RM.id Rakyat Merdeka - Ketegangan di Timur Tengah kian membara. Amerika Serikat (AS) terus menggempur wilayah Iran selama 3 hari berturut-turut. Setelah serangan itu, Presiden AS Donald Trump kini mengumumkan mau kuasasi Selat Hormuz dan memungut tarif 20 persen bagi setiap kapal yang melintas.
Trump resmi mengirim surat kepada Kongres AS yang berisi pemberitahuan bahwa Pentagon melanjutkan operasi militer terhadap Iran. Dalam surat bertanggal 10 Juli 2026 itu disebutkan serangan telah dimulai sejak 7 Juli.
"Ini tindakan militer yang konsisten dengan tanggung jawab saya untuk melindungi warga Amerika dan kepentingan Amerika, baik di dalam maupun luar negeri," demikian isi surat yang dikutip CBS News.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan gelombang serangan baru terhadap Iran yang dimulai pada Minggu (12/7/2026). "Komando Pusat AS mulai melancarkan lebih banyak serangan terhadap Iran untuk terus menurunkan kemampuan mereka menyerang pelaut sipil dan kapal komersial di Selat Hormuz," tulis CENTCOM melalui akun X.
Serangan tersebut menyasar sistem pertahanan udara Iran, radar pantai, fasilitas rudal, drone, hingga kapal-kapal cepat milik Iran. Operasi dilakukan menggunakan pesawat tempur, kapal perang, drone udara, dan drone laut.
CENTCOM juga menegaskan Iran tidak menguasai Selat Hormuz. "Selat Hormuz adalah koridor maritim yang sangat penting bagi perdagangan global. Iran tidak mengendalikannya," tegas CENTCOM.
Tak lama setelah serangan berlangsung, media Iran melaporkan ledakan terjadi di sejumlah wilayah strategis, termasuk Bandar Abbas dan Bushehr. Sedikitnya satu orang dilaporkan tewas dan empat lainnya terluka.
Baca juga : MBG On Lagi, Kualitasnya Harus Dijaga
Presiden Trump mengklaim, serangan berturut-turut yang dilancarkan militer AS berhasil menewaskan seluruh pemimpin dan komandan militer tertinggi Iran. Ia juga mengklaim bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, putra mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei sekaligus penerusnya, juga telah "90 persen lenyap."
Dalam wawancara dengan Fox News pada Senin (13/7), Trump mengatakan kemampuan militer Iran telah mengalami pelemahan yang sangat signifikan sejak digempur AS pada 28 Februari lalu.
"Mereka (Iran) tidak lagi memiliki angkatan laut. Mereka tidak lagi memiliki angkatan udara. Semuanya sudah hancur. Sistem pertahanan udara mereka juga sudah hancur. Para pemimpin mereka semuanya telah terbunuh," kata Trump dalam wawancaranya tersebut seperti dikutip Anadolu Agency.
"Pemimpin-pemimpin terbaik mereka telah terbunuh. Mereka sudah tiada. Khomeini sudah tiada," ujar Trump.
Setelah melumpuhkan Iran, Trump mengklaim militer AS telah mengambil alih Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi urat nadi perdagangan minyak dunia.
"Kami mengambil alih selat itu. Mereka tidak punya apa-apa. Kami akan menjadi penjaga selat itu," kata Trump seperti dikutip AFP, Selasa (14/7/2026).
Namun, Trump menegaskan pengamanan Selat Hormuz tidak akan dilakukan secara cuma-cuma. Menurutnya, negara-negara yang memanfaatkan jalur tersebut harus membayar biaya keamanan kepada Amerika Serikat.
Baca juga : Prancis Vs Spanyol, Perang Bintang Digelar di Texas
"Kami akan dibayar untuk menjaganya. Jumlahnya besar, tetapi kami hanya ingin mendapatkan penggantian biaya atas semua ini, atas risiko bahaya yang dihadapi militer kami," ujarnya.
Trump kemudian mengumumkan rencana mengenakan tarif sebesar 20 persen terhadap seluruh kargo yang melintasi Selat Hormuz. "Mulai saat ini, AS akan dikenal sebagai Penjaga Selat Hormuz. Namun demi keadilan, AS akan menerima penggantian biaya sebesar 20 persen dari nilai seluruh kargo yang dikirimkan, untuk menutupi segala biaya yang diperlukan dalam menjalankan tugas menjamin keselamatan dan keamanan di wilayah dunia yang sangat rawan konflik ini," tulis Trump melalui akun Truth Social, seperti dilansir Reuters.
Tak hanya itu, Trump juga mengumumkan blokade terhadap seluruh pelabuhan Iran.
Joint Maritime Information Centre (JMIC) yang dipimpin Angkatan Laut AS menyatakan blokade terhadap pelabuhan dan wilayah pesisir Iran mulai diberlakukan pada 14 Juli 2026 pukul 20.00 GMT atau 15 Juli pukul 03.00 WIB.
"Komando Pusat AS mengingatkan, semua kapal netral diperingatkan dan diberi waktu hingga dimulainya penegakan aturan untuk meninggalkan wilayah yang diblokade tersebut," demikian pernyataan JMIC yang dikutip Al Jazeera.
Blokade mencakup seluruh pesisir selatan Iran, termasuk pelabuhan dan terminal minyak. Meski demikian, JMIC memastikan kapal-kapal netral tetap diperbolehkan melintasi Selat Hormuz dan bantuan kemanusiaan dapat masuk setelah melalui pemeriksaan.
Pemerintah Iran langsung merespons pernyataan Trump dengan nada menyindir.
Baca juga : Jaksa Agung & Kapolri Sejak Dulu Bersahabat
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan tarif 20 persen terlalu mahal. Menurutnya, justru Iran selama ini yang menjaga keamanan pelayaran di Selat Hormuz.
"POTUS benar sekali. Siapa pun yang menjamin pelayaran aman dan terjamin bagi kapal-kapal komersial di Selat Hormuz patut mendapatkan imbalan atas layanan tersebut. Iran senantiasa menjadi penjaga selat ini dan akan tetap demikian. Tarif 20 persen tentu saja terlalu tinggi. Kami akan bersikap adil," tulis Araghchi melalui platform X, seperti dikutip Anadolu Agency dan First Post.
Kritik juga datang dari Presiden Brazil Luiz Inacio Lula da Silva. Menurut Lula, rencana Trump memungut biaya atas pelayaran di Selat Hormuz sama saja dengan aksi pembajakan.
"Dulu, itu disebut pembajakan. Negara besar seperti Amerika Serikat, yang saya yakini telah lama memerangi pembajakan, tidak bisa menjadi bajak laut sendiri sekarang," kata Lula, dikutip AFP.
Sebelumnya, Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz serta meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah negara Teluk sebagai balasan atas serangan terbaru Amerika Serikat. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) bahkan mengklaim berhasil menghancurkan sistem roket HIMARS milik AS yang ditempatkan di Kuwait.
IRGC juga mengklaim tiga tentara Amerika tewas dan beberapa lainnya terluka, meski klaim tersebut belum mendapat konfirmasi dari pihak AS.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.