BREAKING NEWS
 

Erdogan Di PBB: Dunia Lebih Besar Dari Lima Negara

Reporter & Editor :
MELLANI EKA MAHAYANA
Rabu, 23 September 2026 23:32 WIB
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berpidato di Sidang ke-81 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat (AS).

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menggunakan panggung Sidang ke-81 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menyerukan reformasi tata kelola global.

Di hadapan para pemimpin dunia di New York, Amerika Serikat (AS), Selasa (22/9/2026), Erdogan menilai PBB semakin kesulitan menjalankan mandat utamanya dalam menjaga perdamaian dan keamanan dunia.

Berdasarkan naskah pidato yang diterima RM.id dari Kedutaan Besar Turki Jakarta, Rabu (23/9/2026), menurut Erdogan, salah satu persoalan utama terletak pada struktur Dewan Keamanan (DK) PBB yang memberikan kewenangan besar kepada lima negara anggota tetap.

“Dunia lebih besar dari lima,” tegas Erdogan, seraya menyerukan reformasi DK PBB agar lebih mencerminkan prinsip kesetaraan negara anggota. 

Erdogan menilai, sistem yang membuat kehendak lebih dari 190 negara bergantung pada keputusan lima negara, tak cukup untuk membangun kepercayaan terhadap sistem internasional.

“Jika kita sungguh-sungguh ingin meningkatkan kepercayaan terhadap Perserikatan Bangsa-Bangsa, langkah-langkah yang diperlukan sudah jelas,” ujarnya.

Soroti Penderitaan Gaza

Dalam pidatonya, Erdogan juga memberikan perhatian besar terhadap kondisi Palestina, khususnya Jalur Gaza. Ia menyampaikan keprihatinan atas ketidakhadiran Presiden Palestina Mahmoud Abbas dalam sidang Majelis Umum PBB selama dua tahun berturut-turut.

Erdogan mengatakan, meski Abbas tidak dapat hadir, Turki akan terus menyuarakan kemerdekaan Palestina dari podium PBB. Ia juga kembali menyerukan negara-negara yang belum mengakui Palestina agar mempertimbangkan kembali sikapnya. 

Erdogan kemudian menggambarkan kondisi Gaza sebagai salah satu tragedi kemanusiaan terbesar saat ini. Ia menyebut lebih dari 74.000 warga Gaza tewas dalam tiga tahun terakhir. Erdogan juga menyoroti tingginya jumlah anak yang menjadi korban serta penderitaan warga yang masih mencari anggota keluarga mereka di bawah reruntuhan.

Baca juga : Senayan Percepat Bahas RUU Pengendalian Perubahan Iklim

“Gaza saat ini bukan hanya kuburan anak-anak terbesar di dunia. Gaza juga merupakan wilayah dengan tingkat amputasi anak tertinggi di dunia,” katanya.

Dalam pidatonya, Erdogan juga menuduh Israel menjalankan apa yang disebutnya sebagai “mentalitas genosida”. Israel membantah tuduhan dan posisi politik Erdogan itu.

Erdogan menegaskan, Turki akan tetap mendukung berdirinya Negara Palestina berdasarkan perbatasan 1967, dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota.

Ia juga mendesak komunitas internasional meningkatkan tekanan terhadap Israel.

“Kita harus segera memulai rekonstruksi Gaza. Dalam hal ini, saya menyerukan kepada Anda semua untuk memberikan tekanan yang lebih besar kepada Israel,” tegasnya. 

Puluhan Konflik Di Dunia

Erdogan juga menyoroti konflik yang terjadi di berbagai belahan dunia. Menurut dia, 12 bulan terakhir menjadi salah satu periode paling berdarah dalam tiga dekade terakhir, dengan lebih dari 60 konflik dan perang.

Ia menyebut konflik di Gaza, Ukraina, Myanmar, Darfur, Iran dan Lebanon sebagai bagian dari krisis global yang telah menelan banyak korban. Karena itu, Erdogan menyerukan perubahan pendekatan dalam menyelesaikan konflik internasional.

Menurutnya, hukum internasional tidak boleh diterapkan secara berbeda kepada negara kuat dan negara lemah. Ia juga mendorong diplomasi terbuka, kerja sama regional, pembangunan bersama dan penguatan konektivitas antarnegara.

Adsense

Mengenai perang Rusia-Ukraina, Erdogan menyatakan harapannya agar konflik tersebut berakhir dengan tetap menghormati kedaulatan dan integritas wilayah Ukraina.

Baca juga : Menlu Sugiono Tiba di New York, Pimpin Delegasi RI pada SMU PBB ke-81

Turki, kata dia, akan terus berkomunikasi dengan pihak-pihak terkait untuk menjaga keamanan pelayaran di Laut Hitam, memperkuat ketahanan pangan dan mencegah konflik meluas.

Erdogan juga menyoroti pentingnya kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Sementara terkait Timur Tengah, Turki menyerukan penyelesaian berbagai persoalan melalui diplomasi dan hukum internasional.

Erdogan juga menyampaikan posisi Turki terhadap sejumlah konflik lain, termasuk di Suriah, Irak, Sudan, Somalia, Libya, Kaukasus Selatan dan Siprus.

Untuk Suriah, Erdogan mengatakan Turki akan terus mendukung rakyat Suriah dalam membangun negara yang aman dan damai.

Sedangkan di Irak, Ankara mendukung penguatan kewenangan negara dan stabilitas, termasuk melalui proyek strategis di bidang transportasi dan energi.

Erdogan juga mendukung upaya perdamaian antara Azerbaijan dan Armenia.

Di Asia Selatan, ia menyerukan agar berbagai sengketa, termasuk Kashmir, diselesaikan melalui dialog dengan mengacu pada Piagam PBB dan resolusi terkait.

Kerja Sama Hadapi AI Dan Perubahan Iklim

Pidato Erdogan tidak hanya membahas konflik dan geopolitik. Ia juga menyoroti perubahan iklim, ketimpangan ekonomi, pemborosan pangan, perkembangan kecerdasan buatan (AI), hingga disinformasi di media sosial.

Menurut Erdogan, perkembangan teknologi harus tetap berorientasi pada manusia. Ia menyerukan pembentukan kerangka hukum internasional bersama untuk mengatur kecerdasan buatan.

Baca juga : KEHATI Beri 7 Rekomendasi RUU Perubahan Iklim

Turki juga akan menjadi tuan rumah COP31 di Antalya pada November mendatang. Erdogan mengatakan forum tersebut akan menjadi kesempatan untuk mendorong penerapan nyata komitmen pendanaan dan transfer teknologi dalam menghadapi krisis iklim.

Menutup pidatonya, Erdogan mengatakan dunia kini menghadapi dua pilihan, yakni memperdalam ketidakpastian melalui ketakutan, konflik dan isolasi, atau membangun masa depan melalui keadilan, solidaritas dan kehendak bersama.

“Yang mudah adalah memukul kegelapan. Yang sulit adalah menyalakan lilin yang akan mengusir kegelapan,” kata Erdogan.

Perkuat Kongsi Strategis Turki-Qatar

Di sela-sela rangkaian Sidang Umum PBB, Erdogan bertemu Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani di Markas Besar PBB, New York. Pertemuan yang berlangsung tertutup itu membahas perkembangan regional dan global, termasuk situasi di Gaza, serta hubungan bilateral Turki-Qatar. 

Erdogan menekankan pentingnya tekanan kuat dari komunitas internasional untuk merespons situasi di kawasan, termasuk terkait perkembangan di Gaza.

Selain isu geopolitik, Ankara dan Doha membahas upaya memperluas kerja sama bilateral di berbagai sektor, terutama investasi, perdagangan, energi dan industri pertahanan.

Kedua negara juga menyoroti dampak gejolak di Timur Tengah terhadap pasokan energi. Karena itu, pengembangan koridor energi dan transportasi dinilai penting untuk memperkuat konektivitas dan ketahanan rantai pasok di kawasan.

Pertemuan tersebut turut dihadiri Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan, Menteri Energi dan Sumber Daya Alam Alparslan Bayraktar, Menteri Perdagangan Omer Bolat, Kepala Badan Intelijen Turki Ibrahim Kalin dan Kepala Badan Industri Pertahanan Turki Haluk Gorgun.

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense