RM.id Rakyat Merdeka - Pemerintah China menyuarakan kekhawatiran atas meningkatnya peran militer Jepang di kawasan Asia-Pasifik, menyusul partisipasi Negeri Sakura itu dalam latihan militer gabungan Balikatan.
Latihan tahunan yang digelar Amerika Serikat (AS) dan Filipina selama puluhan tahun itu, kini melibatkan Jepang yang mengarahkan sekitar 1.400 personel. Kontingen negara lain yang terlibat adalah Australia, Selandia Baru, Prancis, serta Kanada.
Untuk pertama kali sejak berakhirnya Perang Dunia II, pasukan Jepang kembali ke Filipina dalam latihan pada 20 April hingga 8 Mei 2026.
Baca juga : Industri Migas Memiliki Efek Besar Bagi Ekonomi Daerah
Personel Pasukan Bela Diri Jepang (JSDF) sebelumnya menghadiri latihan Balikatan sebagai pengamat dan dalam peran non-tempur yang berfokus pada bantuan kemanusiaan dan tanggap bencana. Namun, keterlibatan dalam skala tersebut dinilai sejumlah pihak sebagai sinyal semakin aktifnya peran militer Tokyo di luar negeri.
Perjanjian akses timbal balik antara Manila dan Tokyo, yang mulai berlaku pada September 2025, memungkinkan personel JSDF dan Angkatan Bersenjata Filipina (AFP) terjun ke wilayah masing-masing untuk latihan dan misi lainnya.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun menegaskan, dunia harus tetap waspada terhadap potensi bangkitnya kembali militerisme Jepang.
Baca juga : Risiko Penularan HIV/AIDS Di DKI Jakarta Masih Tinggi
“Pencegahan terhadap kebangkitan militerisme merupakan kewajiban Jepang, sekaligus kehendak tegas masyarakat internasional,” ujar Guo dalam konferensi pers di Beijing, Senin (21/4/2026), dilansir Kantor Berita China, Xinhua.
Dia juga mendesak Jepang mengambil pelajaran dari sejarah, khususnya pengalaman kelam pada masa Perang Dunia II, serta tetap berkomitmen pada jalur pembangunan damai.
“Kita perlu menekankan bahwa Jepang memikul tanggung jawab sejarah yang berat terhadap negara-negara Asia Tenggara. Termasuk Filipina, akibat agresi dan penjajahan yang dilakukannya selama Perang Dunia II,” tegas Guo dikutip dari media China, Global Times.
Baca juga : Wolves Degradasi, Pemilik Fokus Esport
Menurutnya, langkah Jepang memperluas kerja sama militer dengan negara lain, khususnya dalam latihan di kawasan yang sensitif secara geopolitik, berpotensi memicu ketegangan baru.
Balikatan tahun ini memang digelar di sejumlah titik strategis. Termasuk wilayah yang menghadap Selat Taiwan dan Laut China Selatan. Dua kawasan yang selama ini menjadi sorotan dalam dinamika keamanan regional.
Kolonel Takeshi Higuchi dari staf gabungan Tokyo mengatakan, latihan tersebut diharapkan dapat memperkuat stabilitas kawasan. “Latihan ini berkontribusi menciptakan lingkungan keamanan, dan tidak mentolerir upaya sepihak untuk mengubah status quo dengan kekuatan,” ujarnya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.