Dark/Light Mode

Ramalan 3 Lembaga Dunia, Ekonomi RI Masih Tumbuh 5 Persen

Selasa, 14 Juli 2026 07:30 WIB
Ekonomi Indonesia diprediksi tumbuh pada 2027. (Foto: AI/Gemini)
Ekonomi Indonesia diprediksi tumbuh pada 2027. (Foto: AI/Gemini)

RM.id  Rakyat Merdeka - Prospek ekonomi Indonesia masih mendapat rapor positif dari lembagalembaga internasional. Meski dibayangi perlambatan ekonomi global, tiga lembaga dunia sama-sama memperkirakan ekonomi Indonesia di tahun ini akan tetap tumbuh di kisaran 5 persen. Sementara pemerintah mematok 5,5 sampai 6 persen pada 2026 dan 5,8-6,5 persen untuk tahun 2027. 

Prediksi pertama disampaikan Dana Moneter Internasional (IMF). Dalam laporan World Economic Outlook Update: Global Economy in Crosscurrents of War and Technology edisi Juni 2026, IMF memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5 persen pada 2026 dan meningkat menjadi 5,1 persen pada 2027. 

Proyeksi tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 yang mencapai 5,11 persen. IMF juga mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi global seperti yang dirilis pada April 2026. 

"Pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan mencapai 3 persen pada 2026 dan 3,4 persen pada 2027, lebih rendah dibandingkan rata-rata pertumbuhan sebesar 3,5 persen pada periode 2024-2025," tulis IMF dalam laporannya. 

Baca juga : Terima Amplop, Laporkan Ke Direktorat Gratifikasi

Prediksi kedua, disampaikan Bank Dunia. Melalui laporan Indonesia Economic Prospects edisi Juni 2026, Bank Dunia memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5 persen pada 2026 sebelum meningkat menjadi 5,2 persen pada 2027. 

Bank Dunia menilai perlambatan tersebut terjadi karena investasi dan ekspor masih menghadapi tekanan. Namun, konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah diperkirakan tetap menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi.

Konsumsi swasta diproyeksikan tumbuh sekitar 5 persen berkat berbagai stimulus fiskal pemerintah. Sementara konsumsi pemerintah diperkirakan melonjak hingga 8,7 persen. 

Meski demikian, Bank Dunia mengingatkan ketergantungan terhadap belanja pemerintah sebagai mesin pertumbuhan memiliki risiko tersendiri. "Mengingat ruang fiskal yang terbatas dan meningkatnya biaya subsidi di tengah aturan fiskal yang berlaku," tulis Bank Dunia. 

Baca juga : Yahya Zaini: Kemenaker Harus Aktif Kerjasama Dan Kolaborasi

Penilaian lebih rendah disampaikan Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD). Berdasarkan laporan OECD Economic Outlook, pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan lebih rendah dibanding dua lembaga sebelumnya. Laporan tersebut menyebut, produk domestik bruto (PDB) Indonesia tumbuh 4,7 persen pada 2026, lalu naik menjadi 5 persen pada 2027. 

OECD menilai kenaikan biaya energi dan ketidakpastian kebijakan akan membebani konsumsi rumah tangga maupun investasi. Selain itu, ekspor diperkirakan belum mampu menjadi motor pertumbuhan ekonomi. 

Lembaga tersebut juga memperkirakan pelemahan permintaan global terhadap komoditas ekspor Indonesia hanya akan diimbangi oleh penurunan impor akibat melambatnya permintaan domestik. 

Inflasi diperkirakan meningkat menjadi 3,4 persen pada 2026. Hal ini seiring naiknya harga energi dunia yang secara bertahap merambat ke dalam negeri. 

Baca juga : Elly Rosita Silaban: Harus Ada Target Penyerapan Kerja

Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto mengapresiasi proyeksi ketiga lembaga internasional tersebut. Menurutnya, prediksi itu, menjadi sinyal fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan kebijakan pemerintah berada di jalur yang tepat. 

Haryo menegaskan, pemerintah tetap optimistis target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen pada 2026 bisa tercapai. 
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.