BREAKING NEWS
 

Belajar Dari Iran: Indonesia Harus Unggul di Bidang Sains dan Teknologi

Reporter : HENDRAWAN KOSIM WIJAYA
Editor : OKTAVIAN SURYA DEWANGGA
Kamis, 27 Agustus 2026 15:09 WIB
Foto: Mandala Project.

RM.id  Rakyat Merdeka - Kemerdekaan sebuah bangsa tidak berhenti pada terbebasnya wilayah dari penjajahan. Kemerdekaan juga harus tercermin dalam cara berpikir, kebudayaan, penguasaan ilmu pengetahuan, hingga kemampuan mengembangkan teknologi secara mandiri.

Pandangan itu disampaikan Konselor Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Islam Iran, Yahya Jahangiri, dalam forum diskusi yang diselenggarakan Mandala Project di Kafe Gerak Gerik, Ciputat, Tangerang Selatan, Selasa (25/8/2026).

Diskusi tersebut digelar dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H dengan tajuk "Belajar dari Iran: Merawat Api Kemerdekaan 100%".

Yahya menekankan, sebuah bangsa tidak dapat disebut sepenuhnya merdeka apabila secara teritorial telah bebas, tetapi pola pikir, budaya, media, hingga sumber pengetahuannya masih bergantung kepada pihak lain.

Menurut dia, ketergantungan tersebut dapat melahirkan bentuk penjajahan baru yang tidak selalu terlihat secara kasatmata.

Ia menyoroti perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan mesin pencari seperti Google sebagai salah satu tantangan terhadap kemerdekaan berpikir.

Baca juga : Gebyar Kemerdekaan RI ke-81, KOWANI Dorong Perempuan Makin Berdaya Dan Mandiri

Menurut Yahya, teknologi seharusnya menjadi alat yang membantu manusia, bukan menggantikan kemampuan manusia dalam berpikir dan mengambil keputusan.

Ketergantungan terhadap teknologi, kata dia, berpotensi membuat manusia menerima informasi begitu saja tanpa melalui proses berpikir kritis.

"Kalau setiap pertanyaan yang kita ajukan langsung dijawab oleh AI atau Google, kita harus bertanya siapa yang menghasilkan pengetahuan tersebut dan siapa yang mengelola pikiran kita," ujarnya.

Yahya menilai ketergantungan berlebihan terhadap teknologi dapat melahirkan bentuk "perbudakan baru", ketika manusia mulai menyerahkan proses berpikirnya kepada mesin.

Yahya kemudian mengaitkan persoalan tersebut dengan pengalaman Iran dalam menjalankan Revolusi Islam.

Adsense

Menurutnya, revolusi tidak boleh dipahami semata-mata sebagai peristiwa politik ketika kekuasaan Shah Iran berakhir dan Imam Khomeini kembali ke Iran.

Baca juga : Dalam Perspektif Geopolitik: Membangun DKI Jakarta Menunaikan Kemerdekaan RI

Revolusi, kata dia, seharusnya dipandang sebagai proses panjang yang mencakup perubahan politik, ekonomi, sosial, budaya, ilmu pengetahuan, hingga teknologi.

Setelah keberhasilan Revolusi Islam Iran, tantangan berikutnya adalah membangun masyarakat dan manusia yang mampu mengembangkan negaranya.

Karena itu, semangat revolusi harus terus dilanjutkan melalui pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, pendidikan, dan kebudayaan.

Ia juga menekankan pentingnya "revolusi manusia", yakni perubahan kualitas manusia sebagai bagian dari proses pembangunan bangsa.

Dalam momentum Maulid Nabi Muhammad SAW, Yahya mengajak peserta melihat kembali perjuangan Nabi yang menurutnya tidak semata-mata berorientasi pada pembentukan wilayah atau negara.

Nabi, kata dia, terlebih dahulu membangun manusia dari individu ke individu. Karena itu, kemerdekaan yang sesungguhnya adalah kemerdekaan manusia dari berbagai bentuk perbudakan, termasuk perbudakan terhadap pikiran, teknologi, maupun berbagai "berhala" modern yang membuat manusia kehilangan kebebasan berpikir.

Baca juga : Gerindra Jaga Semangat Kemerdekaan, Pemerintah Fokus Sejahterakan Rakyat

Yahya juga menyinggung kontribusi kawasan Persia terhadap perkembangan peradaban Islam. Ia menyebut, sejumlah tokoh seperti Ibn Sina, Suhrawardi, Abdul Qadir al-Jilani, serta para ulama dan ilmuwan dari kawasan Persia yang memberikan kontribusi terhadap perkembangan tafsir, hadis, filsafat, tasawuf, dan ilmu pengetahuan.

Menurutnya, Indonesia dapat belajar dari pengalaman tersebut dengan mengembangkan ilmu agama sekaligus ilmu sosial, psikologi, sains, dan berbagai bidang pengetahuan lainnya tanpa terjebak dalam perdebatan sektarian.

Di akhir pemaparannya, Yahya menilai kekuatan terbesar sebuah negara pada akhirnya terletak pada rakyatnya.

Ia mencontohkan Iran yang menurutnya mampu bertahan menghadapi berbagai tekanan, embargo, dan konflik karena memiliki kekuatan sosial serta dukungan masyarakat.

Yahya menegaskan, demokrasi bukan hanya soal mendapatkan suara rakyat ketika pemilu, tetapi juga tentang memberikan perhatian kepada rakyat setiap hari.

Menurutnya, Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar memiliki potensi kekuatan sosial yang sangat besar apabila mampu menjaga persatuan dan meningkatkan kualitas manusianya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense