Dark/Light Mode

Geostrategi AS Dalam Perang Rusia-Ukraina Dan Dampaknya Pada Asia Tenggara

Kamis, 6 Maret 2025 05:38 WIB
Prof. Dr. Ermaya Suradinata
Prof. Dr. Ermaya Suradinata

RM.id  Rakyat Merdeka - Dinamika perang Rusia-Ukraina mengalami pergeseran signifikan dengan perubahan kebijakan luar negeri Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump. Berbeda dengan era Joe Biden, pemerintahan Trump menunjukkan kecenderungan untuk meredakan ketegangan dengan Rusia. Hal ini terlihat dari pemungutan suara di Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yang menguntungkan Moskow, serta serangkaian pertemuan diplomatik tingkat tinggi antara kedua negara. 

Perubahan ini memiliki impli­kasi luas, tidak hanya bagi konflik di Eropa Timur, tetapi juga bagi stabilitas dan keseimbangan kekuatan di Asia Tenggara. Bagi Indonesia, kebijakan luar negeri AS yang lebih lunak terhadap Rusia menciptakan ruang diplomasi yang lebih fleksibel dalam menjaga keseimbangan: antara kekuatan global tanpa harus berpihak secara mutlak kepada salah satu aktor utama. Pergeseran sikap AS terhadap Rusia menandakan strategi global yang lebih pragmatis dan berorientasi pada ke­pentingan nasional dibandingkan pen­de­katan konfrontatif era Joe Biden. Trump tampaknya ber­upaya membangun hubungan yang lebih erat dengan Rusia ­untuk mengurangi ketergan­tungan Moskow pada Beijing, sehingga berpotensi melemahkan aliansi strategis Rusia-China. 

Baca juga : Sinergi Ramadan Dan Pancasila Mewujudkan Pemerintahan Daerah Yang Bersih

Langkah ini dapat menciptakan ketidakseimbangan geopolitik, yang sangat mungkin dapat dimanfaatkan oleh negara-negara Asia Tenggara dalam mengelola hubungan mereka dengan kekuatan besar. Bagi Indonesia, perubahan ini memberikan kesempatan untuk memperkuat hubungan dengan Rusia tanpa terlalu terpengaruh oleh tekanan geopolitik AS maupun China, terutama dalam sektor pertahanan dan energi. 

Negara-negara di Asia ­Tenggara, khususnya Indonesia dan Malaysia, menilai perubahan geostrategi AS ini membuka peluang dan tantangan ter­sendiri. Kedekatan Rusia ­dengan negara-negara ASEAN terlihat dari lawatan pejabat tinggi Rusia ­seperti Sergei Shoigu belum lama ini ke Malaysia dan Indonesia, yang menandakan ­peningkatan kerja sama dalam bidang pertahanan dan keamanan. Dengan sanksi AS yang semakin longgar terhadap Rusia, negara-negara Asia ­Tenggara dapat lebih ­leluasa menjalin hubungan dengan Moskow tanpa khawatir akan tekanan dari Washington. Hal ini dapat memperkuat diversifikasi sumber daya militer dan ­ekonomi, ­mengurangi ketergantungan terhadap satu kekuatan global. 

Baca juga : Konsolidasi Politik Memperkuat Geopolitik Indonesia Menuju Indonesia Semesta 2045

Kendati begitu, perubahan kebijakan ini juga membawa ketidakpastian. Jika AS berhasil menarik Rusia keluar dari orbit China, Beijing mungkin akan memperkuat pengaruhnya di kawasan melalui pendekatan yang lebih agresif, baik dalam aspek ekonomi maupun militer. Sengketa Laut China Selatan, misalnya, dapat menjadi lebih kompleks dengan meningkatnya persaingan antara kekuatan besar di kawasan. 

Dari itu negara-negara ­ASEAN harus memainkan diplomasi yang cermat agar tidak terjebak dalam rivalitas kekuatan besar yang dapat mengancam stabilitas regional. Dalam konteks ini, Indonesia harus memperkuat diplomasi maritimnya serta mempertegas kebijakan luar negeri bebas aktif agar tetap menjadi poros yang stabil di ­tengah dinamika geopolitik global. Bersamaan pula, negara-negara Asia Tenggara harus merespons dengan kebijakan luar negeri yang fleksibel. 
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.