BREAKING NEWS
 

Harga Kopi Dunia Naik, Kemlu Siapkan Tiga Strategi Dongkrak Ekspor

Reporter : DIANANDA RAHMASARI
Editor : MELLANI EKA MAHAYANA
Senin, 13 Juli 2026 08:24 WIB
Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI Arif Havas Oegroseno dengan delegasi pegiat Diplomasi Kopi Indonesia di Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Kamis (9/7/2026). (Foto Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kenaikan harga kopi dunia menjadi peluang yang harus dimanfaatkan Indonesia untuk meningkatkan daya saing sekaligus memperluas pasar ekspor. Namun, peluang tersebut dihadapkan pada tantangan penurunan produksi kopi nasional.

Hal itu menjadi pembahasan dalam pertemuan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI Arif Havas Oegroseno dengan delegasi pegiat Diplomasi Kopi Indonesia di Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Kamis (9/7/2026).

Delegasi yang hadir antara lain Wakil Ketua I Dewan Kopi Indonesia (Dekopi) A. Syafruddin, mantan Duta Besar RI untuk Swedia Bagas Hapsoro, Wakil Ketua III Dekopi Adi Haryono, serta Christieni Maria dari Kementerian Pertanian.

Dalam pertemuan tersebut, Bagas Hapsoro menyampaikan bahwa komunitas pegiat Diplomasi Kopi menyoroti tren kenaikan harga kopi dunia yang tidak diikuti peningkatan produksi dalam negeri. Kondisi itu dinilai perlu mendapat perhatian agar Indonesia tidak kehilangan peluang di pasar global.

A. Syafruddin menambahkan, masih terdapat sejumlah persoalan yang dihadapi sektor perkopian nasional, mulai dari hambatan ekspor hingga dampak perubahan iklim terhadap produktivitas kebun kopi.

Baca juga : Hari Anak Nasional, Regina Art Hadirkan Teater Musikal Ramah Autisme

Sementara itu, Adi Haryono menilai Indonesia masih menghadapi tantangan dalam menarik investasi asing langsung (Foreign Direct Investment/FDI), khususnya untuk pembangunan fasilitas pengolahan kopi modern.

Menurut dia, peningkatan produktivitas melalui modernisasi pertanian, program peremajaan tanaman (replanting), serta pelatihan petani harus berjalan seiring dengan upaya menarik investasi agar posisi kopi Indonesia semakin kuat di pasar internasional.

Dalam paparannya mengenai Outlook Kopi Indonesia, Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Teh dan Kopi, Direktorat Tanaman Semusim dan Tahunan, Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian Christieni Maria menjelaskan, Amerika Serikat, Mesir, Malaysia, dan Belgia masih menjadi empat tujuan utama ekspor kopi Indonesia.

Adsense

Ia menyebut Indonesia merupakan produsen kopi terbesar keempat di dunia pada 2024 dengan total produksi mencapai 12 juta bags (kantong). Satu kantong isinya sekitar 60kg. Produksi tersebut terdiri atas 2,1 juta kantong kopi arabika dan 9,9 juta kantong kopi robusta.

Sekitar 70 persen produksi kopi nasional merupakan robusta yang berasal dari Sumatra Selatan dan Lampung. Namun, pengembangan kopi arabika masih terkendala keterbatasan lahan.

Baca juga : Harry Kane Bangga Inggris Singkirkan Meksiko, Siap Tantang Norwegia

Pasalnya, sebagian besar  lahan berada di wilayah perbukitan dan pegunungan dengan topografi curam. Kondisi tersebut menyulitkan mekanisasi pertanian, meningkatkan biaya produksi, serta rentan terhadap erosi dan persoalan lingkungan.

Menanggapi berbagai tantangan tersebut, Wamenlu Arif Havas Oegroseno memaparkan tiga strategi utama untuk memperkuat daya saing kopi Indonesia sekaligus mendongkrak ekspor.

Strategi pertama adalah mempercepat program replantasi atau peremajaan kebun kopi rakyat yang sudah tua dan kurang produktif.

"Program hilirisasi tidak akan maksimal jika budi daya di hulu tidak optimal. Peremajaan menjadi langkah penting untuk memperkuat rantai nilai kopi," ujar Havas.

Strategi kedua, Kemlu mendorong pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI), microchip, dan citra satelit untuk memetakan lahan kopi secara digital. Pemetaan tersebut akan menjadi dasar penerbitan "paspor digital" berupa Surat Tanda Daftar Budi Daya agar kopi Indonesia memenuhi persyaratan regulasi bebas deforestasi Uni Eropa.

Baca juga : 10 Pemain Tiga Singa Singkirkan Meksiko

Strategi ketiga adalah memperluas pasar ekspor. Selain Amerika Serikat, Mesir, Malaysia, dan Belgia, Kemlu membidik Turki, kawasan Timur Tengah, serta Australia sebagai pasar potensial.

Menurut Havas, Turki memiliki posisi strategis sebagai pusat perdagangan yang menjangkau sekitar 500 juta konsumen, sementara Australia memiliki budaya konsumsi kopi premium dan letaknya relatif dekat dengan Indonesia.

Pertemuan tersebut ditutup dengan komitmen memperkuat koordinasi antara Kemlu, Kementerian Pertanian, Dekopi, dan para pegiat Diplomasi Kopi agar diplomasi kopi mampu meningkatkan daya saing produk Indonesia sekaligus memberikan manfaat yang lebih besar bagi para petani kopi.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense