BREAKING NEWS
 

KBRI Tokyo-Kemenperin Fasilitasi Japan-US Training Bagi Transisi Energi Nasional

Reporter & Editor :
MELLANI EKA MAHAYANA
Selasa, 20 Januari 2026 21:19 WIB
Pelaksanaan Japan-US Training Program on Responsible Use of Small Modular Reactor (SMR) Technology for Indonesia pada 19-23 Januari 2026 di KBRI Tokyo, Jepang. (Foto KBRI Tokyo)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo bersama Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memfasilitasi Japan–US Training Program on Responsible Use of Small Modular Reactor (SMR) Technology for Indonesia. Kegiatan ini digelar pada 19-23 Januari 2026 di KBRI Tokyo, Jepang.

Program ini merupakan bagian dari penguatan kerja sama Indonesia–Jepang–Amerika Serikat (AS) dalam mendukung transisi energi nasional Indonesia menuju Net Zero Emission (NZE) 2060. 

Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) KBRI Tokyo, Maria Renata Hutagalung, dalam pembukaan acara mengatakan bahwa isu utama pengembangan energi nuklir tidak hanya bersifat teknis. Menurutnya, isu tersebut juga menyangkut tata kelola (governance), kerangka keselamatan (safety framework), serta pengembangan sumber daya manusia secara berkelanjutan.

Melalui Rencana Induk Kelistrikan Nasional 2025–2060, Indonesia telah menetapkan arah kebijakan yang jelas untuk memastikan keamanan energi, keandalan sistem, dan keberlanjutan lingkungan, sekaligus mencapai Emisi Nol Bersih pada 2060 atau lebih awal.

Energi Nuklir Indonesia

Baca juga : Percepat Aksesi OECD, Pemerintah Perkuat Transformasi Ekonomi Nasional

"Dalam kerangka ini, energi nuklir secara eksplisit diakui sebagai bagian dari sumber energi utama Indonesia. Pengembangannya bergantung pada standar keselamatan tertinggi, kesiapan regulasi dan kelembagaan yang kuat, sumber daya manusia yang berkualitas, dan keterlibatan pemangku kepentingan yang bermakna,” terang KUAI Maria Renata.

Dia didampingi Koordinator Fungsi Ekonomi KBRI Tokyo Sunan Jaya Rustam, Atase Perindustrian Sofyari Rahman, dan Sekretaris Ketiga Fungsi Ekonomi Yusuf Ausiandra.

“KBRI Tokyo berkomitmen untuk terus memfasilitasi dan memperkuat kerja sama Indonesia dan Jepang, termasuk di bidang energi nuklir yang aman, bertanggung jawab, dan berorientasi pada pembangunan berkelanjutan,” tambahnya.  

Adsense

Presiden Association for Overseas Technical Cooperation and Sustainable Partnerships (AOTS), Yasuhiko Yoshida, menegaskan komitmen Jepang dalam pengembangan kapasitas SDM Indonesia di bidang teknologi energi maju. Termasuk teknologi reaktor nuklir generasi baru.

Baca juga : Pertamina Ajak Publik Bergerak Bersama Dalam Transisi Energi

Hingga saat ini lebih dari 26.000 peserta asal Indonesia telah mengikuti berbagai jenis program pelatihan AOTS.

Dalam sesi kebijakan nasional Indonesia, Prof. Agus Puji Prasetyono dari Institut Teknologi PLN, menyampaikan bahwa bauran energi Indonesia saat ini masih didominasi pembangkit berbasis batu bara. Sementara kebutuhan baseload yang andal dan rendah karbon menjadi krusial untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8 persen serta upaya keluar dari middle-income trap.

Pemerintah Indonesia telah memasukkan energi nuklir dalam Kebijakan Energi Nasional (KEN) dan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL), serta tengah mempersiapkan pembentukan Nuclear Energy Planning and Implementing Organization melalui Peraturan Presiden.

Dari sisi Jepang, Presiden Japan Atomic Industrial Forum (JAIF), Hideki Matsui, menyampaikan bahwa SMR merupakan salah satu opsi strategis penyediaan energi bersih yang stabil, namun memerlukan kesiapan infrastruktur dasar, regulasi yang kuat, serta perhatian terhadap aspek keselamatan dan sosial.

Baca juga : Kolaborasi Sido Muncul Dan Smile Train Operasi Sumbing Bibir Gratis 50 Pasien

Pihak Ministry of Energy, Trade, and Industry (METI) Jepang yang diwakili Emitsu Abe, Deputy Director, Office for International Nuclear Energy, Nuclear Energy Policy Planning Division Agency for Natural Resources and Energy, turut berbagi pembelajaran praktis Jepang dalam membangun kebijakan energi secara bertahap dan berbasis kepercayaan publik, termasuk implementasi Strategic Energy Plan terbaru Jepang (Februari 2025) yang menempatkan energi nuklir sebagai pilar dekarbonisasi.

Dari pihak Amerika Serikat, hadir wakil dari U.S. Embassy Tokyo, U.S. Department of State, serta dari Foundational Infrastructure for Responsible Use of SMR Technology (FIRST) Program.

Disampaikan bahwa Indonesia merupakan mitra bilateral dalam FIRST Program yang saat ini diikuti sekitar 50 negara. Program ini mencakup pelatihan komprehensif mulai dari kesiapan regulasi, keselamatan dan nonproliferasi, hingga konsultasi pembiayaan serta kesiapan infrastruktur untuk pemanfaatan SMR secara bertanggung jawab.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense