi negaranya. Bulan lalu, ia menyebut AS telah mengumpulkan lebih dari 18 triliun dolar AS dari tarif. Pekan lalu, saat berbicara di Klab Ekonomi Detroit, Trump bahkan menyatakan tarif telah membantu menekan inflasi.
Namun, hasil kajian Institut Kiel menunjukkan sebaliknya. Meski dirancang untuk menekan perusahaan asing, kebijakan tarif justru memberi dampak negatif terhadap ekonomi domestik AS.
Tarif impor, menurut laporan itu, pada praktiknya berfungsi seperti pajak konsumsi atas barang impor. Dampaknya, ragam dan jumlah produk di pasar menyusut, sementara harga yang harus dibayar konsumen menjadi lebih mahal.
Baca juga : Habiburokhman: Di KUHP Baru, Pidana Mati Justru Jadi Pilihan Terakhir
Dalam jangka panjang, kondisi ini diperkirakan akan menggerus margin keuntungan perusahaan AS, membebani konsumen dengan harga tinggi, serta memaksa negara-negara pengekspor ke AS mencari pasar alternatif akibat menurunnya volume penjualan.
“Tarif ini adalah gol bunuh diri,” kata Direktur Riset Institut Kiel, Julian Hinz.
“Anggapan bahwa negara asing membayar tarif adalah mitos. Data justru menunjukkan warga Amerika yang menanggung biayanya," imbuhnya, dimuat website Kiel Institut.
Studi berjudul America’s Own Goal: Who Pays the Tariffs? ini disusun Julian Hinz, Aaron Lohmann, Hendrik Mahlkow, dan Anna Vorwig, dirilis Januari 2026. Data penelitian bersumber dari Panjiva, Biro Sensus AS, serta catatan Bea Cukai India.
Baca juga : Kapolri Minta Layanan 110 Lebih Responsif Layani Aduan Warga
Penelitian ini didasarkan pada analisis lebih dari 25 juta catatan pengiriman barang, dengan nilai total mencapai sekitar 4 triliun dolar AS.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.