RM.id Rakyat Merdeka - Situasi di Iran dan sekitarnya membuat para pemimpin dunia khawatir. Mereka menekankan pentingnya dialog, penghentian eskalasi militer, dan perlindungan warga sipil.
Sabtu (28/2/2026), Israel-Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan gabungan ke Iran. Menurut media setempat, insiden itu menewaskan sekitar 85 orang dan melukai tak kurang dari 90 orang. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan keluarga juga meninggal dunia dalam serangan ini.
Iran menegaskan haknya untuk membela diri dan menuntut pertanggungjawaban bagi agresi yang menewaskan warga sipil. Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Iran menyatakan, bahwa tanah air mereka sekali lagi menjadi sasaran agresi militer kriminal oleh Amerika Serikat dan rezim Zionis.
"Pada pagi ini menjelang Nowruz (Tahun Baru Persia) dan hari kesepuluh bulan suci Ramadan, dalam pelanggaran terang-terangan terhadap integritas wilayah dan kedaulatan nasional, mereka menargetkan berbagai sasaran militer, infrastruktur pertahanan, serta situs sipil di berbagai kota,” tulis Kemlu Iran di X, Sabtu (28/2/2026).
Dalam pernyataannya, Kemlu Iran menegaskan bahwa serangan ini terjadi meski kedua negara tengah menjalani proses diplomatik. Yaitu negosiasi nuklir yang tengah berlangsung di Jenewa, Swiss.
“Meskipun kami sadar akan niat Amerika Serikat dan rezim Zionis untuk melakukan agresi militer lainnya, kami kembali memasuki negosiasi untuk menyampaikan kasus kami kepada komunitas internasional dan semua negara di dunia, agar membuktikan kebenaran bangsa Iran dan menunjukkan ketidakabsahan alasan agresi,” kata kementerian tersebut.
Baca juga : Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengecam eskalasi militer dan menyerukan segera penghentian permusuhan.
“Penggunaan kekuatan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, dan serangan balasan Iran di kawasan, mengancam perdamaian dan keamanan internasional. Semua negara anggota harus menghormati hukum internasional dan kembali ke jalur negosiasi,” ujarnya.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dari Turki menyatakan kesedihan dan keprihatinannya atas serangan tersebut. Erdogan menekankan bahwa Turki akan mempercepat upaya diplomasi untuk gencatan senjata dan menjaga keamanan regional.
“Serangan yang dilancarkan Amerika dan Israel terhadap Iran merupakan pelanggaran jelas terhadap kedaulatan Iran. Jika akal sehat dan kebijaksanaan tidak berlaku, kawasan kita menghadapi risiko masuk ke dalam lingkaran api. Semua aktor, terutama dunia Islam, harus segera bertindak,” ujarnya.
Di Eropa, Presiden Emanuel Macron dari Prancis menegaskan, pecahnya perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran membawa konsekuensi serius bagi perdamaian dan keamanan internasional.
"Iran harus kembali ke meja negosiasi untuk menghentikan program nuklir dan misilnya serta menghentikan destabilisasi regional,” katanya.
Sementara Perdana Menteri (PM) Inggris Keir Starmer menegaskan, Iran harus segera menghentikan serangan. Starmer menuntut Iran menyerahkan program senjata, dan mengakhiri kekerasan serta penindasan terhadap rakyatnya.
Baca juga : Amerika-Israel Serang Iran, Perang Dunia III Di Depan Mata
"Kami ingin melihat perdamaian dan keamanan, serta perlindungan kehidupan sipil. Iran dapat mengakhiri ini sekarang," kata Starmer.
Di kawasan Asia Pasifik, Perdana Menteri Anthony Albanese dari Australia menyatakan dukungan kepada rakyat Iran dalam perjuangan melawan penindasan dan menekankan bahwa rezim Iran adalah ancaman bagi keamanan global.
“Kami mendukung Amerika Serikat mengambil langkah untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir dan mengancam perdamaian internasional,” katanya.
Di Timur Tengah, Arab Saudi mengutuk dan mengecam sekeras-kerasnya agresi Iran yang terang-terangan dan pelanggaran kedaulatan yang mencolok terhadap Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar, Kuwait, dan Yordania. Riyadh menegaskan solidaritas penuh kepada sesama Negara Arab.
China lewat Juru Bicara Kementerian Luar Negerinya menyerukan penghormatan terhadap kedaulatan Iran dan penghentian eskalasi.
Sedangkan Kemlu Oman menekankan kedua belah pihak pentingnya kembali ke jalur diplomasi.
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim juga menyerukan penghentian segera permusuhan dan perlindungan warga negaranya di kawasan.
Baca juga : Iran Diserang, KBRI Teheran Terus Perkuat Komunikasi dengan WNI
"Inisiatif Israel atas serangan-serangan ini adalah upaya keji untuk menyabotase negosiasi yang sedang berlangsung dan untuk menyeret negara-negara lain ke dalam konflik yang mungkin sulit untuk dikendalikan," tulisnya di X.
Indonesia turut menyampaikan keprihatinannya. Pemerintah RI menyesalkan kegagalan negosiasi antara AS dan Iran yang mengakibatkan eskalasi militer di Timur Tengah.
Semua pihak diminta menahan diri, menghormati kedaulatan, dan menyelesaikan perbedaan melalui cara damai.
"Pemerintah Indonesia, khususnya Presiden Republik Indonesia, menyatakan kesediaannya untuk memfasilitasi dialog guna membangun kembali kondisi keamanan yang kondusif dan jika disetujui oleh kedua belah pihak, Presiden Indonesia bersedia melakukan perjalanan ke Teheran untuk melakukan mediasi," tulis Kemlu RI.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.