Dark/Light Mode

Panggil Mendikti & Menteri KKP, Prabowo Bahas Giant Sea Wall

Selasa, 21 April 2026 08:07 WIB
Presiden Prabowo. (Foto: Setpres)
Presiden Prabowo. (Foto: Setpres)

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Prabowo Subianto mulai mematangkan proyek Giant Sea Wall  (Tanggul Laut Raksasa) di Pantai Utara (Pantura) Jawa. Sejumlah pejabat seperti Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Dikti Saintek) Brian Yuliarto dan  Menteri Kelautan dan Perikanan (KP) Sakti Wahyu Trenggono dipanggil ke Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (20/4/2026).

Mulai pukul 13.30 WIB, sejumlah pejabat yang dipanggil hadir di Istana. Direktur Utama PT Pindad (Persero), Sigit P. Santosa menjadi salah satu yang hadir lebih awal. Lalu disusul Menteri Brian Yuliarto, Menteri Sakti Wahyu Trenggono, dan Wakil Menteri KP  sekaligus Kepala Badan Pengelola Otorita Pantai Utara, Didit Herdiawan Asha. Mereka kompak mengenakan kemeja putih.

Sebelum rapat dimulai, Brian mengaku belum mengetahui secara rinci agenda pembahasan. Namun, ia mengindikasikan bahwa pertemuan dengan Presiden berkaitan dengan proyek Giant Sea Wall.

“Nggak tahu ya (agenda apa), cuma mungkin tentang Giant Sea Wall ya, tapi nanti saya lihat dulu ya,” kata Brian.

Pernyataan senada disampaikan Trenggono. Ia menduga, kemungkinan pembahasan memang mengarah pada kelanjutan proyek tanggul laut raksasa. “Mungkin,” ujarnya singkat.

Usai rapat terbatas, Wamen KP Didit Herdiawan Asha mengungkapkan proyek Giant Sea Wall hingga kini masih dalam tahap perencanaan. Pemerintah, kata Didit, masih mendalami berbagai aspek, khususnya terkait konstruksi dan kesiapan sumber daya.

Baca juga : Kloter Pertama Tiba Besok di Madinah, Jemaah Haji Pakai Fasilitas Fast Track

“Kita akan mendalami lagi untuk kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan konstruksi,” ujar Didit.

Didit menegaskan belum ada keputusan baru yang dihasilkan dalam rapat bersama Presiden hari ini. Baik terkait skema investasi, jadwal pembangunan, maupun tahapan implementasi.

Namun, pemerintah membuka peluang percepatan proyek dengan tetap mempertimbangkan kesiapan teknis dan sumber daya yang tersedia. “Target waktunya masih dihitung karena berkaitan dengan resources yang ada,” ungkap Didit.

Ia juga menjelaskan pembangunan akan dilakukan secara bertahap dengan prioritas awal di kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa, yang selama ini rentan terhadap banjir rob dan penurunan muka tanah. “Pantura (dulu),” imbuhnya.

Selain itu, pemerintah mempertimbangkan pendekatan pembangunan yang ramah lingkungan dengan memanfaatkan sumber daya dalam negeri, termasuk penggunaan material berbasis limbah (waste) sebagai bagian dari konsep konstruksi berkelanjutan.

“Di Indonesia kita manfaatkan semua,” sebut Didit.

Baca juga : Hanya 3 Jenis BBM Nonsubsidi yang Naik Harga

Di kesempatan yang sama, Menteri Brian Yuliarto menyampaikan kementeriannya diminta berperan aktif dalam mendukung proyek Giant Sea Wall. Terutama melalui kontribusi riset dan inovasi dari perguruan tinggi.

Menurut Brian, proyek ini memiliki nilai strategis tinggi karena berpotensi melindungi sekitar 60 persen kawasan industri nasional dan lebih dari 30 juta penduduk yang tinggal di wilayah pesisir utara Jawa.

“Kalau program ini berjalan, maka akan bisa menyelamatkan kawasan industri dan puluhan juta penduduk di wilayah pesisir,” jelas Brian.

Ia menambahkan, berbagai hasil penelitian dari kampus yang telah diuji coba di lapangan akan dimanfaatkan untuk memperkuat desain dan implementasi proyek. Salah satunya riset yang telah diterapkan di wilayah Demak dan Semarang terkait pengendalian abrasi dan pembangunan kawasan pesisir.

“Jadi, dosen-dosen yang selama ini penelitian-penelitian yang ada di kampus yang mendukung untuk percepatan dan menjadi lebih efisien tentang pengembangan Giant Sea Wall itu diminta untuk terlibat,” papar Brian.

Dalam waktu dekat, kementerian yang dipimpinnya akan mengundang para guru besar dan peneliti yang memiliki keahlian di bidang terkait seperti reklamasi, teknik pantai, dan rekayasa lingkungan.

Baca juga : Negosiasi AS-Iran Alot, Selat Hormuz Buka-Tutup

Para akademisi tersebut tidak hanya dilibatkan dalam kajian teknis, tetapi juga akan masuk langsung ke dalam tim pelaksana proyek. “Bahkan lebih dari itu, mereka akan dilibatkan langsung dalam tim yang dipimpin oleh Kepala Otorita Tanggul Laut,” pungkas Brian.

Seperti diketahui. Di awal kepemimpinannya, Presiden Prabowo menjadikan proyek Giant Sea Wall  sebagai prioritas strategis nasional. Proyek ini bertujuan untuk mengatasi banjir rob dan penurunan tanah.

Proyek senilai  Rp 1.298 triliun atau 80 miliar dolar AS ini direncanakan akan membentang sepanjang 500-700 km dari Banten hingga Gresik, Jawa Timur. Pembangunan proyek ini diperkirakan selesai dalam 15-20 tahun.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.