RM.id Rakyat Merdeka - Serangan militer gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran, memicu perdebatan tajam di Washington. Sejumlah politisi menilai, langkah tersebut berisiko merugikan rakyat Negeri Paman Sam. Terutama jika konfl ik berlarut-larut tanpa rencana pascaperang yang jelas.
Sejak operasi militer dilancarkan pada 28 Februari 2026, kubu Partai Republik dan Demokrat terbelah dalam menyikapi kebijakan Presiden AS Donald Trump. Kritik mengemuka lantaran Gedung Putih belum memiliki peta jalan politik pascatewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, dalam serangan tersebut.
Konfllik yang melibatkan AS, Israel dan Iran telah mengguncang berbagai sektor. Mulai dari pelayaran internasional, penerbangan, hingga distribusi minyak dunia.
Akibat invasi tersebut, tiga personel militer AS dilaporkan tewas dan lima lainnya mengalami luka parah. Mereka korban awal dari pihak AS dalam operasi yang masih berlangsung.
Sebagian besar politisi Republik mendukung langkah Trump. Ketua Komite Intelijen Senat dari Arkansas, Senator Tom Cotton, mengatakan, tidak ada jawaban sederhana mengenai masa depan Iran.
Senator Lindsey Graham dari Carolina Selatan bahkan mendorong agar rakyat Iran menentukan pemimpin berikutnya secara demokratis. Sementara, politisi Republik dari Florida, Senator Rick Scott berharap, keterlibatan AS di Iran dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari satu bulan.
Baca juga : Idrus Kecam Serangan AS–Israel Tewaskan Khamenei, Ancaman Perdamaian Dunia
“Semuanya tergantung pada siapa pun pemimpin baru di Iran,” ungkap Scott saat di acara Sunday Morning Futures di Fox, Minggu (1/3/2026).
"Rakyat AS akan dirugikan jika perang ini berkepanjangan sampai lima atau 10 tahun," ingat Scott.
Politisi Demokrat dari Delaware, Senator Chris Coons tidak yakin akan ada perubahan rezim di Iran pascaserangan AS-Israel.
"Tidak ada contoh yang saya ketahui dalam sejarah modern perubahan rezim terjadi semata-mata melalui serangan udara,” sebut Coons dalam program State of the Union di CNN, Minggu (1/3/2026).
Presiden Trump mengatakan, 48 tokoh terkemuka dalam pemerintahan Iran telah tewas pada Minggu (1/3/2026). Trump bilang perang bisa berlangsung sekitar empat pekan.
Wakil Ketua Komite Intelijen Senat dari Partai Demokrat asal Virginia Senator Mark Warner mengatakan, Pemerintah tidak memberikan bukti adanya ancaman darurat jika Khamenei tetap memimpin Iran. Sebaliknya, Trump memulai perang secara sepihak.
Baca juga : Timteng Tutup Langit, Jutaan Penumpang Pesawat Telantar
"Saya tidak melihat temuan intelijen apa pun yang menunjukkan bahwa Iran akan segera melancarkan serangan pendahuluan ke Amerika Serikat," ujar Warner.
Dia menegaskan, berdasarkan Konstitusi, kewenangan menyatakan perang berada di tangan Kongres. Bukan di tangan Presiden.
Sementara, Wakil Presiden Eksekutif Quincy Institute for Responsible Statecraft Trita Parsi mengatakan, Trump terlihat mencari-cari dalih untuk meraih dukungan atas tindakan AS ke Iran. Apalagi menjelang Pemilu sela November nanti.
Pemilu sela (midterms) 2026 hanya tinggal sembilan bulan lagi. Kekalahan di Pemilu tersebut mengancam dominasi Partai Republik di Kongres. Pada November tahun ini, 35 kursi Senat AS dan seluruh 435 kursi DPR AS akan diperebutkan dalam pemilihan paruh waktu 2026.
"Jelas, Trump mengalami kesulitan besar menemukan pembenaran untuk perang, pilihan yang telah dia mulai, yang sebenarnya akan berhasil di mata basis pendukungnya," ujar Parsi dikutip dari Al Jazeera, Minggu (1/3/2026).
Hasil jajak pendapat Reuters/Ipsos menunjukkan, dukungan publik terhadap serangan relatif rendah. Hanya sekitar 25 persen responden menyatakan setuju, sementara 43 persen menolak dan 29 persen tidak yakin.
Baca juga : Kemlu Soal Serangan AS & Israel ke Iran: Presiden Prabowo Siap Fasilitasi Dialog
Selain itu, 45 persen responden menyatakan akan semakin tidak mendukung jika harga bensin dan minyak di AS meningkat akibat konflik.
Serangan bersama AS dan Israel yang menggempur berbagai wilayah Iran pada 28 Februari 2026 tersebut, dilaporkan menewaskan Khamenei beserta sejumlah anggota keluarganya.
Situasi ini menempatkan Iran dalam fase ketidakpastian politik, sekaligus memicu perdebatan sengit di dalam negeri Amerika Serikat mengenai arah kebijakan luar negerinya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.