Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Harga Pertamax Tidak Naik, Migrasi Ke BBM Subsidi Harusnya Tidak Terjadi
Selasa, 21 April 2026 07:50 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Kenaikan harga BBM non-subsidi seperti Pertamax Turbo, Pertamina Dex, dan Dexlite dinilai tidak akan mendorong migrasi penggunanya ke BBM bersubsidi. Selain karena pemerintah tidak menaikkan harga Pertamax, karakteristik pengguna serta kebutuhan teknis kendaraan juga berbeda.
Hal itu disampaikan pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, kepada wartawan, Senin (20/4/2026).
Fahmy menilai, risiko peralihan konsumsi dari BBM non-subsidi ke BBM subsidi relatif kecil.
Menurut Fahmy, karakteristik pengguna BBM non-subsidi yang umumnya berasal dari kalangan pemilik kendaraan pribadi hingga mobil mewah membuat mereka sulit beralih ke BBM dengan oktan lebih rendah.
Baca juga : Kapalnya Disita Dan Ditembaki AS, Iran Tolak Kesepakatan Damai
“Risiko itu ada, tapi kecil. Selain faktor teknis mesin, harga Pertamax dan Pertamax Green juga tidak naik sehingga tidak mendorong peralihan secara signifikan,” kata Fahmy.
Ia menilai, kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM non-subsidi per 18 April 2026 merupakan langkah yang tepat. Pasalnya, harga BBM non-subsidi selama ini mengikuti pergerakan harga minyak dunia.
“Selama ini, harga BBM non-subsidi, khususnya RON 92 ke atas, memang mengikuti mekanisme pasar,” ujarnya.
Ia menjelaskan, ketika harga minyak global naik, harga BBM juga seharusnya ikut terdongkrak. Sebaliknya, harga bisa turun saat harga minyak dunia melemah, meski tidak selalu sebanding.
Baca juga : IHSG Galau Bergerak Merah-Hijau
Menurut Fahmy, penyesuaian harga BBM non-subsidi di Indonesia bahkan tergolong lebih lambat dibandingkan sejumlah negara lain. Sejak Maret 2026, negara seperti Singapura, Malaysia, India, hingga kawasan Eropa telah lebih dulu menaikkan harga BBM seiring lonjakan harga minyak mentah dunia.
Fahmy juga memastikan, kenaikan harga BBM non-subsidi tidak akan terlalu membebani masyarakat. Pasalnya, konsumsi BBM jenis ini relatif kecil dan tidak digunakan untuk sektor vital seperti distribusi bahan pokok. Selain itu, pemerintah juga tidak menaikkan harga Pertamax. Jika pun terjadi peralihan, sebagian konsumen diperkirakan akan beralih ke Pertamax.
“Konsumen BBM non-subsidi jumlahnya jauh lebih kecil dibanding pengguna Pertalite dan solar,” jelasnya.
Ia menegaskan, kondisi akan berbeda jika pemerintah menaikkan harga BBM subsidi seperti Pertalite dan solar. Kebijakan tersebut berpotensi memicu inflasi dan menekan daya beli masyarakat secara langsung. “Kalau Pertalite dan solar naik, dampaknya besar karena memicu inflasi. Jadi keputusan menaikkan BBM non-subsidi, tetapi menahan BBM subsidi, sudah tepat,” ujarnya.
Baca juga : Feriansyah: Persoalan Tata Kelola Juga Perlu Diperbaiki
Anggota Komisi VI DPR, Gde Sumarjaya Linggih mengapresiasi, komitmen Presiden Prabowo dalam menjaga harga BBM subsidi tetap stabil. Menurutnya, kebijakan tersebut memberi ruang bagi pelaku usaha untuk menyusun perencanaan bisnis secara lebih terukur di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya