BREAKING NEWS
 

Teleponan 1 Jam, Putin Desak Trump Akhiri Perang Iran

Reporter : FAQIH MUBAROK
Editor : SISWANTO
Rabu, 11 Maret 2026 08:14 WIB
Presiden AS Donald Trump (kiri) dan Presiden Rusia Vladimir Putin. (Foto: kolase IG)

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Rusia Vladimir Putin turun tangan terkait perang Amerika Serikat-Israel vs Iran. Dalam percakapan telepon selama satu jam dengan Presiden AS Donald Trump, Putin mendesak Washington segera mengakhiri perang dengan Iran.

Percakapan kedua pemimpin negara besar dunia itu berlangsung pada Senin (9/3/2026). Informasi mengenai pembicaraan tersebut diungkap Utusan Khusus Presiden Rusia untuk Investasi dan Kerja Sama Ekonomi dengan Negara Asing sekaligus Direktur Jenderal Russian Direct Investment Fund (RDIF), Kirill Dmitriev.

Menurut Dmitriev, percakapan antara Putin dan Trump berlangsung konstruktif. Keduanya membahas berbagai solusi potensial untuk mengakhiri konflik di Ukraina maupun perang di kawasan Timur Tengah.

“Percakapan konstruktif berlangsung selama satu jam. Mereka membahas solusi yang potensial untuk akhiri konflik Ukraina dan Iran,” tulis Dmitriev melalui media sosial X, dikutip Selasa (10/3/2026).

Ajudan Kremlin Yury Ushakov menyampaikan hal serupa. Ia mengatakan, pembicaraan via telepon ini merupakan komunikasi pertama antara Putin dan Trump dalam lebih dari dua bulan terakhir.

Percakapan tersebut juga menjadi yang pertama kali dilaporkan ke publik sejak serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026.

Menurut Ushakov, fokus utama pembicaraan adalah situasi konflik dengan Iran. Putin, kata dia, menguraikan sejumlah gagasan yang bertujuan menyelesaikan konflik melalui jalur politik dan diplomatik.

“Termasuk yang terkait dengan kontak terbarunya dengan para pemimpin Teluk, Presiden Iran Masoud Pezeshkian, dan sejumlah pemimpin lainnya,” ujar Ushakov seperti dilansir TASS, Selasa (10/3/2026).

Baca juga : Sambut Lebaran, Pemerintah Pastikan Tak Ada Kenaikan BBM

Sementara itu, Trump menyampaikan penilaiannya mengenai situasi konflik dalam konteks operasi militer AS-Israel yang sedang berlangsung.“Terjadi pertukaran pendapat yang rinci, yang saya yakini bermanfaat bagi kedua belah pihak,” klaim Ushakov.

Selain Iran, kedua presiden juga membahas perkembangan konflik di Ukraina. Mereka bertukar pandangan mengenai situasi terkini di garis pertempuran.

Ushakov menyebut pasukan Rusia saat ini mengalami kemajuan di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut, menurutnya, seharusnya mendorong pemerintah Kiev menempuh jalur negosiasi.

“Ini dicatat sebagai faktor yang seharusnya mendorong rezim Kiev untuk mengambil jalan penyelesaian konflik melalui negosiasi,” ujarnya.

Trump, lanjut Ushakov, menyatakan minatnya untuk segera menyelesaikan konflik Ukraina melalui gencatan senjata dan penyelesaian jangka panjang. “Kami memberikan penilaian positif terhadap upaya mediasi yang dilakukan oleh Donald Trump secara pribadi dan oleh timnya,” kata Ushakov.

Selain itu, kedua pemimpin juga membahas situasi di Venezuela, terutama terkait perkembangan pasar minyak global.

Menurut Ushakov, pembicaraan tersebut membuka peluang kerja sama antara Rusia dan Amerika Serikat di berbagai bidang politik internasional.

Adsense

“Itu pembicaraan profesional, terbuka, dan konstruktif, percakapan yang cukup bermakna,” ujarnya.

Baca juga : Anak Khamenei Jadi Pimpinan Tertinggi Iran

Kedua presiden sepakat komunikasi semacam itu perlu dipertahankan secara rutin. “Dan kedua pemimpin mengatakan mereka siap untuk itu,” pungkas Ushakov.

Di sisi lain, Trump juga mengakui telah berbicara dengan Putin melalui sambungan telepon. Ia menyebut pembicaraan tersebut membahas berbagai isu internasional dan berlangsung positif.

“Soal Ukraina, Presiden Putin dengan Presiden Volodymyr Zelenskyy tampaknya tidak bisa bersama. Tapi saya pikir ada pembahasan positif terkait masalah itu,” ujar Trump dikutip dari Reuters.

Terkait konflik di Timur Tengah, Trump belum menyetujui proposal Putin untuk segera mengakhiri perang antara AS-Israel dan Iran. Trump mengaku dalam percakapan itu Putin justru ingin membantu penyelesaian konflik tersebut.

“Saya katakan kepada Putin, Anda akan lebih membantu dengan cara mengakhiri perang Ukraina-Rusia. Itu akan sangat membantu,” kata Trump.

Mengenai operasi militer AS-Israel terhadap Iran, Trump mengklaim perang tersebut akan berakhir lebih cepat dari perkiraan awal, yakni sekitar empat hingga lima pekan.

“Saya pikir perang ini sudah sangat tuntas, jauh lebih cepat dari jadwal, hampir sepenuhnya,” ujarnya dalam wawancara telepon dengan CBS News dari klub golfnya di Doral, Florida, Senin (9/3/2026).

Trump menilai militer Iran telah mengalami kerusakan besar. “Rudal-rudal mereka tinggal sedikit. Drone-drone mereka dihancurkan di mana-mana, termasuk pabrik pembuatan drone. Militer Iran tidak memiliki apa pun yang tersisa,” klaimnya.

Baca juga : Soal Negosiasi Selat Hormuz, Presiden Prabowo Harus Turun Tangan

Ketika ditanya apakah perang akan segera berakhir, Trump menjawab dengan nada percaya diri. “Berakhirnya perang itu hanya ada di pikiran saya, bukan pikiran orang lain,” ujarnya.

Namun klaim tersebut langsung dibantah oleh Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC). Garda Revolusi Iran menegaskan merekalah yang akan menentukan akhir perang di kawasan Timur Tengah.

“Kamilah yang akan menentukan akhir perang. Situasi dan masa depan kawasan ini sekarang berada di tangan angkatan bersenjata kami. Pasukan Amerika tidak akan bisa mengakhiri perang,” tegas IRGC dalam pernyataan yang dilaporkan Agence France-Presse, Selasa (10/3/2026).

Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran kini telah meluas ke 12 negara di kawasan Timur Tengah dan sekitarnya. Setelah lebih dari sepekan berlangsung, konflik semakin memanas dengan serangan rudal dan drone yang terus terjadi.

Di Iran, otoritas di Teheran melaporkan sedikitnya 1.255 orang tewas dan lebih dari 12.000 lainnya terluka akibat serangan udara. Di Lebanon yang menjadi salah satu front pertempuran, tercatat 394 orang tewas dan lebih dari 1.000 warga terluka, sementara puluhan ribu lainnya mengungsi.

Sementara itu, Israel melaporkan 13 korban tewas dan hampir 2.000 orang terluka akibat serangan balasan rudal dan drone dari Iran. Amerika Serikat juga mengonfirmasi delapan personel militernya tewas dan 18 lainnya masih menjalani perawatan medis.

Negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS atau berada di jalur lintasan rudal juga terdampak konflik. Di antaranya Kuwait dengan enam korban tewas dan 35 luka, Irak enam tewas dan puluhan luka, Uni Emirat Arab empat tewas dan 112 luka, Arab Saudi dua tewas dan 12 luka, Bahrain satu tewas dan 40 luka, Oman satu tewas dan lima luka, Yordania 14 luka, serta Qatar 16 warga terluka.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense