RM.id Rakyat Merdeka - Rusia menegaskan, pasokan energi negaranya sangat diperlukan untuk meredakan krisis energi terbesar dunia, yang saat ini terjadi akibat konflik Timur Tengah.
Hal ini disampaikan Utusan Khusus Presiden untuk Investasi dan Kerja Sama Ekonomi dengan Negara Asing dan Kepala Dana Investasi Langsung Rusia (RDIF), Kirill Dmitriev via platform X.
"Energi Rusia sangat diperlukan untuk meredakan krisis energi terbesar di dunia. Para birokrat Uni Eropa akan segera dipaksa untuk mengenali kenyataan ini, mengakui kesalahan strategis mereka, dan menebusnya," tulis Dmitriev via X.
Baca juga : Apa Itu Rehabilitasi, Hak Prerogatif Presiden Yang Diberikan Untuk Eks Bos ASDP?
Pernyataan ini disampaikan Dmitriev, menanggapi keputusan Amerika Serikat (AS) yang mengizinkan pengecualian terbatas (waiver) pembelian minyak Rusia yang sudah dimuat ke kapal pada atau sebelum 12 Maret 2026, dengan batas pembelian hingga 11 April 2026. Demi menstabilkan pasokan energi global dan meredam lonjakan harga akibat konflik Timur Tengah.
"Langkah AS ini akan berlaku untuk sekitar 100 juta barel minyak Rusia, yang saat ini sedang dalam perjalanan," kata Dmitriev seperti dikutip TASS, Jumat (13/3/2026).
Sebelumnya, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan, Presiden AS Donald Trump telah mengambil langkah tegas untuk mempromosikan stabilitas di pasar energi global, dan bekerja untuk menjaga harga tetap rendah di tengah konflik Timur Tengah.
Baca juga : SPPG Polda Banten dan Dinkes Serang Diskusi Soal MBG, Pastikan Pelayanan Terbaik
"Untuk meningkatkan jangkauan global dari pasokan yang ada, Kementerian Keuangan AS memberikan otorisasi sementara yang mengizinkan negara-negara untuk membeli minyak Rusia yang saat ini terdampar di laut," ujar Bessent via X, Jumat (13/3/2026).
Menurutnya, ketentuan ini hanya berlaku untuk minyak yang sudah dalam perjalanan, dan tidak akan memberikan keuntungan finansial yang signifikan kepada pemerintah Rusia, yang memperoleh sebagian besar pendapatan energinya dari pajak yang dinilai pada saat ekstraksi.
Bessent menyebut kebijakan pro-energi Presiden Trump telah mendorong produksi minyak dan gas AS ke tingkat rekor, berkontribusi untuk menurunkan harga bahan bakar bagi orang Amerika yang pekerja keras.
Baca juga : Baznas Kirim 80 Ton Bantuan Pangan Untuk Rakyat Palestina
"Kenaikan harga minyak sementara adalah gangguan jangka pendek dan sementara, yang akan menghasilkan manfaat besar bagi bangsa dan ekonomi kita dalam jangka panjang," pungkas Bessent.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.