RM.id Rakyat Merdeka - Perang Amerika Serikat (AS)-Israel vs Iran yang disertai penutupan Selat Hormuz dampaknya mulai meluas. Kini, Eropa menghadapi krisis avtur dan AS dilaporkan kekurangan amunisi.
Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) menyebut sejumlah penerbangan di Eropa terancam dibatalkan dalam waktu dekat. Penyebabnya adalah me nipisnya pasokan bahan bakar jet (avtur) akibat konflik di kawasan Timur Tengah.
Laporan bulanan IEA mencatat, sekitar 75 persen kebutuhan avtur Eropa diimpor dari kawasan Timur Tengah.
“Jika pasokan minyak tetap terhambat karena perang, beberapa penerbangan di Eropa kemungkinan akan dibatalkan,” kata Kepala IEA, Fatih Birol, dikutip dari AFP, Jumat (17/4/2026).
Baca juga : Justin Adrian Untayana: Premanisme Tak Akan Hilang Tanpa Sikap Tegas
Birol bahkan menyebut Eropa hanya memiliki cadangan bahan bakar jet untuk sekitar enam pekan. Kekurangan avtur diperkirakan mulai terjadi pada akhir April atau awal Mei 2026.
“Eropa mungkin hanya memiliki persediaan bahan bakar jet sekitar enam minggu lagi,” ujarnya.
Ia menambahkan, jika Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali, dunia akan melihat banyak penerbangan yang dibatalkan. “Penerbangan dari kota A ke kota B bisa dibatalkan akibat kekurangan bahan bakar jet,” tambahnya.
Perkiraan enam pekan dari IEA dinilai lebih optimistis dibanding proyeksi Airports Council International (ACI) Europe yang mewakili bandara-bandara di Eropa. Pada 9 April lalu, ACI menyebut cadangan avtur Eropa hanya cukup untuk tiga minggu.
Baca juga : Abdul Aziz: Premanisme Ganggu Investasi Dan Iklim Usaha
“Eropa dapat menghadapi kekurangan bahan bakar pesawat secara sistemik dalam waktu tiga minggu jika jalur logistik maritim di kawasan Teluk tidak segera kembali normal,” bunyi pernyataan resmi ACI, dikutip dari Dawn.
Kepala Ekonom Rystad Energy, Claudio Galimberti menambahkan, kondisi ini sangat bergantung pada volume minyak yang dapat melintas melalui Selat Hormuz. “Situasi yang dihadapi maskapai penerbangan sangat bergantung pada hal ini,” ujarnya.
Sementara itu, sejumlah maskapai penerbangan di Eropa telah meminta otoritas Uni Eropa di Brussels untuk segera mengambil langkah darurat.
Kelompok industri Airlines for Europe (A4E) mengingatkan, tanpa intervensi cepat dari Uni Eropa, maskapai akan menghadapi kekurangan avtur dan lonjakan biaya operasional. A4E, yang mewakili maskapai besar seperti Lufthansa, Air France-KLM, easyJet, dan Brussels Airlines, telah mengirimkan surat resmi kepada Komisi Eropa.
Baca juga : DPR: Pilih Yang Profesional
Mereka mendesak Uni Eropa segera menjalankan rencana darurat, termasuk pemantauan stok bahan bakar, penangguhan sementara Sistem Perdagangan Emisi (ETS) untuk sektor penerbangan, serta penghapusan pajak tiket pesawat. “Langkah ini krusial untuk menekan kerugian ekonomi,” tulis A4E, dikutip AFP, Jumat (17/4/2026).
Maskapai juga mengusulkan pembentukan sistem pengadaan bahan bakar bersama di tingkat Uni Eropa. Skema serupa sebelumnya diterapkan dalam pembelian gas alam pada 2022 saat perang Ukraina.
Selain itu, maskapai meminta penyesuaian aturan cadangan minyak darurat. Saat ini, setiap negara anggota wajib menyimpan cadangan minyak selama 90 hari, tapi belum ada ketentuan spesifik terkait stok avtur.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.