Dark/Light Mode

Besok Sidang Isbat, Semoga Puasa Barengan

Senin, 16 Februari 2026 08:12 WIB
Pelaksanaan Sidang Isbat. (Foto: Dwi Pambudo/RM)
Pelaksanaan Sidang Isbat. (Foto: Dwi Pambudo/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Besok, Selasa (17/2/2026), Kementerian Agama (Kemenag) menggelar Sidang Isbat untuk menentukan 1 Ramadan 1447 Hijriah. Harapan semua umat Islam, semoga puasa tahun ini bisa barengan.

Sidang Isbat akan berlangsung di Auditorium HM Rasjidi, kantor Kementerian Agama Jakarta. Sidang untuk menetapkan 1 Ramadan atau awal Puasa ini akan dipimpin langsung Menteri Agama Prof. KH. Nasaruddin Umar. Perwakilan dari semua ormas Islam diundang hadir.

Dalam sidang itu, Kemenag akan memaparkan data hisab (perhitungan astronomi) serta laporan rukyatul hilal dari 96 titik pemantauan di seluruh wilayah Indonesia. Hasil musyawarah bersama para ulama dan pemangku kepentingan kemudian menjadi dasar penetapan awal Ramadhan.

"Sidang Isbat akan dihadiri oleh sejumlah pihak, perwakilan ormas Islam, perwakilan kedubes negara-negara Islam, MUI, BMKG, ahli falak, DPR, dan perwakilan Mahkamah Agung," kata Direktur Jenderal Bimas Islam Abu Rokhmad, Minggu (15/2/2026).

Abu menjelaskan, ada tiga rangkaian pelaksanaan sidang Isbat. Yakni, pemaparan data posisi hilal berdasarkan perhitungan astronomi, verifikasi hasil rukyatul hilal dari 37 titik pemantauan di Indonesia. Selanjutnya, musyawarah dan pengambilan keputusan yang diumumkan kepada masyarakat.

Dalam penentuan awal Ramadan, Idul Fitri 1 Syawal, dan Idul Adha, Kemenag mengintegrasikan metode hisab dan rukyah. Abu mengajak masyarakat menunggu hasil Sidang Isbat dan pengumuman Pemerintah terkait awal Ramadan 1447 H nanti. Hal ini sejalan dengan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penetapan Awal Ramadan, Syawal dan Zulhijjah.

Baca juga : BRI Pangkas Bunga PNM Dan Permudah Akses Hunian MBR

Sementara itu, Muhammadiyah sudah lebih dulu menetapkan awal Ramadan jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Keputusan tersebut dikeluarkan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah melalui Maklumat Nomor 2/MLM/I.0/E/2025.

Penetapan dilakukan menggunakan metode hisab hakiki dengan acuan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) tanpa menunggu hasil pengamatan hilal. Berdasarkan parameter KHGT, ijtimak (konjungsi antara bulan dan matahari) menjelang Ramadan 1447 H terjadi pada Selasa 17 Februari 2026 pukul 12:01:09 UTC.

"Meskipun di Indonesia hilal masih di bawah ufuk saat matahari terbenam, namun karena kriteria global telah terpenuhi di wilayah lain, maka 1 Ramadan ditetapkan jatuh pada keesokan harinya," tulis pernyataan resmi Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.

Bagaimana dengan PBNU? Hingga kemarin, ormas Islam terbesar di Indonesia itu belum menetapkan kapan 1 Ramadan akan tiba. NU menunggu tim pemantauan hilal pada bulan Sya'ban. 

Ketua Umum PBNU KH. Yahya Cholil Staquf menyatakan, NU tetap konsisten menggunakan metode rukyat atau melihat langsung hilal (bulan).

‎"Nanti kita lihat dulu tanggal 17 Februari, apakah hilalnya terlihat atau tidak. Kalau terlihat, besoknya kita sudah mulai puasa. Kalau tidak, berarti Sya’ban digenapkan 30 hari," ujarnya saat menghadiri Konferensi Wilayah XIII PW-NU Kalteng di Aula Jayang Tingang, Kantor Gubernur Kalteng, Sabtu (14/2/2026) sore.‎

Baca juga : Mudahkan Pegawai Mudik Lebaran, Pramono Siapkan WFA & Format Jaga Layanan

‎Soal potensi perbedaan awal puasa, Gus Yahya menilai, ini bukan persoalan baru. Metode penentuan awal bulan, bagian pemikiran Islam yang tak perlu dipersoalkan berlebihan.

"Sudah puluhan tahun seperti ini dan tidak ada masalah. Masyarakat sudah terbiasa. Tetap saling menghormati," pesan juru bicara Presiden ke-4 KH. Abdurrdahman Wahid (Gus Dur) ini.

BRIN Prediksi Ada Perbedaan

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) turut menyampaikan pandangan ilmiah terkait awal Ramadan 2026. Koordinator KR Astronomi dan Observatorium Pusat Riset Antariksa BRIN, Prof. Thomas Djamaluddin memprediksi, akan ada perbedaan penentuan awal Ramadan 1447.

"Sumber perbedaan bukan seperti sebelumnya yang terkait posisi hilal, tetapi lebih disebabkan oleh perbedaan 'hilal lokal' dan 'hilal global'," jelas Thomas.

Fakta astronomi menunjukkan bahwa posisi hilal atau bulan sabit muda lokal belum memenuhi kriteria Kemenag Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) pada Selasa (17/2/2026) di wilayah Asia Tenggara.

Hal ini berdasarkan kriteria yang digunakan oleh Pemerintah dan sebagian besar Ormas Islam, yaitu kurva kuning, tinggi minimal 3 derajat, dan elongasi 6,4 derajat geosentrik. Atas dasar itulah perkiraan awal puasa 2026 akan jatuh Kamis (19/2/2026).

Baca juga : Janji Purbaya Ke Anak Muda: Ke Depan, Loker Bakal Melimpah

Kementerian Agama dan sebagian besar ormas Islam, lanjut dia, menggunakan kriteria 'hilal lokal', yang mensyaratkan posisi hilal memenuhi kriteria visibilitas di wilayah Indonesia. "Pada saat magrib 17 Februari, posisi hilal/bulan masih di bawah ufuk. Jadi tidak mungkin dirukyat (diamati). Jadi, awal Ramadan hari berikutnya, yaitu 19 Februari 2026," jelasnya.

Namun, bagi organisasi masyarakat (ormas) Islam yang memedomani kriteria Turkiye, posisi hilal di wilayah Amerika sudah terpenuhi dengan tinggi minimal 5 derajat dan elongasi 8 derajat.

Di wilayah Alaska juga sudah memenuhi sehingga menurut kriteria Turkiye 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh Rabu (18/2/2026). Muhammadiyah menggunakan 'hilal global', asalkan hilal memenuhi kriteria visibilitas di mana pun. 

"Pada 17 Februari posisi hilal/bulan telah memenuhi kriteria di Alaska dan konjungsi terjadi sebelum fajar di Selandia Baru, maka awal Ramadan ditetapkan 18 Februari 2026," urai Thomas. FAQ/MEN

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.