RM.id Rakyat Merdeka - Masyarakat Indonesia di Cape Town, Afrika Selatan, merayakan HUT ke-81 Kemerdekaan RI dengan berbagai kegiatan.
KJRI Cape Town menggelar rangkaian kegiatan yang memadukan upacara bendera, olahraga, lomba khas 17 Agustus, diplomasi bahasa, hingga napak tilas sejarah bangsa di Afrika Selatan.
Puncak perayaan digelar pada 17 Agustus 2026 melalui upacara pengibaran bendera Merah Putih di halaman KJRI Cape Town.
Upacara berlangsung khidmat. Keluarga besar KJRI, diaspora Indonesia, masyarakat Indonesia, para Anak Buah Kapal (ABK), serta keluarga dan sahabat Indonesia di Cape Town turut ambil bagian.
Usai upacara, acara dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng oleh Konjen RI. Tradisi ini menjadi simbol syukur atas kemerdekaan sekaligus doa agar Indonesia terus maju, bersatu dan sejahtera.
Di balik perayaan tersebut, terselip pesan sejarah. Perjuangan bangsa Indonesia ternyata memiliki jejak kuat di Afrika Selatan.
Sejumlah tokoh Nusantara pernah diasingkan ke wilayah ini. Dua di antaranya adalah Syekh Yusuf Al-Makassari dan Abdullah bin Qadhi Abdussalam atau Tuan Guru.
Semarak kemerdekaan di Cape Town sebenarnya sudah dimulai sejak 19 Juli 2026. KJRI Cape Town menggelar Turnamen Bowling yang menjadi ajang silaturahmi masyarakat Indonesia di tanah rantau.
Semangat kebersamaan berlanjut melalui Turnamen Bulu Tangkis pada 26 Juli di John Tyres Hall.
Laga berlangsung penuh sportivitas. Reli demi reli, smash, dan sorak dukungan membuat suasana semakin meriah. Ajang ini sekaligus mempererat kekompakan diaspora Indonesia dan para ABK yang bekerja maupun singgah di Cape Town.
Baca juga : KJRI Cape Town Promosikan Indonesia di ASEAN Business Forum 2026 Afrika Selatan
Kemeriahan mencapai puncaknya pada 2 Agustus. Berbagai lomba khas 17 Agustus digelar, mulai dari baca puisi, balap karung, tarik tambang, tenis meja hingga perlombaan lainnya.
Gelak tawa dan sorak-sorai pun menggema. Suasananya seperti perayaan kemerdekaan di kampung halaman.
Menariknya, sejumlah peserta lomba baca puisi merupakan anak hasil perkawinan WNI dengan warga negara asing. Mereka mengikuti kelas Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) yang digelar KJRI Cape Town.
Keberanian mereka membacakan puisi dalam bahasa Indonesia menjadi bukti bahwa bahasa dan identitas Indonesia tetap bisa diwariskan meski generasi penerus lahir jauh dari Tanah Air.
Merdeka Lewat Bahasa Indonesia
Semangat kemerdekaan kemudian dilanjutkan dengan pembukaan kelas BIPA daring angkatan kesembilan pada sore 17 Agustus.
Program ini merupakan kerja sama KJRI Cape Town dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI. Kelas BIPA telah berjalan secara konsisten sejak 2022.
Bagi KJRI Cape Town, bahasa Indonesia bukan sekadar alat komunikasi. Bahasa juga menjadi identitas bangsa sekaligus jembatan yang menghubungkan Indonesia dengan masyarakat dunia.
Peminatnya pun datang dari berbagai penjuru dunia. Selain Afrika Selatan, peserta BIPA berasal dari Amerika Serikat, Ghana, Peru, Pakistan, Namibia, Uganda, Vietnam, Madagaskar, India, Nigeria, Botswana, Papua Nugini, Bangladesh, Inggris, Gambia, Rusia hingga Mozambik.
Mereka tak hanya belajar kosakata dan tata bahasa. Peserta juga diajak mengenal budaya, sejarah, tradisi dan kehidupan masyarakat Indonesia.
KJRI Cape Town juga memberikan perhatian kepada anak-anak WNI berkewarganegaraan ganda. Khususnya, anak hasil perkawinan WNI dengan warga negara asing yang belum lancar berbahasa Indonesia.
Baca juga : Aksi 30 Juni Di Afsel: Demonstrasi Meluas, Negara Berhasil Cegah Kerusuhan Besar
Program tersebut menjadi upaya menjaga hubungan mereka dengan Indonesia sekaligus menumbuhkan kebanggaan terhadap akar budaya Nusantara.
Ada Jejak Nusantara di Cape Town
Perayaan HUT RI di Cape Town semakin bermakna karena Afrika Selatan memiliki hubungan sejarah yang erat dengan Nusantara.
Negeri ini menjadi rumah bagi komunitas Cape Malay. Sebagian leluhur mereka berasal dari wilayah Indonesia dan tiba di Afrika Selatan sejak ratusan tahun lalu.
Populasi komunitas tersebut kini diperkirakan telah mencapai lebih dari 330 ribu orang.
Jejak Nusantara masih terlihat dalam bahasa dan tradisi Cape Malay. Sejumlah kata seperti puasa, buka puasa, lebaran dan terima kasih masih dikenal.
Tradisi ratieb juga memiliki kemiripan dengan tradisi debus di Indonesia. Semua itu menjadi bukti hubungan sejarah yang panjang antara Nusantara dan Afrika Selatan.
Hubungan tersebut bermula pada era Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC). Saat itu, Tanjung Harapan menjadi pos perdagangan sekaligus tempat perbekalan kapal yang berlayar antara Eropa dan Hindia Belanda.
Wilayah tersebut juga menjadi tempat pengasingan tokoh politik dan agama dari berbagai wilayah koloni, termasuk Nusantara.
Salah satu yang paling dikenal adalah Syekh Yusuf Al-Makassari dari Gowa.
Syekh Yusuf diasingkan ke Cape Town karena perjuangannya melawan penjajahan Belanda. Ia kemudian dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam perkembangan Islam di Afrika Selatan.
Baca juga : RI-Afsel Perkuat Kerja Sama Ekonomi, Bidik Sister City Surabaya-Mangaung
Perjuangannya juga menjadi inspirasi bagi gerakan perlawanan terhadap apartheid.
Pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Syekh Yusuf pada 1995. Pemerintah Afrika Selatan kemudian menetapkannya sebagai pahlawan nasional pada 2005.
Tokoh Nusantara lainnya adalah Abdullah bin Qadhi Abdussalam asal Tidore yang dikenal sebagai Tuan Guru.
Pada 1794, Tuan Guru membangun Masjid Auwal. Masjid tersebut dikenal sebagai masjid pertama di Afrika Selatan dan hingga kini masih digunakan masyarakat di kawasan Bo-Kaap, Cape Town.
Pada 2021, Pemerintah Afrika Selatan juga menetapkan sejumlah situs makam ulama asal Nusantara di Cape Town dan sekitarnya sebagai bagian dari warisan nasional.
Di antaranya makam Syekh Yusuf Al-Makassari di Macassar; Tuan Dea Koasa dan Tuan Ismail Dea Malela asal Sumbawa di Simon’s Town; Syekh Mohamed Hassen Ghailbie Shah dan Tuan Kaape-ti-low asal Jawa di Signal Hill; serta Abdurahman Matebe Shah dan Sayed Mahmud asal Sumatra Barat di Constantia.
Karena itu, peringatan HUT ke-81 RI di Cape Town bukan sekadar seremoni tahunan.
Perayaan ini menjadi momentum merawat persatuan diaspora, mengenalkan bahasa dan budaya Indonesia kepada dunia, sekaligus menghidupkan kembali jejak sejarah Nusantara di Afrika Selatan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.